25 November, 2020

HeloBorneo.com

Kabar dari Tanah Borneo

KPK Perpanjang Masa Penahanan Bupati Kutim dan Istri

2 min read
Masa Penahanan Bupati Kutim dan Istri
HeloBorneo.com – Bupati Kutai Timur, Ismunandar dan istrinya Encek UR Firgasih.(Foto: Dok. Humas Pemkab Kutai Timur)

JAKARTA | KPK Perpanjang Masa Penahanan Bupati Kutim dan istri. Masa penahanan Bupati Kutai Timur non-aktif, Ismundar (ISM) dan istrinya yang merupakan Ketua DPRD Kutai Timur non-aktif, Encek Unguria (EU) resmi diperpanjang oleh Komisi Pemberantasan Korupsi itu.

Sebelumnya, Kedua sosok penting di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) ini bersama enam orang lainnya yang telah ditetapkan sebagai tersangka kasus suap pekerjaan infrastruktur di Pemerintah Kabupaten Kutai Timur Tahun anggaran 2019-2020.

40 Hari

KPK melalui Plt Juru Bicara Ali Fikri mengatakan, masa penahanan Ismunandar, Encek, dan lima tersangka lain dalam kasus dugaan suap proyek infrastruktur di Pemkab Kutai Timur itu diperpanjang untuk 40 hari ke depan.

“Penyidik KPK melakukan perpanjangan penahanan untuk 40 hari ke depan, terhitung mulai 23 Juli 2020 sampai dengan 31 Agustus 2020 untuk para tersangka,” ujar Ali Fikri melalui keterangan tertulis, Kamis (23/7/2020).

“Sedangkan untuk tersangka DA (Deky Aryanto/rekanan) yang ditahan di Rutan Polres Jakarta Pusat, dilakukan juga perpanjangan penahanan selama 40 hari terhitung mulai 24 Juli 2020 sampai dengan 1 September 2020,” lanjutnya.

Para Tersangka

Sebagaimana diketahui, Ismunandar dan Encek Unguria merupakan pasangan suami istri (pasutri) tersangka penerima suap terkait sejumlah proyek pekerjaan di Kutai Timur tahun anggaran 2019-2020.

Sedangkan, para tersangka selain pasutri tersebut ialah Kepala Dinas PU Kutai Timur Aswandini, Kepala Bapenda Kutai Timur Musyaffa, Kepala BPKAD Kutai Timur Suriansyah, serta dua orang rekanan proyek yakni Aditya Maharani dan Deky Aryanto. Diketahui, Ismunandar, Encek, Aswandini, Musyaffa, Suriansyah dan Aditya mulai ditahan pada Jumat (3/7/2020) sementara Deky baru ditahan pada keesokan harinya, Sabtu (4/7/2020).

Ketujuh tersangka tersebut ditahan usai rangkaian operasi tangkap tangan yang dilakukan KPK pada Kamis (2/7/2020). “Perpanjangan penahanan dilakukan karena penyidik masih memerlukan waktu untuk menyelesaikan pemberkasan perkara,” ujar Ali.

Tempat Penahanan

Para tersangka tersebut ditahan di tempat berbeda. Ismunandar di Rutan KPK pada Gedung Pusat Edukasi Antikorupsi (ACLC). Ketua DPRD Kutai Timur Encek Unguria (EU) di Rutan KPK yang bertempat di Gedung Merah Putih KPK. Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kutai Timur Musyaffa (MUS) di Rutan KPK di Gedung ACLC.

Selanjutnya, Kepala Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Kutai Timur Suriansyah (SUR) di Rutan KPK di Gedung ACLC, Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kutai Timur Aswandini (ASW) di Rutan KPK di Gedung ACLC, dan Aditya Maharani (AM) selaku kontraktor di Rutan Polda Metro Jaya.

Terlibat Kasus suap

Dalam kasus ini, Ismunandar bersama Encek serta Kepala Dinas PU Kutai Timur Aswandini, Kepala Bapenda Kutai Timur Musyaffa, dan Kepala BPKAD Kutai Timur Suriansyah diduga menerima suap dari dua orang rekanan proyek yakni Aditya Maharani dan Deky Aryanto.

Saat menangkap para tersangka, KPK menemukan barang bukti uang Rp 170 juta, sejumlah buku tabungan dengan saldo total Rp 4,8 miliar dan sertifikat deposito senilai Rp 1,2 miliar.

Dalam konstruksi perkara, Ismunandar diduga menerima Rp 2,1 miliar dan Rp 550 juta dari Aditya dan Deky melalui Suriansyah dan Musyaffa. Selain itu, Ismunandar, Suriansyah, Musyaffa, dan Aswandini juga diduga menerima THR masing-masing senilai Rp 100 juta dan transfer senilai Rp 125 juta untuk kepentingan kampanye Ismunandar. (*) [HeloBorneo.com]

 

Bagi artikel ini
  • 2
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    2
    Shares