HeloBorneo.com, Pasukan Angkatan Laut China dan Rusia terdeteksi menggelar latihan tembak gabungan dengan senapan mesin di Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Jepang pada Minggu (19/7). Aktivitas militer ini memicu protes keras dari otoritas Tokyo kepada Beijing.
Menurut laporan media Jepang, insiden pada Minggu (19/7) itu menandai pertama kalinya Kementerian Pertahanan Jepang mendeteksi latihan tembak langsung oleh China di dalam ZEE mereka dan mengungkapkannya ke publik. ZEE sendiri berbeda dengan perairan wilayah Jepang.
Juru bicara utama pemerintah Jepang, Minoru Kihara, dilansir AFP, Selasa (21/7/2026), menyatakan Tokyo memandang latihan gabungan itu "bagian dari langkah kedua militer untuk memperkuat kerja sama mereka." Hubungan antara Tokyo dan Beijing diketahui memburuk sejak Perdana Menteri (PM) Jepang Sanae Takaichi memicu kemarahan China pada November tahun lalu. Hal ini disebabkan komentarnya mengenai Taiwan.
Berdasarkan data, pada Minggu (19/7), sebuah kapal perusak rudal kelas Luyang III milik Angkatan Laut China terlihat melakukan latihan bersama kapal Angkatan Laut Rusia. Lokasinya berada di perairan berjarak 180 kilometer sebelah barat daya Pulau Okinotori, wilayah paling selatan Jepang.
Sebelumnya, armada yang terdiri atas tiga kapal China dan sebuah kapal fregat Angkatan Laut Rusia pertama kali terlihat pada pukul 02.00 dini hari. Mereka berada di perairan berjarak 330 kilometer sebelah barat daya pulau tersebut, sedang bergerak ke arah timur laut.
Kihara menambahkan, pemerintah Jepang telah menyampaikan kepada otoritas China melalui saluran diplomatik bahwa latihan semacam itu "dapat membahayakan pelayaran kapal-kapal di sekitarnya." Sementara itu, aktivitas militer lainnya terdeteksi bulan lalu ketika Angkatan Udara China dan Rusia bersama-sama menerbangkan pesawat pengebom di atas perairan sekitar Jepang. Angkatan Laut kedua negara juga menggelar latihan gabungan bulan ini.
Latihan tembak langsung itu, sebut Kihara, mendorong Jepang untuk mengerahkan aset-aset udara dan laut. Pengerahan ini bertujuan untuk mengawasi serta memantau situasi. "Kami akan terus memantau dengan kekhawatiran setiap perilaku kapal-kapal China dan Rusia di perairan sekitar negara kami," ujarnya.
Situasi ini diketahui terjadi setelah kapal-kapal Penjaga Pantai Jepang dan China saling berhadapan di dekat pulau-pulau sengketa bulan ini. Masing-masing pihak mengklaim telah mengusir kapal-kapal pihak lainnya yang telah memasuki perairan teritorial mereka. Insiden tersebut terjadi di dekat pulau-pulau tak berpenghuni yang diklaim sebagai Senkaku oleh Jepang dan Diaoyu oleh China. Pulau-pulau ini terletak antara Taiwan dan Okinawa, dan menyebabkan ketegangan diplomatik selama beberapa dekade.