7 Penyebab Infertilita...

7 Penyebab Infertilitas pada Pria yang Sering Tidak Disadari

Ukuran Teks:

Kehamilan yang belum terjadi bukan semata-mata berkaitan dengan kesehatan reproduksi perempuan. Faktor pria juga dapat berperan, baik sebagai penyebab utama maupun bersamaan dengan faktor pada pasangan. Sayangnya, masalah kesuburan pria sering terlambat diketahui karena tidak selalu menimbulkan keluhan.

Pria yang memiliki gairah seksual, ereksi, dan ejakulasi normal tetap dapat mengalami gangguan jumlah, pergerakan, atau bentuk sperma. Karena itu, mengenali 7 penyebab infertilitas pada pria yang sering tidak disadari dapat membantu pasangan mencari pemeriksaan yang tepat tanpa saling menyalahkan.

Apa yang Dimaksud dengan Infertilitas pada Pria?

Infertilitas umumnya didefinisikan sebagai belum tercapainya kehamilan setelah 12 bulan berhubungan seksual secara teratur tanpa kontrasepsi. Pada pria, kondisi ini dapat berkaitan dengan produksi sperma, kualitas sperma, maupun proses keluarnya sperma melalui saluran reproduksi.

Infertilitas tidak selalu bersifat permanen. Sebagian penyebab dapat ditangani, sementara kondisi lainnya mungkin memerlukan bantuan teknologi reproduksi. Perlu diingat, faktor-faktor berikut tidak otomatis membuat setiap pria menjadi infertil; pengaruhnya berbeda pada setiap orang.

7 Penyebab Infertilitas pada Pria yang Perlu Dikenali

1. Varikokel yang Tidak Menimbulkan Keluhan

Varikokel adalah pelebaran pembuluh darah vena di dalam skrotum, yaitu kantong pembungkus testis. Kondisi ini dapat mengganggu lingkungan yang dibutuhkan untuk pembentukan sperma, termasuk pengaturan suhu testis.

Sebagian pria merasakan pegal atau melihat pembuluh darah menonjol, tetapi banyak yang tidak mengalami gejala. Tidak semua varikokel mengganggu kesuburan atau memerlukan operasi. Dokter akan mempertimbangkan hasil pemeriksaan fisik, analisis sperma, dan kondisi pasangan sebelum menentukan penanganan.

2. Gangguan Hormon Reproduksi

Produksi sperma diatur oleh kerja sama hormon dari otak dan testis. Gangguan pada hipotalamus, kelenjar pituitari, atau testis dapat mengacaukan proses tersebut. Peningkatan hormon prolaktin dan beberapa gangguan tiroid juga dapat memengaruhi fungsi reproduksi.

Keluhannya bisa berupa penurunan gairah seksual, gangguan ereksi, atau perubahan rambut tubuh, tetapi dapat pula tidak jelas. Pemeriksaan hormon dilakukan sesuai temuan klinis, bukan sekadar berdasarkan rasa lelah atau dugaan kekurangan testosteron.

3. Infeksi pada Organ Reproduksi

Infeksi tertentu, termasuk infeksi menular seksual seperti klamidia dan gonore, dapat menyebabkan peradangan pada saluran reproduksi. Pada sebagian kasus, peradangan meninggalkan jaringan parut yang menghambat perjalanan sperma. Infeksi yang mengenai testis juga dapat mengganggu produksi sperma.

Gejala yang mungkin muncul meliputi nyeri saat buang air kecil, keluarnya cairan dari penis, atau nyeri skrotum. Namun, beberapa infeksi tidak bergejala. Pengobatan infeksi penting, meskipun tidak selalu dapat memulihkan kerusakan yang sudah terjadi.

4. Sumbatan Saluran Sperma atau Gangguan Ejakulasi

Sperma harus melewati saluran reproduksi sebelum keluar bersama cairan semen. Sumbatan akibat jaringan parut, tindakan operasi tertentu, atau kelainan bawaan dapat menghambat proses ini meskipun testis masih menghasilkan sperma.

