1 October, 2020

HeloBorneo.com

Kabar dari Tanah Borneo

Miris! Kisah Petugas Medis Sering Dimaki Warga Ketika Lakukan Tracing Covid-19

2 min read
tracing covid-19
HeloBorneo.com – Ilustrasi penanganan pasien terinfeksi covid-19. (Foto: Antara)

SURABAYA | Petugas medis sering dimaki warga ketika lakukan tracing covid-19 menjadi kisah miris ditengah perjuangan mereka sebagai garda terdepan melawan virus ini.

Hal tersebut dikemukakan oleh sejumlah petugas medis di Kota Surabaya, Jawa Timur. Mereka mengungkapkan bahwa warga sering marah-marah hingga dicaci maki saat melakukan penyelidikan epidemiologi atau tracing covid-19. Padahal langkah ini penting dilakukan terhadap orang dalam pemantauan (ODP) maupun orang tanpa gejala (OTG) Covid-19.

“Di puskesmas itu kan ada beberapa tim yang diterjunkan. Tim itu punya grup WhatsApp, dan ceritanya di grup itu hampir sama semua, ya ada yang dimarah-marahi dan ada yang dicaci-maki,” kata Fiqqi Fierly, salah seorang petugas medis Puskesmas Krembangan Selatan Surabaya, sebagaimana dilansir dari Antara, Minggu (3/5/2020).

Dibilang Gila

Tak sekedar dibentak, dicaci maki, dna dimarahi. Bahkan para petugas medis pun dituding sebagai orang gila. Hal tersebut diakui Fiqqi. Diakuinya, di awal-awal melakukan tracing, dirinya berkali-kali dikatakan sebagai orang gila, tidak ada kerjaan, dan berbagai cacian yang sangat kurang enak di hati.

Namun, karena itu tugas pekerjaan dan demi menolong warga Surabaya, ia tetap melakukannya meski penuh dengan perjuangan.

“Yang paling sulit itu ketika ada OTG dan tidak sadar bahwa dirinya sakit, sehingga dia menolak untuk diisolasi dan diobati. Mereka selalu bilang saya ini sehat, kenapa harus diobati. Nah, yang seperti ini yang sangat butuh perjuangan. Luar biasalah pokoknya,” katanya.

Bukan Aib

Fiqqi juga menjelaskan bahwa Covid-19 dan orang yang terkena virus itu, termasuk para tim medisnya, seakan dianggap aib di tengah-tengah masyarakat. Untuk itu, ia berharap kepada warga untuk sadar bahwa virus ini bukan aib seperti layaknya HIV/AIDS.

Dirinya mengaku miris ketika melihat masih banyak yang tidak pakai masker dan tidak jaga jarak. Padahal, ini adalah sesuatu yang harus dihadapi bersama. “Ini wabah yang harus kita hadapi bersama, makanya saya selalu miris,” katanya.

Fiqqi mengungkapkan bahwa para tenaga medis berjuang mati-matian untuk menolong pasien covid-19. Bahkan, dia sampai tidak memikirkan diri sendiri dan keluarga demi membantu saudara-saudara yang terkena Covid-19 ini.

“Jadi, ayo kita hadapi ini bersama-sama,” katanya.

Diminta Sabar

Kepala Dinas Kesehatan Kota Surabaya Febria Rachmanita mengatakan banyak cerita dari tim surveilans atau petugas tracing di lapangan, mulai yang ditolak, dimarah-marahi, diusir hingga dicaci maki. Para ODP ini juga masih sering bilang bahwa dirinya sehat, padahal badannya sudah terkena virus, dan ketika didatangi ke rumahnya marah-marah.

“Banyak ceritanya begitu-begitu. Makanya petugas medis itu harus sabar, karena si ODP ini banyak yang belum menyadari bahwa mereka itu sakit,” katanya.

Oleh karena itu, Feny sangat berharap kepada masyarakat untuk bersama-sama memutus mata rantai penyebaran Covid-19, salah satunya dengan menumbuhkan kesadaran, jika memang dikatakan sakit oleh petugas medis, maka harus segera isolasi diri dan menjalankan protokol yang telah ditentukan.

Ia juga meminta stigma yang jelek tentang petugas medis harus dihindari dan sebaliknya meminta masyarakat memberi dukungan penuh terhadap tim medis tersebut. “Wabah ini harus dihadapi bersama-sama, kami tidak bisa sendirian, ayo kita dukung tim medis,” ujarnya. (*) [HeloBorneo.com]

Bagi artikel ini
  • 3
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    3
    Shares