HeloBorneo.com, Sebanyak 72 ekor harimau dilaporkan mati massal di dua fasilitas penangkaran di Chiang Mai, Thailand utara, antara 8 hingga 19 Februari 2026. Kematian tragis ini diduga kuat akibat infeksi ganda virus distemper anjing (CDV) dan bakteri Mycoplasma spp yang menyebabkan pneumonia berat.
Insiden kematian massal harimau di Thailand utara ini telah memicu investigasi mendalam dari pihak berwenang. Sebanyak 72 ekor harimau ditemukan mati di dua lokasi, yakni Mae Rim Tiger Kingdom di Chiang Mai dan fasilitas kedua di distrik Mae Taeng.
Para ahli menduga kuat penyebab kematian massal ini adalah infeksi virus. Sampel harimau yang mati positif terinfeksi virus distemper anjing (CDV), yang juga menyerang kucing liar besar, serta bakteri Mycoplasma spp penyebab penyakit pernapasan.
Menurut laporan Regional Kawasan Lindung 16 (Chiang Mai) yang dilansir The Nation, Minggu (22/2/2026), kematian ini terjadi antara 8 Februari dan 19 Februari. Rinciannya, 21 ekor harimau mati di Mae Rim dan 51 ekor di Mae Taeng.
Secara keseluruhan, diketahui terdapat 246 harimau yang dipelihara di fasilitas Tiger Kingdom di Mae Rim dan Mae Taeng, provinsi utara tersebut.
Infeksi ganda virus dan bakteri ini diyakini menyebabkan pneumonia berat dan komplikasi. Penyakit tersebut dapat menyerang sistem pernapasan dan pencernaan, bahkan berkembang ke sistem saraf.
Pihak berwenang menekankan bahwa CDV bukanlah penyakit zoonosis. Oleh karena itu, masyarakat tidak perlu khawatir tentang penularan virus ini ke manusia.
Sementara itu, para penyelidik juga menyebutkan beberapa faktor lain yang mungkin berkontribusi. Perkawinan sedarah di antara harimau penangkaran diduga melemahkan kekebalan tubuh mereka dan meningkatkan risiko infeksi.
Selain itu, perilaku alami harimau dapat menyulitkan deteksi gejala awal. Tanda-tanda penyakit seringkali baru terlihat jelas setelah kondisinya parah.