Gangguan ejakulasi juga dapat berperan. Pada ejakulasi retrograd, cairan semen masuk ke kandung kemih alih-alih keluar melalui penis. Kondisi ini dapat berkaitan dengan diabetes, operasi tertentu, atau obat-obatan. Air mani yang tampak sedikit perlu dinilai, tetapi volumenya saja tidak menentukan kesuburan.

5. Paparan Panas Berulang dan Bahan Berbahaya

Pembentukan sperma membutuhkan suhu testis yang lebih rendah daripada suhu inti tubuh. Paparan panas berlebihan dan berulang, misalnya sering berendam air sangat panas atau bekerja di lingkungan bersuhu tinggi, dapat menurunkan kualitas sperma pada sebagian pria.

Paparan pestisida, pelarut tertentu, dan logam berat juga berpotensi memengaruhi kesehatan reproduksi, bergantung pada jenis serta besarnya paparan. Namun, penurunan parameter sperma tidak selalu berarti seseorang pasti infertil. Gunakan perlindungan kerja dan diskusikan paparan rutin dengan dokter.

6. Merokok, Konsumsi Alkohol Berlebihan, dan Obesitas

Merokok berkaitan dengan penurunan kualitas sperma dan peningkatan kerusakan materi genetik sperma. Konsumsi alkohol berat dapat mengganggu hormon serta fungsi testis. Sementara itu, obesitas dapat memengaruhi keseimbangan hormon dan berhubungan dengan gangguan kesuburan.

Ketiganya merupakan faktor risiko yang sering dianggap tidak mendesak karena dampaknya tidak langsung terasa. Memperbaiki kebiasaan hidup dapat mendukung kesehatan reproduksi, tetapi bukan jaminan kehamilan dan tidak menggantikan pemeriksaan bila pasangan sudah memenuhi kriteria evaluasi infertilitas.

7. Penggunaan Testosteron, Steroid Anabolik, atau Obat Tertentu

Testosteron dari luar tubuh dan steroid anabolik untuk pembentukan otot dapat menekan sinyal hormon yang diperlukan testis untuk menghasilkan sperma. Akibatnya, jumlah sperma bisa turun sangat rendah, bahkan tidak ditemukan dalam cairan semen.

Beberapa obat dan terapi, seperti kemoterapi tertentu, juga dapat memengaruhi kesuburan. Jangan menghentikan obat resep sendiri. Sampaikan rencana memiliki anak kepada dokter agar manfaat, risiko, alternatif terapi, dan kemungkinan penyimpanan sperma dapat dibahas bila diperlukan.

Kapan Sebaiknya Memeriksakan Kesuburan?

Pasangan sebaiknya menjalani evaluasi setelah 12 bulan mencoba tanpa kontrasepsi. Jika pasangan perempuan berusia 35 tahun atau lebih, evaluasi dianjurkan setelah enam bulan. Pemeriksaan dapat dilakukan lebih cepat bila ada riwayat testis tidak turun, cedera atau operasi testis, kemoterapi, maupun gangguan ereksi atau ejakulasi.

Evaluasi awal pada pria biasanya meliputi wawancara medis, pemeriksaan fisik, dan analisis sperma. Hasil yang tidak normal sering perlu dikonfirmasi melalui pemeriksaan ulang karena karakteristik sperma dapat berubah. Tes hormon, pencitraan, atau pemeriksaan genetik dilakukan bila ada indikasi.

Langkah Awal untuk Menjaga Kesuburan Pria

  • Berhenti merokok dan hindari steroid anabolik tanpa indikasi medis.
  • Batasi alkohol, jaga berat badan sehat, dan lakukan aktivitas fisik teratur.
  • Kurangi paparan panas berlebihan serta gunakan alat pelindung sesuai risiko pekerjaan.
  • Cegah infeksi menular seksual dan periksakan keluhan pada organ reproduksi.
  • Hindari mengandalkan suplemen peningkat kesuburan tanpa evaluasi medis.

Kesuburan adalah persoalan bersama, bukan ukuran kejantanan atau kesalahan salah satu pasangan. Pemeriksaan pada kedua pihak membantu menemukan penyebab dan memilih langkah penanganan yang paling sesuai.

Bagaimana perasaanmu membaca artikel ini?

Bagikan:
Artikel berhasil disimpan