22 November, 2020

HeloBorneo.com

Kabar dari Tanah Borneo

Soal Harga Vaksin COVID-19, Bio Farma Jamin di Kisaran Rp200 Ribu per Dosis

2 min read
Ilustrasi vaksin corona (Foto : U-Report)

JAKARTA | Pihak Bio Farma memastikan harga untuk vaksin COVID-19 di Indonesia tidak akan memberatkan pemerintah.

Demikian disebutkan oleh Direktur Utama Bio Farma, Honesti Basyir. Dirinya menyebutkan kisaran harganya hanya sekitar Rp200 ribu per dosis.

Lebih lanjut, Honesti mengungkapkan hal ini sebagai tanggapan atas pemberitaan yang menyatakan bahwa Sinovac sudah menandatangani kontrak pengadaan vaksin dengan Brazil. Disebutkan, bahwa Sinovac akan menjual vaksin tersebut dengan harga US$1,96 per dosis.

Melalui keterangan tertulisnya, Selasa (13/10/2020), Honesti memberikan klarifikasi atas pemberitaan yang marak beredar itu.

“Kami telah klarifikasi ke pihak Sinovac yang memastikan bahwa kontrak pembelian 46 juta dosis dengan nilai kontrak US$90 juta dengan harga US$1,96 per dosis bagi pemerintah Brazil, itu tidak tepat,” jelasnya.

Honesti mengatakan, dalam pemberitaan sebelumnya yang menyebut bahwa Brazil akan mendapatkan harga per dosis vaksin lebih murah itu jelas tidak mungkin. Pasalnya, biaya pengirimannya setiap dosisnya saja mencapai sekitar US$2. Pihak Sinovac pun tengah menelusuri asal usul informasi terkait pemberitaan itu.

“Intinya, Bio Farma berkomitmen untuk mendukung upaya pemerintah menghadirkan vaksin COVID-19 dengan harga yang terjangkau, untuk memberi perlindungan bagi penduduk Indonesia,” lanjut Dirut Bio Farma itu.

Dalam surat resmi yang disampaikan oleh Sinovac, Honesti mengatakan bahwa dalam penentuan harga vaksin COVID-19, terdapat sejumlah faktor yang menentukan harga vaksin tersebut.

Salah satunya adalah tergantung soal investasi pada studi klinis fase III, terutama di tahap uji efikasi dalam skala besar. Perihal penentuan harga vaksin COVID-19 di Indonesia, tentunya akan mengikuti prinsip-prinsip tersebut.

“Dengan kata lain, skema pemberian harga vaksin COVID-19 tidak dapat disamakan,” kata Honesti.

Karenanya, untuk menjaga dan menjamin kualitas vaksin COVID-19 mulai dari bahan baku dan lain sebagainya, BPOM dan LP POM MUI akan terbang ke Sinovac China untuk visit audit proses pengembangan dan produksi vaksin corona pada fasilitas Sinovac di Beijing, China.

BPOM juga akan memastikan fasilitas dan proses produksi vaksin COVID-19 di Bio Farma memenuhi standar Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) atau Good Manufacturing Practice (GMP).

Saat ini, lanjut Honesti, uji klinis fase III vaksin COVID-19 masih berjalan di minggu kedua Oktober 2020. Data terakrhir menunjukan sampai dengan 9 Oktober 2020, 843 relawan yang sudah mendapat penyuntikan kedua, dan 449 relawan dalam tahap pengambilan darah pasca penyuntikan kedua/masuk periode monitoring.

“Hingga saat ini, uji klinis tahap III berjalan lancar dan belum ada dilaporkan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) serius akibat pemberian suntikan calon vaksin COVID-19,” pungkasnya. (*) [HeloBorneo.com]

Bagi artikel ini
  • 4
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    4
    Shares