HeloBorneo.com, – Departemen Pertahanan Amerika Serikat (AS), Pentagon, dilaporkan mendekati sejumlah produsen mobil dan manufaktur lainnya. Tujuannya adalah untuk membantu meningkatkan produksi senjata di tengah menipisnya persediaan amunisi AS. Kondisi ini terjadi akibat keterlibatan AS bersama sekutunya, Israel, dalam perang melawan Iran sejak akhir Februari lalu.
Washington DC – Informasi ini diungkapkan oleh media terkemuka AS, Wall Street Journal (WSJ), pada Rabu (15/4). Laporan tersebut mengutip sejumlah sumber yang memahami situasi terkini. Selanjutnya, berita ini dilansir oleh Reuters dan Anadolu Agency pada Jumat (17/4/2026).
Menurut laporan WSJ, para pejabat Pentagon telah melakukan pembicaraan dengan produsen mobil besar. Di antaranya adalah General Motors dan Ford Motor. Sejumlah manufaktur lain juga diajak bicara untuk mengisi kembali persediaan amunisi yang berkurang.
WSJ melaporkan bahwa pemerintahan Presiden AS Donald Trump menginginkan produsen mobil memainkan peran lebih besar dalam produksi militer. Pembicaraan mengenai hal ini disebut sudah dimulai sebelum perang melawan Iran berkecamuk. Pejabat Pentagon telah bertemu dengan CEO General Motors Mary Barra dan CEO Ford Motor Jim Farley.
GE Aerospace dan produsen kendaraan serta mesin, Oshkosh, juga termasuk perusahaan yang terlibat dalam pembicaraan. Berdasarkan sumber yang dikutip WSJ, perang terhadap Iran dan dukungan untuk Ukraina telah mengurangi persediaan amunisi AS. Oleh karena itu, Pentagon mempertimbangkan untuk melibatkan perusahaan otomotif dalam proses produksi.
Para pejabat pertahanan AS menuturkan bahwa produsen mobil Amerika mungkin dibutuhkan untuk mendukung kontraktor pertahanan tradisional. Mereka juga ditanyai apakah dapat dengan cepat beralih ke pekerjaan pertahanan. Sementara itu, Reuters tidak dapat segera memverifikasi laporan tersebut secara independen.
Pihak General Motors, Ford Motor, GE Aerospace, dan Oshkosh belum memberikan tanggapan langsung atas laporan WSJ. Seorang pejabat Pentagon yang tidak disebut namanya, saat berbicara kepada Reuters, menegaskan komitmen mereka. "Departemen Pertahanan AS berkomitmen untuk memperluas basis industri pertahanan secara cepat," ujarnya.
Ia menambahkan, hal ini dilakukan "dengan memanfaatkan semua solusi dan teknologi komersial yang tersedia untuk memastikan para prajurit perang kita mempertahankan keunggulan yang menentukan." Diketahui, sejak invasi Rusia ke Ukraina pada tahun 2022 dan serangan Israel ke Jalur Gaza pada tahun 2023, AS telah mengerahkan pasokan senjata senilai miliaran dolar. Pasokan tersebut mencakup sistem artileri, amunisi, dan rudal anti-tank.
Bulan ini, Presiden Trump juga meminta penambahan anggaran militer besar-besaran sebesar US$ 500 miliar. Anggaran tersebut akan menjadi US$ 1,5 triliun, di tengah perang AS melawan Iran.