17 April, 2021

HeloBorneo.com

Kabar dari Tanah Borneo

Mengenal Pandemic Fatigue dan Cara Mengatasinya

3 min read

Fenomena Pandemic fatigue, atau kelelahan akibat pandemi yang telah berlangsung selama setahun mulai membayangi masyarakat. Hal ini perlu dihindari karena bila membiarkannya justru akan memberikan dampak negatif bagi kesehatan diri sendiri dan kesehatan masyarakat.

_____________________________________________

pandemic fatigue
Pandemic Fatigue perlu dihindari karena bila membiarkannya justru akan memberikan dampak negatif bagi kesehatan diri sendiri dan kesehatan masyarakat.HeloBorneo.com — Ilustrasi: Pandemic Fatigue (Foto: Shutterstock)

 

PONTIANAK | Setahun hidup bersama dengan pandemi COVID-19 membuat sebagian masyarakat mulai demotivasi untuk mengikuti protokol kesehatan yang dianjurkan, hal ini dikenal dengan istilah pandemic fatigue.

Selama satu tahun penuh masyarakat Indonesia hidup di tengah pandemi dan terus berusaha beradaptasi dalam segala hal, mulai dari cara bersosialisasi hingga kesadaran mengenai gaya hidup bersih dan sehat. Akan tetapi, situasi yang tidak menentu ini belum jelas kapan akan berakhir sehingga membuat masyarakat mulai kelelahan.

Sebagaimana dilansir dari Antara, Sosiolog Universitas Indonesia, Daisy Indira Yasmine, S.Sos., M.Soc.Sci, mengatakan
bahwa pandemic fatigue merupakan rasa jenuh terhadap perubahan aktivitas selama pandemi COVID-19 yang bisa dialami oleh siapa saja.


pandemic fatigue
HeloBorneo.com — Ilustrasi: Pandemic Fatigue (net)

 

Pandemic fatigue pun tidak muncul secara terus-menerus, melainkan datang dan pergi sesuai dengan pengalaman yang dirasakan seseorang dalam pandemi COVID-19.

“Bisa kadang-kadang sebulan mulai jenuh, mulai lalai sama protokol kesehatan tapi kalau dengar informasi atau berita baru mulai takut lagi, bisa dari waktu ke waktu dan tiap orang beda,” kata Daisy dalam acara virtual “Refleksi Setahun Pandemi: Masyarakat Semakin Abai atau Peduli”, Senin (22/3/2021).

Daisy mengatakan seseorang yang mengalami pandemic fatigue biasanya karena merasa sudah sangat bosan dan cenderung pasrah terhadap keadaan. Orang tersebut sudah tidak peduli lagi akan terkena COVID-19 atau tidak.

“Ada juga efek dari pandemi fatigue ini yang justru jadi stres karena tekanannya terlalu kuat untuk melakukan perubahan, terus tidak bisa menjalani hidup kemudian tidak jelas kapan akan berakhir, ini malah akan mengganggu kesehatan mentalnya akhirnya,” ujar Daisy.

Pandemi fatigue sendiri sebenarnya adalah situasi yang sudah terduga atau terprediksi terutama saat terjadi krisis kesehatan publik yang berlarut-larut sehingga menyebabkan kejenuhan sosial.

Dalam merefleksikan satu tahun pandemi COVID-19 khususnya di Indonesia, masyarakat sudah mengalami pandemic fatigue. Hal ini ditandai dengan naik-turunnya angka kasus positif COVID-19. “Sekarang lagi turun, nanti bisa naik lagi. Itu tanda bahwa kita sudah punya gelombang pandemic fatigue,” kata Daisy.

“Orang Indonesia itu kan paling enggak bisa itu masa-masa liburan, hari-hari ibadah, itu yang paling sulit untuk mempertahankan protokol kesehatan karena lebih mengutamakan relasi keluarga, kegembiraan, kesenangan sehingga prokesnya terabaikan,” imbuh Daisy.


pandemic fatigue
HeloBorneo.com — Ilustrasi pandemic fatigue (Foto: Shutterstock)

 

Cara Mengatasi Pandemic Fatigue

Pandemic fatigue atau demotivasi untuk mengikuti protokol kesehatan yang dianjurkan karena rasa jenuh terhadap pandemi COVID-19 harus segera diatasi dan hal ini membutuhkan kerjasama antara pemerintah dan masyarakat.

Sosiolog Universitas Indonesia, Daisy Indira Yasmine, S.Sos., M.Soc.Sci. mengatakan masyarakat rentan mengalami pandemic fatigue akibat rasa jenuh yang tinggi terhadap situasi yang tidak menentu.

Masyarakat yang awalnya patuh dan waswas tertular virus corona secara bertahap mulai santai dan cuek terhadap protokol kesehatan. Hal ini tentunya akan berakibat pada naiknya angka kasus COVID-19 yang kini mulai menurun.

Untuk menghadapinya, diperlukan regulasi yang berfokus pada manusia atau masyarakat, melakukan penelitian dan pengumpulan data untuk membuat kebijakan sesuai dengan kelompok sasaran, jadi tidak dipukul rata.

“Semua kebijakan berbasis data/riset, tidak bisa pukul rata harus disesuaikan dengan kondisi masyarakat. Misalnya utk lansia bagaimana, untuk kaum muda bagaimana media komunikasi yang tepat,” papar Daisy.

Untuk menghindari pandemic fatigue, anggota masyarakat juga harus dilibatkan dalam mencari solusi atau merancang kebijakan, bukan hanya sekadar sebagai obyek yang harus patuh.

Harus ada perubahan gaya hidup

Selain itu, menurut Daisy harus ada perubahan gaya hidup, perubahan perilaku serta sistem nilai baru yang disesuaikan dengan pandemi.

“Kita harus open untuk berubah, yang penting juga adalah bagaimana manusia tetap bisa menjalankan kehidupan sehari-hari tapi mengurangi risiko tertular dan kebijakan tidak bisa ekstrem, memahami kesulitan hidup yang dihadapi anggota masyarakat,” kata Daisy.

Sementara itu, pandemi COVID-19 sangat mempengaruhi ketahanan sebuah keluarga, hal ini terkait dengan masalah ekonomi, sosial, masalah relasi antar anggota keluarga, perubahan peran, tumbuh kembang anak serta masalah fisik dan mental.

Untuk membangun ketahanan keluarga, fokus tidak hanya sekadar beradaptasi terhadap perubahan yang terjadi, tapi juga untuk tumbuh menjadi keluarga yang kuat.

“Kurangi sumber beban yang negatif atau stressful, memikirkan aktivitas anak, memberi jeda agar tidak hanya belajar, tambah hal-hal yang positif, bangun relasi yang suportif. Tetap berinteraksi online juga mengurangi pandemic fatique,” ujar Daisy.

Selain itu, sebisa mungkin untuk memberikan ruang pada kemampuan masing-masing individu, khususnya dalam hal skill managing daily life. Tujuannya agar keluarga semakin kuat dan berdaya di masa pandemi. (*) [HeloBorneo.com]

Bagi artikel ini
  • 3
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    3
    Shares