1 October, 2020

HeloBorneo.com

Kabar dari Tanah Borneo

Waspada! Beberapa Kasus, Pasien Covid-19 Tak Menyadari Ini

3 min read
pasien covid-19
HeloBorneo.com – Ilustrasi (HB)

PONTIANAK | Kasus yang dialami pasien covid-19 tidak selalu sama gejalanya. Kadang jelas terlihat, namun, tidak sedikit yang hanya memiliki gejala ringan, taua bahkan tanpa gejala.

Organisasi Kesehatan Dunia, yaitu World Health Organization (WHO), belum lama ini melaporkan bahwa sekitar 80 persen infeksi virus covid-19, bersifat ringan, bahkan tanpa menunjukkan gejala sakit. Sementara, sebanyak 15 persen pasien mengalami infeksi parah dan membutuhkan oksigen. Lalu, sisanya sebanyak 5 persen pasien yang terinfeksi sampai dengan tahap kritis yang membutuhkan bantuan ventilator untuk bernapas.

Pasien Covid-19 Tak Sadari Gejala di Tubuhnya

Besarnya jumlah persentase pasien yang tidak menunjukkan gejala jelas harus menjadi kewaspadaan di masyarakat. Karena, awalnya hanya berupa infeksi ringan atau tanpa gejala, dan hal-hal ini seringkali dianggap remeh oleh penderita virus corona  ini. Ketidaksadaran dan cenderung meremehkan kondisi menjadi penyebab utama infeksi virus corona menjadi kian parah, dan butuh waktu lama untuk sembuh, bahkan sampai ada  yang tidak tertolong. Belum lagi bila si pasien menjadi sumber penularan karena ketidaktahuan, atau ketidakpeduliannya.

Padahal, mendeteksi dini gejala merupakan faktor penting untuk memutus rantai penularan virus corona. Termasuk dengan memantau setiap kondisi secara hati-hati, merasakan segala ketidaknyamanan yang mungkin dirasakan oleh tubuh kita.

Waspada Gejala Sesak Napas

pasien covid-19
HeloBorneo.com – Ilustrasi (HB)

Bilamana seseorang terjangkit virus covid-19, ada kemungkinan si pasien ini juga menderita pneumonia covid. Ini akan menggelembungkan kantung udara di paru-paru, sehingga terisi dengan cairan atau nanah.

Jika kasus seperti ini terjadi, pasien akan mulai merasakan sesak napas dan kesulitan bernapas. Berdasarkan kejadian di lapangan, kasus-kasus kritis yang diakibatkan oleh virus corona ini biasanya membutuhkan oksigen.

Tapi sayangnya, gejala-gejala pada pasien kritis seperti itu tidak selalu nampak Banyak contoh kasus dimana pasien tanpa gejala juga menderita kadar oksigen darah yang sangat rendah atau hipoksia tanpa disadari. Hal ini bisa saja terjadi lantaran pada tahap awal menderita penyakit ini, saturasi oksigen rendah namun tidak memiliki masalah pernapasan yang jelas.

Kadar Oksigen Tipis Dapat Berakibat Fatal

Kadar oksigen yang semakin menipis dalam tubuh pasien tanpa gejala ini perlahan akan berakibat fatal. Pada akhirnya, kondisi ini dapat menyebabkan henti jantung. Pasalnya, sebagian besar pasien tanpa gejala tidak mendapatkan gejala yang jelas dari konsentrasi rendah kadar oksigen. Hal ini membuat langkah pemantauan saturasi oksigen dengan cermat pada tahap awal penyakit menjadi sangat penting.

Pasien covid-19 tanpa gejala biasanya tidak menyadari adanya penipisan oksigen, karena saat sedang menderita virus inipun mereka dapat bernapas dengan nyaman. Namun, mereka mungkin akan mengalami kebingungan, gangguan kerja psikomotorik dan bahkan euforia, yang dikaitkan dengan kekurangan oksigen di dalam tubuh.

Butuh Pengecekan Kadar Oksigen

Agar dapat mengecek penurunan kadar oksigen yang lambat, butuh alat bernama oksimetri nadi. Ini adalah alat kecil yang ditempelkan pada jari seseorang untuk mengukur persentase oksigen dalam darah dan detak jantung. Biasanya, saturasi oksigen seseorang (SpO2) sekitar 94 – 96 persen dan menjadi perhatian ketika mulai turun di bawah 92 persen.

Karena pasien covid-19 tanpa gejala mungkin secara bertahap sudah terbiasa dengan konsentrasi lambat tingkat oksigen dalam tubuh, pulse oximeter dapat berguna ketika tingkat konsentrasi oksigen mulai menurun. Ini membantu pasien menyediakan pasokan oksigen tepat waktu sebelum kritis, bahkan membantu deteksi dini pneumonia COVID ketika ada gejala minor.

Memiliki pulse oximeter akan berguna karena dapat membantu mendapatkan bantuan tepat waktu, bahkan jika kamu merasa sedikit tidak enak badan dan memiliki gejala ringan, seperti demam, kelelahan, dan lain-lain. Dengan membeli alat ini, mungkin berguna jika pasien juga menderita tekanan darah tinggi, diabetes, dan memiliki kondisi paru-paru serta jantung kronis lainnya. Orang dengan kondisi-kondisi tersebut termasuk dalam kategori berisiko tinggi terpapar covid-19. Walau memiliki alat ini, penggunaannya pun harus dengan bimbingan dokter untuk mendapatkan hasil yang akurat serta mencegah kepanikan yang tidak perlu.

Segera Periksa ke Dokter

Namun, melakukan pengecekan tingkat saturasi oksigen saja tidak cukup. Penting untuk diingat, bila seseorang mengalami gejala atau mulai merasa sesak napas, maka sangat disarankan agar segera berkonsultasi dengan dokter.

Pasien covid-19 perlu mendapatkan pasokan saturasi oksigen yang cukup. Dan, jika pasien dapat terus menjaga tingkat saturasi oksigen yang baik pada oksimeter denyut nadi, tentu hal tersebut dapat mencegah pengobatan untuk gejala lain covid-19 ini. (*) [HeloBorneo.com]

Bagi artikel ini
  • 4
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    4
    Shares