30 September, 2020

HeloBorneo.com

Kabar dari Tanah Borneo

Muslim Tak Salat Jumat 3 Kali Saat Pandemi Covid-19? Ini Penjelasan MUI

3 min read
Muslim Tak Salat Jumat 3 Kali
HeloBorneo.com – Sekretaris Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Asrorun Niam Sholeh. (Foto: CNN Indonesia/Andry Novelino)

JAKARTA | MUI coba mencairkan polemik seputar muslim tak salat Jumat 3 kali saat pandemi covid-19. Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengatakan pria muslim yang menggugurkan kewajiban salat Jumat tiga kali berturut-turut di kala pandemi virus corona (Covid-19) tak lantas digolongkan kafir jika muslim bersangkutan menggantinya dengan melaksanakan salat zuhur di rumah.

Dilansir dari Antara, Sekretaris Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Asrorun Niam Sholeh mengatakan pria muslim yang tidak salat Jumat untuk menghindari wabah penyakit itu mengalami udzhur syar’i atau segala halangan sesuai kaidah syariat Islam yang menyebabkan seseorang boleh untuk tidak melakukan kewajiban atau boleh menggantikan kewajiban itu dengan kewajiban lain.

“Menurut pandangan para ulama fikih (ilmu hukum agama) udzhur syar’i untuk tidak salat Jumat antara lain karena sakit atau karena khawatir mendapatkan sakit. Nah, dalam kondisi ketika berkumpul dan berkerumun itu diduga kuat akan terkena wabah atau menularkan penyakit, maka itu menjadi udzhur untuk tidak Jumatan (salat Jumat),” demikian keterangan Asrorun, Kamis (2/4) malam seperti dikutip dari Antara.

Bila Meninggalkan Karena Mengingkari Kewajiban

Asruron lantas menjelaskan, pria muslim yang meninggalkan salat Jumat karena meremehkan atau mengingkari kewajiban Jumat tiga kali berturut-turut sebagaimana dinukil dari hadis sahih bisa dikategorikan kafir.

“Perlu disampaikan bahwa hadis yang menyatakan kalau tidak salat Jumat selama tiga kali berturut-turut dihukumi kafir itu, jika mereka ingkar pada kewajiban Jumat,” ujarnya.

Bila Meninggalkan Karena Malas

Pria yang juga Dosen Pascasarjana Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini mengatakan ada juga pria muslim yang tidak salat Jumat karena malas. Mungkin pria muslim itu meyakini kewajiban Jumat, kata Asrorun, tapi tidak melakukannya sebab malas tanpa adanya udzhur syar’i. Ganjarannya, sambung Asrosun, pria muslim itu berdosa atau ‘ashin (melakukan maksiat).

“Jika tidak Jumatan tiga kali berturut tanpa udzhur, Allah juga mengunci mati hatinya,” kata dia.

Bila Berada di Kawasan Zona Merah Corona

Kemudian, bagaiman bila berada di kawasan zona merah corona? Bagi seseorang yang berada di kawasan yang potensi penularan wabah Covid-19 tinggi atau sangat tinggi, dibolehkan mengganti salat Jumat dengan salat zuhur di rumah.

Fatwa tersebut dikeluarkan karena hingga kini pandemi Covid-19 masih belum bisa dikendalikan karena potensi penularan dan tingkat risiko penyebarannya masih tinggi. “Karena itu, udzhur untuk meninggalkan salat Jumat masih ada,” tegas Asrorun.

Kisah di Saat Terjangkit Wabah Lepra

Asrorun lalu mengutip kitab Asna al-Mathalib yang menyebutkan orang yang terjangkit wabah lepra dan penyakit menular lainnya dicegah untuk berjamaah ke Masjid dan sholat Jumat, juga bercampur dengan orang-orang yang sehat.

Ia juga menyebut dalam kitab al-Inshaf yang menyatakan udzhur yang dibolehkan meninggalkan shalat Jumat dan jamaah adalah orang yang sakit.

“Hal itu tidak ada perbedaan pandangan di kalangan ulama. Termasuk udzhur juga. Apabila yang dibolehkan meninggalkan salat Jumat dan jemaah karena takut terkena penyakit,” kata Asrorun merujuk pada kitab-kitab tersebut.

Pandemi Covid-19 Menjadikan Udzhur Untuk Tidak Jumatan

Oleh karena itu, kata dia, dapat disimpulkan bahwa kondisi wabah Covid-19 menjadikan udzhur bagi pria muslim untuk tidak Jumatan. Pasalnya, saat wabah itu ada yang sakit, ada yang khawatir akan sakitnya. Kekhawatiran menularkan penyakit ke orang lain, serta ada orang yang khawatir tertular penyakit dari orang lain.

“Selama masih ada udzhur, maka masih tetap boleh tidak Jumatan. Dan baginya tidak dosa. Kewajibannya adalah mengganti dengan shalat zuhur,” kata Asrorun.

Selain sakit, ada beberapa udzhur syar’i lain yang dibolehkan meninggalkan Jumat. Beberapa di antaranya hujan deras yang menghalangi menuju masjid, lalu karena adanya kekhawatiran akan keselamatan diri, keluarga, atau harta. Alasan-alasan tersebut juga membuat seseorang dibolehkan tidak salat Jumat asal mengganti kewajibannya dengan salat zuhur. (*) [HeloBorneo.com]

Bagi artikel ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •