23 November, 2020

HeloBorneo.com

Kabar dari Tanah Borneo

Menko Luhut Sebut Ekonomi Indonesia Sedang Bertransformasi dari Comodity Base ke Hilirisasi

3 min read
Luhut Binsar Pandjaitan
helloBorneo.com – Menko Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan. (Foto: maritim/Kemenko Kemaritiman dan Investasi)

TOKYO | Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut B. Pandjaitan menyatakan bahwa Indonesia sedang melakukan transformasi ekonomi dari comodity base ke Hilirisasi. Hal itu diungkapkan usai dirinya bertemu dengan Hiromichi Mizuno (Executive Managing Director, Chief Investment Officer).

“Tadi saya bertemu dengan Mr. Hiro, ini dia sangat tertarik dan dia bilang bahwa ini super super important meeting buat saya. Dia bilang ‘saya tidak tahu kalau Indonesia ini bisa begini’. Nah itu saya kaget juga, tidak ada yang memberitahu ke dia bahwa Indonesia sekarang sudah mentransformasikan kita ke hilirisasi,” kata Menko Luhut usai melakukan pertemuan, Tokyo, Kamis (21/11), sebagaimana dilansir dari Kementerian Kemaritiman dan Investasi.

Oleh sebab itu, Menko Luhut menjelaskan mengenai transformasi ekonomi Indonesia dari comodity base hingga sekarang menjadi hilirisasi, seperti nickle ore menjadi stainless steel, karbon steel sampai lithium battery, di mana Indonesia terbesar cadangan dunia untuk nickle ore.

Tak Hanya Hilirisasi, Tapi Juga Lebih Perhatikan Lingkungan

“Juga saya sampaikan kita tidak hanya berhenti sampai nickel ore, tapi kita juga pada palm oil kita gantikan, juga alumina, juga gasifikasi dan sebagainya. Nah dia nanya ke saya mengenai lingkungan, dan saya bilang ke dia kalau lingkungan kami sangat care karena kami punya policy (kebijakan),” ungkapnya.

 

Untuk policy tersebut, Menko Luhut mengungkapkan bahwa sesuai dengan arahan Presiden Jokowi bahwa policy apapun yang kita buat itu harus melihat ke generasi yang akan datang. Sehingga dirinya memastikan tidak akan membuat policy yang merusak lingkungan.

“Jadi orang tidak perlu mengajari kami soal itu ( lingkungan).Untuk itu kami sekarang kembangkan energy ramah lingkungan yaitu hydro power,” ucapnya.

Indonesia sangat kaya hydro power. Jelas Menko Luhut, kita paling tidak mempunyai hampir 40.000 megawatt, salah satunya di Kalimantan, kemudian di Papua (skala besar), serta antara lain Jawa, Sumatera (skala kecil 100-300 megawatt).

“Ada satu tempat di Kalimantan di Sungai Kayan Mamberamo, kita mau bikin integrated industry di sana. Nah itu akan menjadi satu integrated industry terbesar di dunia yang ramah lingkungan, karena apa? karena air tadi, untuk itu kita harus menjaga lingkungan, karena area penting supaya airnya tetap bagus,” ucapnya.

“Dengan transformasi Indonesia menjadi sejahtera karena harga industry air ini hanya 2-4 sen per kilowatt hour. Mungkin sudah sekian tahun jalan, sekitar 20 tahun, itu harganya akan di bawah 2 sen per kilowatt hour, artinya industri yang kita buat di situ pasti tidak ada yang bisa mengalahkan, karena bahan sebagian ada di Indonesia, sehingga Australia tidak akan pergi lagi ke China, di mana di China 9-10 sen per kilowatt hour, di Jepang malah 18 sen per kilowatt hour. Jadi kita akan perankan penting ini,” paparnya.

Dalam hal ini, Menko Luhut juga membahas mengenai poverty (kemiskinan).

“Karena tadi penggunaan palm oil, mengurangi kesenjangan, karena dengan palm oil naik, harganya naik, maka 17juta sekian orang ini akan naik hidupnya. jadi kita SDG nomor 1, poverty itu kita selesaikan di sini. Kalau kita buka cabang di sini, dampaknya itu banyak banget, dan tadi baru bicara nikel, palm oil, belum steel dan lainnya, dia terkagum-kagum sendiri,” pungkas Menko Luhut. (*) [HeloBorneo.com]

Bagi artikel ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *