18 November, 2020

HeloBorneo.com

Kabar dari Tanah Borneo

Prabowo-Megawati Bersahabat Sejak Lama, Ini Muasalnya

3 min read
heloborneo.com - megawati-prabowo
HeloBorneo.com – Megawati dan Prabowo (Foto: detik/Grandyos Zafna)

HeloBorneo.com – JAKARTA | Banyak yang tidak menyangka, bahwa dua sosok yang dari kacamata orang awan mungkin terlihat bermusuhan ini ternyata telah bersahabat sejak lama. Bagaimana tidak? Mengacu pada proses Pemilihan Presiden 2019 baru lalu yang berlangsung sangat sengit, memperlihatkan kedua sosok bangsa ini, Prabowo subianto dan Megawati, sebagai sosok yang berdiri di dua kutub berbeda. Padahal, sejatinya tidak demikian.

Sebagai informasi, pada Pilpres 2014 dan 2019 lalu, Megawati berkompetisi secara tidak langsung dengan Prabowo. Prabowo maju sebagai Capres di dua pilpres tersebut berhadapan dengan Jokowi. Sementara, Megawati yang notabene adalah Ketua Umum PDIP sebagai parpol tempat bercokolnya Jokowi, praktis mendukung Jokowi dan menjadi rival Prabowo yang merupakan Ketua Umum dan Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra. Hal inilah yang melatarbelakangi asumsi di masyarakat bahwa keduanya adalah seteru politik.

Cerita Megawati Selamatkan Prabowo

Di hadapan peserta acara Presidential Lecture Internalisasi dan Pembumian Pancasila di Istana Negara, Jakarta, Selasa (3/12/2019) kemarin, Megawati menyelipkan kisah dirinya menyelamatkan Prabowo, Ketua Umum Partai Gerindra. Acara tersebut juga dihadiri Prabowo, yang kini menjabat Menteri Pertahanan.

Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila ( BPIP) Megawati Soekarnoputri saat berpidato di acara Presidential Lecture Internalisasi dan Pembumian Pancasila, bertempat di Istana Negara, Jakarta, Selasa (3/12/2019). (Foto: ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari)

Selain Prabowo, Presiden Joko Widodo, serta Wakil Presiden Ma’ruf Amin, para tokoh yang terlihat hadir diantaranya para anggota Dewan Pengarah BPIP, seperti Sudhamek Wakil, Andreas Anangguru Yewangoe, Buya Ahmad Syafii Maarif. Jajaran menteri kabinet Indonesia Maju serta para kepala lembaga pemerintah pun terlihat hadir sebagai peserta di acara tersebut.

Dalam kapasitasnya sebagai Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Megawati Soekarno mengungkapkan, bahwa ketika dirinya menjabat sebagai Presiden RI kelima, pada periode 23 Juli 2001 – 20 Oktober 2004 lalu. Megawati mendapati Prabowo, seorang anak bangsa, dalam kondisi stateless, alias tidak memiliki kewarganegaraan.

“Dulu saya ambil beliau yang ‘keleweran’, saya marah sebagai presiden, siapa yang buang beliau jadi ‘stateless’?” ungkapnya, sebagaimana dilansir dari Antara.

Mengetahui hal tersebut, kata Megawati mengungkapkan rasa marahnya kepada para menteri, seraya meminta mereka untuk membantu menangani masalah yang menimpa Prabowo. “Saya marah pada Menlu, saya marah pada Panglima. Apapun juga beliau manusia Indonesia, pulangkan. Itu tanggung jawab kita,” ujarnya di hadapan para peserta yang hadir.

Persahabatan Berdasarkan Pancasila

Megawati mengungkapkan bahwa persahabatan dirinya dengan Prabowo berjalan dengan lancar karena memiliki landasan yang sama. Landasan yang menjadi dasar persahabatan itu, lanjut Megawati, karena keduanya menerapkan Pancasila dalam kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat di bumi Indonesia.

“Sampai orang sampai bingung kok saya bisa sobatan (bersahabat-red) sama yang namanya Prabowo Subianto.
Memangnya kenapa (bersahabat-red)? karena kalau buat saya, Pancasila itu musuh harus dirangkul, kalau Pak Prabowo musuh saya, saya suruh dia pulang,” tegasnya.

Gerindra Selalu Ingat Jasa Megawati

Ditemui terpisah, Waketum Gerindra, Sufmi Dasco Ahmad membenarkan cerita yang diungkapkan oleh Megawati. Menurutnya, cerita Megawati itu tidak ada yang dilebihkan ataupun dikurangkan. Semuanya benar, seperti apa adanya yang telah terjadi.

Sufmi Dasco pun mengatakan bahwa Gerindra menghargai persahabatan keduanya yang telah terjalin lama.

“Dan memang persahabatan itu memang sudah terjalin sejak lama. Dan kami sangat menghargai itu. Oleh karena itu kami juga bingung kalau pada hari ini ada yang mempersoalkan pertemuan nasi goreng misalnya karena itu adalah hal biasa dan menurut kami adalah hal biasa sahabat saling mengunjungi, bersilaturahmi,” lanjutnya sebagaimana dilansir dari Detik, Selasa (3/12/2019).

Persahabatan kedua sosok itu pun terlihat nyata ketika Megawati maju sebagai Capres didampingi oleh Prabowo sebagai Cawapres pada Pilpres tahun 2009. (HB)

 

Bagi artikel ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *