17 May, 2022

HeloBorneo.com

Kabar dari Tanah Borneo

Wakil Ketua DPR: Pembangunan IKN Harus Jadi Momentum Penggerak dan Pemerataan Ekonomi

Pembangunan IKN semakin mendapat dukungan penuh dari berbagai kalangan. Kegiatan besar ini sudah sepatutnya menjadi momentum yang dapat menggerakkan pemerataan kegiatan pembangunan di seluruh wilayah di Tanah Air.

_____________________________________________

pembangunan ikn, rachmat gobel, wakil ketua dpr
Pembangunan IKN semakin mendapat dukungan penuh dari berbagai kalangan. Kegiatan besar ini sudah sepatutnya menjadi momentum yang dapat menggerakkan pemerataan kegiatan pembangunan di seluruh wilayah di Tanah Air. | HeloBorneo.com — Wakil Ketua DPR RI Rachmat Gobel. (Foto: Azka/Man/DPR)

 

JAKARTA | Wakil Ketua DPR RI Rachmat Gobel mendukung penuh pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) yang sudah ditetapkan di Kalimantan Timur. Momentum tersebut harus menjadi upaya untuk menggerakkan dan pemerataan perekonomian dalam negeri. Gobel mengingatkan jangan sampai APBN justru akan dinikmati orang asing.

Berdasarkan keterangan yang diterima HeloBorneo.com, Rachmat Gobel ,mengemukakan 3 hal terkait pembangunan Ibu Kota Negara (IKN). “Ada tiga hal penting dari pembangunan IKN ini, khususnya untuk kemajuan dan pemerataan ekonomi serta perbaikan kehidupan sosial dan lingkungan hidup,” ucap Gobel dalam keterangannya, Kamis (20/1/2021).

3 Hal penting pembangunan IKN

Pertama, ungkap Gobel, pembangunan Ibu Kota Negara akan berpotensi memiliki dampak positif bagi kawasan Indonesia Timur. Menurutnya, kawasan ini selama ini paling tertinggal di segala lini, seperti pendidikan, infrastruktur, kualitas sumberdaya manusia, dan juga dalam bidang ekonomi.

Lima wilayah termiskin ada di Indonesia timur, yaitu secara berurutan adalah Papua, Papua Barat, Nusa Tenggara Timur, Maluku, dan Gorontalo. “Dengan perpindahan ibukota diharapkan bisa memperbaiki keadaan secara lebih cepat,” ujarnya.

Faktor jarak ibu kota yang akan lebih dekat, katanya, berpotensi memperbaiki mobilisasi penduduk, perhatian, kepedulian, dan distribusi barang serta jasa. “Nanti kita lihat saat pembangunan, apakah tenaga kerja dan dukungan material akan berpengaruh atau tidak,” terang Gobel.

Adanya perpindahan ibu kota ini diharapkan akan memperbaiki ketimpangan ekonomi dan ketimpangan wilayah yang selama ini lebih dinikmati di wilayah barat. “Dengan perpindahan ibu kota baru ini, diharapkan terjadi redistribusi yang selama ini begitu sulit dilakukan. Kita optimistis ke depan akan terjadi akselerasi pembangunan dan kemajuan di Indonesia timur,” tutur Wakil Ketua DPR ini.

Mengurangi beban di Pulau Jawa

Selanjutnya, Gobel juga menyoroti beban sosial dan lingkungan hidup di DKI Jakarta dan Pulau Jawa secara umum juga sudah terlalu berat. “Masalah kriminalitas, pencemaran lingkungan, dan kerusakan alam sudah demikian berat di Jakarta dan Jawa secara umum. Dengan memindahkan magnet, maka distribusi penduduk diharapkan bisa lebih merata. Hal ini akan mengurangi beban sosial dan beban lingkungan di Jakarta dan Jawa pada umumnya. Kita harus membantu dan menyelamatkan Jawa,” terangnya.

Menggerakkan ekonomi dan gairah investasi

Kemudian yang tak kalah pentingnya, sambung Gobel pembangunan IKN akan membutuhkan biaya yang sangat besar, bisa ratusan triliun rupiah. Ini momentum untuk menggerakkan ekonomi dalam negeri dan menggairahkan investasi serta industri dalam negeri. Diharapkan, besi, semen, instalasi listrik, peralatan elektronik, cat, batu, dan sebagainya akan menggunakan produk dalam negeri.

Proses pembangunan IKN akan terus dipantau

Pimpinan DPR RI Koordinator Bidang Industri dan Pembangunan itu akan memantau apakah ketentuan tentang Tingkat Komponen Dalam Negeri akan diterapkan atau tidak. “Jangan sampai APBN kita justru akan dinikmati orang asing, karena kita tak konsekuen dan tak memiliki nasionalisme yang mencukupi,” tegasnya.

Persoalan pemihakan terhadap produk dan industri dalam negeri, tambah Gobel, seringkali hanya manis di mulut. Namun pada praktiknya, justru sering jauh panggang dari api. Inilah salah satu faktor penyebab deindustrialisasi sehingga membuat investor enggan datang ke Indonesia.

“Mending jika barangnya lebih bagus. Besi produksi Krakatau Steel itu bagus, tapi berapa banyak yang diserap dibandingkan besi impor? Ini yang bikin sedih dan ironis. Banyak contoh lainnya. Nasionalisme kita cuma untuk jualan politik, tapi praktiknya rapor merah,” kilahnya.

Gobel berharap pembangunan IKN menjadi pembuktian praktik nasionalisme Indonesia. (*) [HeloBorneo.com]

Bagi artikel ini