Mon. Aug 10th, 2020

HeloBorneo.com

Kabar dari Tanah Borneo

Maman Abdurrahman Dorong Proyek Pembangunan Terminal Kijing Guna Mendukung Pertumbuhan Kalbar

3 min read
Terminal Kijing
HeloBorneo.com – Maman Abdurrahman meninjau pembangunan Terminal Kijing. (Foto: BPH Migas)

PONTIANAK | Anggota Komisi VII DPR-RI Maman Abdurrahman mendorong proyek pembangunan Terminal Kijing guna mendukung pertumbuhan ekonomi  Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar).

Dukungan nyata itu ditunjukkannya, ketika Legislator DPR Partai Golkar dari Dapil Kalbar ini melakukan kunjungan kerja pada Jumat (30/7/2020) lalu ke Provinsi Kalimantan Barat. Kunjungannya bersama Kepala BPH Migas M. Fanshurullah Asa ini dalam rangka menjalankan fungsi pengawasan meninjau proyek pembangunan Pelabuhan (Terminal) Kijing di Mempawah Kalimantan Barat.

Anggota Komisi VII DPR-RI yang salah satunya membidangi energi, Maman Abdurrahman, menyambut baik pembangunan Pelabuhan Kijing.

Tidak hanya bertumpu di Jawa

Maman Abdurrahman yang merupakan putra daerah Kalbar dan juga Ketua DPD Partai Golkar Kalbar mengatakan, pembangunan pelabuhan ini diharapkan dapat meningkatkan pergerakan dan pertumbuhan ekonomi di wilayah Kalimantan, khususnya Kalbar dan juga agar aktivitas ekonomi tidak tertumpu hanya di Jawa dan Sumatera.

Dirinya juga mendorong dibangunnya Floating Storage Regasification Unit (FSRU) atau Receiving Terminal LNG berbasis ISO Tank (LNG Plant) di sekitar pelabuhan Kijing sebagai strategi untuk penuhi pasokan gas. Hal tersebut menurutnya, untuk menjamin suplay/pasokan guna memenuhi kebutuhan energi.

Pasokan Gas

Selain memasok kebutuhan energi bagi kegiatan operasional Pelabuhan Kijing, Terminal LNG ini juga akan memasok kebutuhan gas untuk industri di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mempawah. Selain industri kelapa sawit eksisting, telah ada beberapa industri besar yang akan mengembangkan usahanya di Mempawah seperti PT. Inalum, PT. Wilmar, Smelter PT. Antam dan Pupuk Indonesia.

Tak hanya untuk kebutuhan industri, terminal LNG ini juga nantinya bisa digunakan untuk mensuplai kebutuhan gas pada jaringan gas (jargas) untuk rumah tangga dan pelanggan kecil. Selain itu juga, menyediakan kebutuhan gas pada PLTG 100 MW PLN di Jungkat, Mempawah. PLTG tersebut belum juga difungsikan sejak diresmikan Jokowi tahun 2017, karena belum siapnya fasilitas gasifikasi.

Dengan terciptanya potensi demand Gas Bumi di Kalbar khususnya di Mempawah melalui pembangunan Terminal LNG ini diharapkan dapat mendorong terealisasinya pembangunan pipa gas bumi trans Kalimantan dengan sistem investasi Badan Usaha.

Selain pembangunan Floating Storage Regasification Unit (FSRU) atau Receiving Terminal LNG berbasis ISO Tank (LNG Plant), Maman juga berharap dapat dibangun TBBM Pertamina yang baru dan juga refinery (produksi) bahan bakar diesel nabati sebesar 100 persen (B100) di Mempawah mengingat banyaknya pasokan CPO di Kalbar.

“Penggunaan bahan bakar diesel nabati ini perlu kita dorong, karena bisa menekan impor bahan bakar minyak (BBM) yang pada akhirnya dapat mengurangi defisit neraca perdagangan.” Jelas Maman Abdurrahman. Penghematan devisa dari implementasi B20 dan B30 berdasarkan data dari Pertamina di tahun 2018 sebesar Rp 26,67 triliun, tahun 2019 sebesar 43,81 triliun, dan tahun ini diperkirakan mencapai Rp 63,39 triliun.

Sudah berlangsung dua tahun

Proyek pembangunan Terminal Kijing telah dimulai sejak 2018. Pembangunan proyek tersebut diawali dengan penandatanganan perjanjian Konsesi Pembangunan dan Pengusahaan Terminal Kijing pada Juli 2018. Pihak-pihak yang terlibat dalam perjanjian itu yaitu Kementerian Perhubungan dan PT. Pelabuhan Indonesia II (persero) .

Jangka waktu perjanjian konsesi tersebut rencananya berlangsung selama 69 tahun. Ruang lingkup konsesi meliputi pemberian hak kepada PT. Pelabuhan Indonesia II (persero)/IPC untuk melakukan pembangunan dan pengusahaan jasa kepelabuhanan selama jangka waktu yang telah ditentukan.

Proyek strategis nasional untuk pembangunan Kalbar

Proyek pembangunan Pelabuhan Kijing adalah salah satu proyek strategis nasional. Proyek ini memiliki payung hukum berupa Peraturan Presiden No 43/2017 tentang Percepatan Pembangunan dan Pengoperasian Terminal Kijing di Kalimantan Barat.

Deputy General Manager Hukum dan Pengendalian Internal, PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) Cabang Pontianak, Mustafa M. As’ad menyampaikan bahwa pembangunan Terminal Kijing direncanakan menjadi pelabuhan berstandar internasional terbesar di Pulau Kalimantan. Proyek dalam lahan seluas 200 hektare ini akan terintegrasi dengan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mempawah. Dengan demikian, akan memberikan dukungan penuh bagi percepatan pertumbuhan ekonomi di Kalimantan Barat.

Sebagai gerbang perdagangan

Mustafa M. As’ad menjelaskan bahwa keberadaan Terminal Kijing ini akan menjadi gerbang perdagangan berupa kegiatan ekspor dan impor di Pulau Kalimantan.

“Sebagai salah satu pelabuhan hub, nantinya Terminal Kijing akan menjadi gerbang utama ekspor/impor barang dari dan ke Kalimantan, jelasnya.

Lebih lanjut, Mustafa mengatakan, Terminal Kijing juga berfungsi sebagai terminal hub yang akan meningkatkan hubungan, atau konektivitas antar pulau di Indonesia. “Dengan dibangunnya Terminal Kijing, diharapkan dapat meningkatkan konektivitas antar-pulau di Indonesia dalam rangka menekan biaya logistik serta sebagai salah satu dari beberapa Pelabuhan yang menjadi komponen program tol laut” lanjut Mustafa.

Terminal Kijing diperkirakan rampung akhir 2020

Hingga akhir Juli 2020, Mustafa menyebutkan progres pelaksanaan pembangunan fisik konstruksi telah mencapai sekitar 74%. Menurut rencana, proyek ini akan selesai pada pada bulan November 2020. Presiden Jokowi akan meresmikan langsung proyek ini. Mustafa juga menyebutkan kemungkinan Terminal Kijing sebagai proyek strategis nasional pertama yang diresmikan oleh Jokowi. (*) [HeloBorneo.com]

Bagi artikel ini
  • 1
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    1
    Share