HeloBorneo.com, Pangkalan Bun – Komunitas Dayak Tomun di Pangkalan Bun, Kotawaringin Barat, resmi mendirikan Sekolah Adat Basangiang. Peresmian ini ditandai dengan ritual sakral Banaik Sekolah Adat pada Rabu (1/7/2026), sebagai upaya pewarisan nilai, bahasa, adat, dan sejarah leluhur kepada generasi muda.
Ritual Banaik Sekolah Adat digelar di sebuah rumah sederhana di Kelurahan Baru, Pangkalan Bun. Ruangan dipenuhi aroma dupa yang bercampur wangi ayam panggang.
Berbagai sesajen disiapkan di atas tikar. Sesajen itu terdiri dari daun sangsabang berwarna merah keunguan, telur ayam kampung, beras, beras kuning, janur kuning, besi beliung, hingga tuak.
Ritual sakral tersebut dipimpin seorang mantir atau kepala adat. Ia melantunkan doa tolak bala dalam tradisi Kaharingan Dayak.
Setelah doa selesai, sesajen ditempatkan ke dalam ancak, wadah anyaman bambu. Kemudian dibawa menuju Pahobang.
Bagi masyarakat Dayak Tomun, Pahobang bukan sekadar bangunan beton persegi. Tempat sakral ini diyakini sebagai pelindung komunitas dan jembatan komunikasi dengan para leluhur.
Di dalamnya tersimpan benda pusaka dan kayu-kayu sakral yang dipercaya memiliki nilai spiritual tinggi. Keberadaan Pahobang menjadi simbol perlindungan bagi masyarakat adat dan wilayah tempat mereka hidup.
Prosesi adat ini sekaligus menandai dibukanya Sekolah Adat Basangiang. Sekolah ini diinisiasi komunitas Dayak Tomun bersama Pengurus Daerah Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Kotawaringin Barat.
Tujuannya adalah menjadi ruang pewarisan nilai, bahasa, adat, hingga sejarah leluhur kepada generasi muda.
Pengelola Sekolah Adat Basangiang, Martin Kukung, menjelaskan makna Basangiang. Kata itu berarti bernyanyi atau berlagu dalam berbagai suasana kehidupan masyarakat Dayak Tomun.
"Filosofi itu dipilih sebagai simbol bahwa budaya harus terus hidup dan diwariskan," ujar Martin Kukung, Rabu (1/7).
Martin menekankan pentingnya pendidikan anak-anak di rumah. Pendidikan tersebut menyangkut karakter, adat berbahasa, serta tata krama yang diajarkan leluhur.
Menurutnya, seni, agama, dan hukum adat Dayak merupakan satu kesatuan. Ketiganya tidak dapat dipisahkan.
"Ketika kita berbicara seni Dayak, otomatis kita juga berbicara agama Dayak dan hukum adat Dayak," katanya.
Martin juga mengungkapkan keprihatinannya terhadap memudarnya identitas Dayak Tomun di Pangkalan Bun. Ia menyebut tidak sedikit generasi muda yang tidak mengetahui asal-usul nama Pangkalan Bun.
"Padahal menurut sejarah, nama Pangkalan Bun berasal dari Pak Buun, tokoh Dayak Tomun yang menjadi cikal bakal kehidupan di daerah ini," tuturnya.
Ke depan, kurikulum Sekolah Adat Basangiang akan berfokus pada pendidikan berbasis budaya Dayak Tomun. Para peserta didik akan mempelajari berbagai tradisi.
Tradisi tersebut meliputi barayah atau berpantun, basangan atau bercerita, sejarah bangsa Dayak, hingga puribansa. Puribansa adalah tata krama dalam kehidupan masyarakat adat.
Sementara itu, Ketua AMAN Kotawaringin Barat, Mardani, menyambut baik berdirinya sekolah adat ini. Ini merupakan langkah penting menjaga pengetahuan leluhur yang diwariskan melalui kehidupan bersama alam.
"Leluhur kita dulu belajar langsung dari alam. Karena itu menjaga keseimbangan melalui prosesi dan nilai-nilai adat sangat penting untuk diteruskan kepada generasi berikutnya," kata Mardani.
Ia berharap Sekolah Adat Basangiang nantinya dapat berkolaborasi dengan Sekolah Adat Neak. Sekolah Adat Neak telah lebih dulu berdiri di Pangkalan Bun.
Menurutnya, kolaborasi kedua sekolah adat akan menjadi bukti keberagaman budaya dan tradisi. Hal itu menunjukkan mampu tumbuh berdampingan dalam semangat toleransi.
"Kita ingin membuktikan bahwa komunitas adat dengan beragam tradisi dan budayanya hidup dalam semangat toleransi," pungkas Mardani.
(sun/des)