25 February, 2021

HeloBorneo.com

Kabar dari Tanah Borneo

Wacana Hukuman Mati Koruptor Bagi Edhy dan Juliari, Abraham Samad: KPK Perlu Pertimbangkan

2 min read

Wacana hukuman mati koruptor mendapatkan dukungan mantan Ketua KPK setelah Wamenkumham Edward Omar Sharif Hiariej mengemukakan perihal itu untuk menghukum Edhy Prabowo dan Juliari Batubara.

_____________________________________________

hukuman mati koruptor
Mantan Ketua KPK Abraham Samad. (Foto: ANTARA FOTO/Reno Esnir/nz)

 

JAKARTA | Mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Abraham Samad menyambut baik wacana hukuman hukuman mati untuk dua mantan menteri yakni, Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo dan Menteri Sosial (Mensos) Juliari P Batubara agar dapat memberikan efek jera bagi koruptor di Tanah Air.

Edhy Prabowo sendiri merupakan tersangka suap izin ekspor benih lobster. Sedangkan Juliari Batubara tersangka kasus dugaan suap terkait bantuan sosial (Bansos) COVID-19 untuk Jabodetabek 2020.

“Hukuman mati itu kan memberi efek jera ya. sehingga orang tidak akan berani lagi melakukan tindakan-tindakan korupsi yang merugikan banyak pihak,” ujar Abraham Samad kepada wartawan, Rabu (17/2/2021).

Abraham menilai wacana Wamenkumham Edward Omar Sharif Hiariej yang biasa disapa Eddy Hiariej terkait hukuman mati koruptor itu perlu dipertimbangkan oleh KPK.

_____________________________________________

Berita terkait: Wamenkumham Sebut Edhy Prabowo dan Juliari Batubara Pantas Dituntut Hukuman Mati

_____________________________________________

 

“Jadi menurut saya apa yang disampaikan itu perlu dipertimbangkan oleh KPK ya untuk memberikan tuntutan hukuman mati kepada kedua orang ini, agar supaya memberikan efek kepada pelaku pelaku korupsi agar supaya orang tidak berani lagi melakukan korupsi masa sekarang ini,” katanya.

Terkait lamanya KPK dalam mentersangkakan pihak-pihak lain yang diduga terlibat, Abraham menyebut bahwa lembaga antikorupsi itu memang harus fokus terhadap kedua mantan menteri itu.

“Kalau menurut saya harus konsentrasi dulu kepada tersangkanya sekarang. Enggak bisa langsung ke sana. Karena kalau langsung ke sana kan nanti bisa kesulitan alat bukti. Jadi menurut saya KPK harus konsentrasi saja kepada tersangka dulu,” jelasnya.

Selain itu, Abraham juga berharap KPK harus jeli terhadap para tersangka dalam hal penerapan tindak pidana pencucian uang khususnya yang dilakukan Edhy Prabowo.

“Berarti itu perlu juga mempertimbangkan itu. Karena di KPK sudah jarang menerapkan itu. Perlu dipertimbangkan lah perlu dipertimbangkan menurut saya. Kembali kepada KPK dari hasil penyelidikannya. Kalau memang hasil penyelidikannya memungkinkan untuk menerapkan pencucian uang, ya harus diterapkan juga,” pungkasnya. (Sumber: Okezone) (*) [HeloBorneo.com]

 

Bagi artikel ini
  • 5
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    5
    Shares