17 April, 2021

HeloBorneo.com

Kabar dari Tanah Borneo

Korupsi Ekspor Benur Untungkan Eksportir, KPK Telusuri Kebijakan Edhy Prabowo

2 min read

KPK mendalami soal korupsi ekspor benur yang memberi keuntungan besar bagi eksportir, dengan titik penelusuran dan pendalaman kasus pada kebijakan yang diambil oleh tersangka Edhy Prabowo.

_____________________________________________

kasus korupsi ekspor benur
HeloBorneo.com — Plt Juru Bicara KPK Ali Fikri. (Humas KPK)

 

JAKARTA | Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sedang melakukan pendalaman kasus dengan menelusuri berbagai kebijakan yang diambil tersangka mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo, atau inisial EP dalam kasus korupsi ekspor benur.

Pasalnya, berbagai kebijakan yang diambil untuk membuka kuota ekspor benih lobster (benur) kuat diduga memberikan keuntungan bagi para eksportir benur itu.

Dalam rangka pendalaman kasus eksportir benur itu, KPK memeriksa Kepala Badan Riset dan SDM Kelautan
dan Perikanan (BRSDM) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Sjarief Widjaja pada Selasa (23/2/2021).

Saksi kasus korupsi ekspor benur

Sjarief Widjaja dipanggil KPK sebagai saksi untuk tersangka Edhy Prabowo (EP) dan kawan-kawan dalam penyidikan kasus dugaan suap perizinan ekspor benur di Kementerian Kelautan dan Perikanan.

“Didalami pengetahuannya terkait kebijakan tersangka EP selaku Menteri KP yang membuka kuota ekspor benur bagi para eksportir yang diduga memberikan keuntungan bagi para pihak eksportir yang telah memberikan sejumlah uang kepada tersangka EP melalui perantaraan tersangka AM (Amiril Mukminin),” demikian penjelasan Plt Juru Bicara KPK Ali Fikri dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (23/2/2021).

Tak hanya Sjarief Widjaja, KPK juga memanggil lima saksi lain untuk tersangka EP. Kelima saksi tersebut yaitu Alvin Nugraha selaku notaris, seorang PNS bernama Gellwynn DH Yusuf, karyawan swasta Badriyah Lestari, Lutpi Ginanjar
selaku mahasiswa, sert Pimpinan BNI Cabang Cibinong, Kabupaten Bogor Alex Wijaya.

Sementara, untuk saksi Gellwynn, dikonfirmasi terkait dugaan penggunaan kartu kredit bank milik saksi oleh istri tersangka Edhy, yaitu Iis Rosita Dewi yang digunakan istri EP itu untuk berbelanja barang mewah saat berada di wilayah Amerika Serikat (AS).

“Saksi Alvin Nugraha, pada yang bersangkutan dilakukan penyitaan berbagai dokumen kepemilikan tanah di wilayah Sukabumi, Jawa Barat yang diduga milik tersangka EP,” ucap Ali.

Kemudian dalam pemeriksaan saksi Lutpi, penyidik menyita berbagai dokumen perusahaan milik PT Aero Citra Cargo (ACK) yang terkait dengan perkara.

“Badriyah Lestari, didalami pengetahuannya terkait dugaan penggunaan rekening bank milik saksi untuk pembelian berbagai barang dari PT ACK,” ungkap Ali.

Selanjutnya, saksi Alex Wijaya dikonfirmasi terkait pembukuan rekening bank tersangka Andreau Misanta Pribadi (AMP).

Sebagai informasi, KPK telah menetapkan tujuh tersangka dalam kasus tersebut. Sebagai penerima suap, yaitu Edhy Prabowo, Staf Khusus Edhy sekaligus Wakil Ketua Pelaksana Tim Uji Tuntas (Due Diligence) Safri (SAF), Staf Khusus Edhy sekaligus Ketua Pelaksana Tim Uji Tuntas (Due Diligence) Andreau Misanta Pribadi (AMP), Amiril Mukminin (AM) selaku sekretaris pribadi Edhy, pengurus PT ACK Siswadi (SWD), dan Ainul Faqih (AF) selaku staf istri Edhy.

Sedangkan tersangka pemberi suap, yakni Direktur PT Dua Putera Perkasa Pratama (DPPP) Suharjito yang saat ini sudah berstatus terdakwa dan dalam proses persidangan di Pengadilan Tipikor Jakarta.

Suharjito didakwa memberikan suap senilai total Rp2,146 miliar yang terdiri dari 103 ribu dolar AS (sekitar Rp1,44 miliar) dan Rp706.055.440 kepada Edhy. (*) [HeloBorneo.com]

 

Bagi artikel ini
  • 1
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    1
    Share