Sat. Sep 19th, 2020

HeloBorneo.com

Kabar dari Tanah Borneo

Susi Pudjiastuti Berduka Tanggapi Effendi Gazali Soal Lobster

3 min read
Susi Pudjiastuti Berduka
HeloBorneo.com – Ilustrasi Sampel benur lobster jenis pasir. (Foto: Kompas/Pandu Wiyoga)

JAKARTA | Susi Pudjiastuti berduka dan kecewa terkait komentar Effendi Gazali soal lobster. Sebagaimana diketahui, Susi adalah Menteri Kelautan dan Perikanan di Kabinet Kerja Pemerintahan Jokowi-JK periode 2014-2019 lalu. Selama menjabat sebagai menteri, Susi Pudjiastuti sangat keras menegakkan kebijakan yang melindungi nelayan. Termasuk menenggelamkan kapal asing pencuri ikan serta melarang ekspor benih lobster.

Salah satu alasan pelarangan ekspor benih lobster yaitu agar dapat melindungi hewan tersebut dari kepunahan. Selain itu, juga demi memberikan nilai ekonomis yang lebih tinggi dan bermanfaat bagi nelayan bila menjual lobster dewasa yang memang harganya jauh lebih mahal.

Sayangnya, kebijakan pro nelayan itu tak berbekas saat ini. Salah satu kebijakan yang sedang disosialisasikan oleh pihak Kementerian Kelautan dan Perikanan saat ini, yaitu rencana untuk membuka kembali keran ekspor benih lobster.

Dikutip dari Kompas, Senin (10/2/2020) lalu, Ketua Komisi Pemangku-Kepentingan dan Konsultasi Publik Kementerian Kelautan dan Perikanan (KP2-KKP), Effendi Gazali mengemukakan bahwa lobster memproduksi telur yang sangat banyak. Larva lobster pun sangat banyak, sehingga kecil kemungkinannya spesies tersebut bisa punah.

Menurutnya, telur lobster di Indonesia mencapai 26,9 miliar ekor per tahun, sedangkan larva lobster 24,7 miliar ekor per tahun. Adapun jika berlanjut menjadi benih lobster, diperkirakan sebanyak 12,3 miliar per tahun. โ€Jadi, jangan lagi ada yang mengatakan (lobster) ini bisa punah,โ€ ujarnya.

Dianggap Membelokkan Opini

Pernyataan Effendi Gazali tentang lobster itu lantas mengundang reaksi. Salah satu komentar tentang pendapat itu datang dari Susi Pudjiastuti. Melalui akun media sosialnya di twitter, @susipudjiastuti, Susi mengunggah komentar yang mengingatkan agar tidak memanfaatkan keilmuan untuk membelokkan pandangan demi keuntungan tertentu saja.

“Jangan pernah kita berpikir dan menjustifikasi dengan Ilmu yang kita belokkan hanya untuk keuntungan hari ini. Kita ambil dan habiskan Warisan Sumber Daya Laut anak cucu cicit kita. Tidak boleh dan tidak boleh, kita tidak berhak mengambilnya hari ini, karena itu milik mereka,” ujarnya di komentar tersebut, Selasa (11/2/2020) lalu.

Pada komentar sebelumnya, Susi juga mengajak netizen bahwa sudah saatnya meninggalkan eksploitasi ekstraktif. Menurutnya, hal itu penting untuk menjaga keberlanjutan hingga generasi berikutnya. “Keberlanjutan harus jadi tiang rumah industri eksploitasi Sumber Daya Alam, terutama SDA yang renewable. Yang bisa bertambah banyak terus menerus bila kita jaga. Ingat Generasi Bangsa ini masih harus ada sampai beribu generasi kemudian,” jelas Susi.

Berduka

Lebih lanjut, Susi Pudjiastuti mengatakan dirinya berduka melihat sosok dengan titel keilmuan yang menurutnya tinggi lantas menggunakannya untuk menjadi pembenaran terkait rencana ekspor benih lobster. “Keilmuan tinggi seorang guru besar, Doktor, dalam menjustifikasi, memperlihatkan, meninggikan, membenarkan, Ignorances (ketidakpedulian – Red) untuk Pembenaran Ekspor Bibit Lobster,” tegasnya.

Unggahan-unggahan tersebut memancing reaksi berupa komentar dari ratusan netizen tentang hal tersebut.

Memancing Polemikย 

Sebagaimana diketahui, rencana pemerintah untuk membuka ekspor benih lobster secara ketat dan terbatas memancing polemik. Diantara yang tidak menyetujui rencana itu, karena dikhawatirkan akan menutup upaya pengembangan budidaya lobster di dalam negeri.

Kementerian Kelautan dan Perikanan memang berencana untuk menghapus larangan penangkapan benih lobster berbobot kurang dari 200 gram atau berukuran panjang karapas kurang dari 8 sentimeter. Penangkapan benih lobster diizinkan untuk kepentingan budidaya di dalam negeri serta sebagian boleh diekspor secara ketat, terkendali, dan terbatas.

Rencana membuka keran ekspor benih lobster merupakan bagian dari revisi 29 peraturan di lingkup kementerian kelautan dan perikanan yang dinilai menghambat usaha perikanan.

Gelar Forum Konsultasi Publik

Kementerian Kelautan dan Perikanan menggelar forum konsultasi publik dengan tema โ€Arah Baru Kebijakan: Bergerak Cepat untuk Kesejahteraan, Keadilan dan Keberlanjutanโ€. Acara ini Komisi Pemangku-Kepentingan dan Konsultasi Publik Kementerian Kelautan dan Perikanan (KP2-KKP) pada Rabu (5/2/2020).

____________________

Baca juga:ย  Susi Air Buka Rute Samarinda-Muara Wahau

____________________

Kegiatan tersebut sebagai upaya sosialisasi dan konsultasi publik tentang rencana membuka penangkapan benih lobster untuk budidaya dan ekspor secara terbatas.

Hadir di acara tersebut, Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo mengatakan bahwa mekanisme ekspor benih lobster belum diputuskan. Keputusan jadi atau tidaknya masih menunggu hasil konsultasi publik. โ€Kita lakukan usaha berdasarkan prinsip keberlanjutan, tetapi pertumbuhan ekonomi kita kejar,โ€ jelasnya. (*) [HeloBorneo.com]

Bagi artikel ini
  • 3
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    3
    Shares