17 April, 2021

HeloBorneo.com

Kabar dari Tanah Borneo

Miris, Survei Ungkap 46 Persen Warga Bersedia Ikuti Vaksinasi COVID-19

2 min read

Upaya pemerintah terkait sosialisasi program vaksinasi COVID-19 di masyarakat perlu terus digencarkan. Pasalnya, sebagian besar warga masih enggan untuk mengikuti program yang dicanangkan demi memberantas pandemi dari tanah air tercinta ini.

_____________________________________________

vaksinasi COVID-19
Upaya pemerintah terkait sosialisasi program vaksinasi COVID-19 di masyarakat perlu terus digencarkan. Pasalnya, sebagian besar warga masih enggan untuk mengikuti itu. | HeloBorneo.com — Ilustrasi: vaksinasi COVID-19. (Foto: BBC World)

 

JAKARTA | Survei nasional Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) terkini menunjukkan sekitar 46 persen warga yang secara tegas menyatakan bersedia melakukan vaksinasi COVID-19.

Sekitar 28 persen menyatakan tidak mau divaksin dan 23 persen yang menyatakan masih ragu. “Ini temuan yang perlu mendapat perhatian serius,” kata Direktur Riset SMRC Deni Irvani pada acara rilis survei nasional SMRC bertajuk “Satu Tahun COVID-19: Sikap dan Perilaku Warga terhadap Vaksin” yang dipresentasikan secara daring di Jakarta, Selasa (23/3/2021) sebagaimana dilansir dari Antara.

Menurut Deni, bila pencegahan penyebaran COVID-19 hendak dicapai secara efektif, diperlukan minimal 70 persen warga yang memiliki kekebalan tubuh terhadap virus corona.

“Hanya bila 70 persen itu tercapai, Indonesia akan memiliki herd immunity yang diperlukan untuk membasmi COVID-19,” ujar Deni.

Survei yang mencakup semua provinsi di Indonesia ini dilakukan pada tanggal 28 Februari 2021 sampai 8 Maret 2021 dengan metode wawancara tatap muka. Survei ini melibatkan 1.220 responden yang dipilih secara acak dengan margin of error 3,07 persen.

Faktor yang mempengaruhi vaksinasi COVID-19

Menurut Deni, terdapat sejumlah faktor yang mungkin memengaruhi kesediaan seseorang untuk divaksin.

Pertama, soal keyakinan bahwa vaksin aman. Survei menemukan bahwa 64 persen warga yang percaya bahwa vaksin aman bersedia untuk divaksin.

Kedua, pengaruh dari adanya kampanye menolak vaksin. Sekitar 35 persen warga yang pernah mendapat ajakan untuk menolak vaksin menyatakan bersedia divaksin. “Sementara 47 persen warga yang tidak pernah mendapat ajakan menolak vaksin bersedia divaksin,” katanya.

Ketiga, rasa kekhawatiran atau ketakutan akan penularan COVID-19.

Survei menemukan bahwa 59 persen warga yang menyatakan sangat takut tertular vaksin menyatakan bersedia divaksin, sementara hanya 38 persen warga yang menyatakan tidak takut tertular corona menyatakan bersedia divaksin.

Keempat, persepsi tentang masih terus bertambahnya kasus penularan COVID-19.

Survei menemukan bahwa 52 persen warga yang percaya jumlah terinfeksi COVID-19 makin banyak menyatakan bersedia divaksin, sementara hanya 39 persen warga di tanah air yang tidak percaya jumlah terinfeksi COVID-19 makin banyak menyatakan bersedia divaksin.

“Dengan demikian, agar kebijakan vaksinasi ini berjalan efektif, pemerintah perlu melaksanakan serangkaian langkah,” kata Deni.

Pemerintah, kata dia, perlu melawan kampanye antivaksin, kemudian meyakinkan rakyat bahwa vaksin aman. “Pemerintah perlu meyakinkan publik bahwa pandemi belum berakhir dan setiap warga bertanggung jawab untuk mencegah penyebaran wabah,” ucap Deni. (*) [HeloBorneo.com]

Bagi artikel ini
  • 2
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    2
    Shares