27 January, 2023

HeloBorneo.com

Kabar dari Tanah Borneo

Waspada Jajanan Junk Food! Anak Indonesia Terancam Kelebihan Lemak Hingga Gula Darah Tinggi

Jajanan junk food memang tidak baik bila terlalu sering. Terlebih bila dikonsumsi secara berlebihan oleh anak-anak Indonesia. Ada beberapa ancaman penyakit bila berlebihan mengonsumsinya.

_______________________________________

jajanan junk food
Jajanan junk food memang tidak baik bila terlalu sering. Terlebih bila dikonsumsi secara berlebihan oleh anak-anak Indonesia. Ada beberapa ancaman penyakit bila berlebihan mengonsumsinya. | HeloBorneo.com — Kentang goreng. (Foto : Eat This)

 

JAKARTA | Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr Piprim Basarah Yanuarso, SpA(K), mengatakan bahwa saat ini penyakit sindrom metabolik sudah mengintai banyak anak-anak di Indonesia.

Salah satu penyebabnya adalah pola makan yang kurang baik dengan sumber asupan yang tinggi gula dan lemak seperti pada junk food.

Piprim menilai bahwa makanan yang kurang sehat tersebut cenderung mudah didapatkan anak sehingga semakin sering dikonsumsi.

Padahal, permasalahan gizi pada anak Indonesia sudah cukup rumit, ditambah dengan munculnya masalah sindrom metabolik di usia muda.

Tak Hanya di Indonesia Jajanan junk food Masalah Global

“Masalah junk food itu masalah global. Tekanan industri makanan itu luar biasa. Di minimarket snack-snack yang dikonsumsi betul-betul tinggi gula dan lemak trans yang sangat inflamatif. Ini yang seiring meningkatnya kasus sindrom metabolik meningkat,” ujar Piprim dalam Media Briefing virtual bersama Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (PP IDAI), Selasa 17 Januari 2023.

Yang disebut dengan sindrom metabolik ditandai dengan meningkatnya gula darah, tekanan darah tinggi dan kolestrol, serta kelebihan lemak di seputar pinggang.

Sebuah diagnosis sindrom metabolik termasuk di antaranya indeks massa tubuh (BMI) yang tinggi, sebuah pengukuran berat seseorang relatif terhadap tinggi badannya.

Seseorang dengan indeks massa tubuh yang tinggi dan gejala-gejala metabolik lainnya beresiko lebih tinggi untuk mengidap penyakit jantung dan diabetes.

Tak heran, Piprim kerap mendapati penyakit-penyakit terkait sindrom metabolik kini banyak dialami usia muda, bahkan remaja.

“Anak obesitas (berdampak pada) diabetes, hipertensi, itu sudah mulai terjadi di usia remaja yang tadinya pada anak lebih besar. Ini udah mulai banyak sindrom metabolik pada remaja. Biasanya pada orang yqng sudah tua. Diabetes melitus tipe 2 biasanya penyakit orang dewasa sekarang udahh banyak anak-anak kena. Pola makan pada anak saya kira sangat penting,” jelasnya.

Pentingnya Pola Makan Sehat

Piprim pun mempertegas teorinya bahwa junk food sangat berkaitan dengan kondisi sindrom metabolik yang mengintai anak.

Seperti pada penyakit tekanan darah tinggi atau hipertensi, seharusnya menjadi penyakit akibat penuaan yang justru terjadi di usia muda.

Maka, Piprim mengimbau pentingnya kembali pada pola makan sehat dengan minim pengolahan.

“Anak remaja banyak hipertensi padahal itu kan lenyakit ageing yang dipercepat, (disebabkan) salah satunya karena pola makan. Selain gaya hidup sedenter tapi pola makan juga perlu diperhatikan. (Solusinya) Real food resolusi atau makanan yang dimasak sendiri,” jelasnya.

Makanan ‘asli’ yang dimaksud adalah dengan pengolahan yang sehat dan hanya satu kali pengolahan. Seperti kentang yang direbus dan segera dikonsumsi anak, alih-alih menggorengnya atau bahkan menjadikannya keripik.

“Kentang rebus masih indeks glikemik rendah, beda dengan keripik kentang yang sudah bikin obesitas. Real food biasanya akan kompleks karbohidrat, lauk hewani ada gabungan lemak dan protein. Gizinya lengkap ketika bekali anak dengan real food. Misal dengan omelet, telor ceplok, ikan goreng, apapun makanan rumahan yang anti stunting dan antiobesitas,” jelasnya.

Menambah Beban Masalah

Piprim menyoroti permasalahan gizi yang menjadi beban ganda di Indonesia antara stunting dan obesitas. Piprim menjelaskan, stunting terjadi akibat kurang gizi sehingga mengakibatkan penyakit kronis.

Sementara, obesitas akibat kelebihan gizi yang berdampak pada penyakit sindrom metabolik. Maka, pola makan, jenis, dan pengolahan makanan yang bijak dari orangtua sangat berperan pada anak.

“Lauknya juga dimasak secara tradisional dibuat opor, pepes, jangan dikasih tepung lalu digoreng. Itu bisa masalah lagi karena ningkatkan kadar gula darahnya,” tandasnya. (sumber: VIVA) (*[HeloBorneo.com]



Bagi artikel ini