17 November, 2020

HeloBorneo.com

Kabar dari Tanah Borneo

Mahfud MD Ungkap Biang Kegagalannya Jadi Cawapres Jokowi di Pilpres 2019

3 min read

JAKARTA | Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD mengungkap kisah dibalik kegagalannya menjadi Cawapres Jokowi. Kisah ini merebak dalam awal perhelatan Pilpres 2019 yang usai pertengahan tahun ini. Padahal, sebelum akhirnya Jokowi mengumunkan nama Ma’ruf Amin sebagai Cawapres kala itu, Mahfud ditengarai sebagai sosok terkuat yang akan mendampingi petahana.

Tidak tanggung-tanggung, Mahfud MD sudah menyiapkan baju putih. Baju itu akan dikenakan Mahfud pada saat namanya diumumkan sebagai pendamping Jokowi saat itu. Ternyata, nama yang diumumkan  berbeda dengan harapan dan persepsi masyarakat. Hal tersebut pun menjadi perbincangan. Baik di masyarakat maupun di dunia maya. Namanya gagal disebut. Dirinya pun menanggung malu gara-gara batal menjadi Cawapres Jokowi di peruode 2019-2024.

Sosok yang menjabat Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) pada periode 2008-2013 ini mengungkapkan perihal kegagalannya itu. Hal ini dilakukannya sebagai klarifikasi, mengingat banyak sekali versi yang beredar di masyarakat. Lalu, apa yang sebenarnya terjadi?

Tuduhan Ikut Mendukung Pembubaran golkar 

Sosok yang juga pernah menjabat sebagai Menteri Pertahanan di era pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ini pun mengungkapkannya secara blak-blakan.

Menurut informasi, disinyalir ada salah satu partai politik yang menolak Mahfud MD maju mendampingi Presiden Joko Widodo. Kabarnya adalah Partai Golkar dan Akbar Tanjung. Mahfud MD pun menanggapi kabar ini.

“Perlu saya klarifikasi. Saya memang mendengar dari Bang Akbar Tandjung, katanya memang Golkar termasuk yang menolak saya jadi Wapres, karena dulu (dibilang) saya ikut Gus Dur (Presiden keempat RI Abdurrahman Wahid) mau membubarkan Golkar. (Tapi) saya bantah,” ungkap Mahfud MD sebagaimana dilansir dari wawancara khusus dengan kompas.com di kantor Kemenko Polhukam, pada 5 Desember lalu.

Mahfud MD membantah tuduhan tersebut. Dirinya mengatakan bahwa posisinya paling keras bertentangan dengan rencana Gus Dur yang akan mengeluarkan dekrit guna membubarkan partai berlambang pohon beringin itu. Ia pun mengungkapkan bahwa hal tersebut sudah terdokumentasikan dengan baik dalam buku yang diterbitkan pada tahun 2003. Judulnya, “Setahun Bersama Gus Dur: Kenangan Menjadi Menteri di Saat Sulit”.

Penolakannya terhadap rencana Gus Dur itu pun tetap konsisten, bahkan di saat sang Presiden pada akhirnya mengeluarkan dekrit tersebut.

“Bahkan, ketika Gus Dur keluarkan dekrit itu, saya di Surabaya. Saya tetap bilang, ‘Jangan keluarkan’. Itu ada bukunya. Jadi, bukan saya baru bilang sekarang,” demikian Mahfud MD memberikan penjelasan.

HeloBorneo.com – Ilustrasi: Buku Mahfud MD. (net)

Rencana Gus Dur mengeluarkan Dekrit mengikuti Presiden Soekarno yang juga pernah menerbitkan Dekrit PResiden pada tahun 1959. Padahal, menurut Mahfud MD, terdapat perbedaan signifikan antara kondisi Soekarno dengan kondisi yang mengelilingi Gus Dur. Kondisi Gus Dur berbeda dengan Presiden Soekarno saat hendak membubarkan parpol. Ketika Dekrit 1959 diterbitkan, tentara dan polisi memberikan dukungan penuh kepada Presiden Soekarno.

Namun tidak demikian dengan Gus Dur, yang pada akhirnya pun menerbitkannya pada 23 Juli  2001. Parlemen, tentara dan polisi kompak menolak dekrit tersebut, yang berujung pada pemakzulannya

Tetap Membela Gus Dur

Walaupun posisinya berseberangan dengan Gus Dur terkait rencana pembubaran Golkar, Mahfud MD tetap membela Presiden RI ke-4 itu. Hal itu sebagai wujud kesetiaannya terhadap Gus Dur. Terlebih karena dirinya juga saat itu menjabat sebagai Menteri di Kabinet Persatuan Nasional. Menurutnya, menteri sebagai pembantu presiden memang sudah seharusnya mendukung kebijakan yang dikeluarkan pemerintah kala itu.

“Jadi kalau dibilang orang Golkar menolak saya karena dekrit itu alasannya, tidak juga, karena saya tidak setuju dekrit itu. Tapi begitu dekrit keluar, karena saya menteri, ya saya bela dong Gus Dur,” imbuh dia.

Perubahan di Menit Terakhir

Terkait pencalonannya sebagai wakil presiden pendamping Joko Widodo (Jokowi) dalam Pilpres 2019, Mahfud MD melanjutkan penjelasannya. Ia mengatakan bahwa hingga detik-detik terakhir, posisinya masih sebagai satu-satunya kandidat yang akan mendampingi petahana.

Ia pun sudah diminta bersiap. Bahkan dirinya pun sudah mengetahui rencana persiapan terkait kegiatan yang akan dilakukan saat mendaftar ke Komisi Pemilihan Umum (KPU). Salah satu rencananya, yaitu ia akan menaiki sepeda berdampingan dengan Jokowi menuju Gedung KPU. Hal-hal ini sempat mempertebal keyakinan Mahfud MD dan membuatnya mempersiapkan baju putih yang direncanakan untuk dikenakannya pada momen tersebut.

Namun kenyataan berbeda. Keputusan soal sosok Cawapres Jokowi berubah di menit terakhir.

Persoalan Sudah Selesai

Lalu, apakah sekarang masih menyimpan dendam? Terlebih karena beberapa tokoh Golkar pun ikut memperkuat pemerintahan dengan menjadi menteri di Kabinet Indonesia Maju. Mahfud menegaskan, bahwa dirinya tidak menyimpan dendam. Menurutnya, hal itu hanyalah perbedaan pandangan saja. Dan saat ini, perbedaan dengan Partai Golkar sudah selesai. Dengan parpol lainnya pun ia tidak memiliki masalah.

“Oh, sekarang sudah selesai. Semua partai dengan saya selesai, ndak ada masalah,” pungkasnya.

[HeloBorneo.com]

Bagi artikel ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *