2 December, 2022

HeloBorneo.com

Kabar dari Tanah Borneo

Implementasi Pancasila Dalam Tangani Pandemi COVID-19, Jokowi: Gotong Royong Jadi Kunci Utama

Implementasi Pancasila disebut Jokowi menjadi bagian tak terpisahkan dalam menangani pandemi COVID-19 yang melanda tanah air. Penanganan pandemi di RI banyak mendapat pujian dari dunia internasional.

_____________________________________________

Implementasi Pancasila, pandemi COVID-19, gotong royong, Dies Natalis ke-67 Unpar
Implementasi Pancasila disebut Jokowi menjadi bagian tak terpisahkan dalam menangani pandemi COVID-19 yang melanda tanah air. Penanganan pandemi di RI banyak mendapat pujian dari dunia internasional. | HeloBorneo.com — Jokowi saat memberikan sambutan di acara Dies Natalis ke-67 Unpar. (Foto: Kominfo)

 

BANDUNG | Presiden Joko Widodo menyampaikan pengarahan pada acara Dies Natalis ke-67 Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) di Pusat Pembelajaran Arntz-Geise (PPAG) Unpar, Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat, Senin (17/01/2022).

Dalam pidatonya, Presiden menyebut bahwa implementasi Pancasila berupa gotong royong seluruh masyarakat dan pemangku kepentingan merupakan kunci utama dalam penanganan pandemi COVID-19 di Indonesia.

“Saya lihat betul implementasi dari Pancasila itu ada, masih kuat sekali kegotong-royongan kita. Itu yang tidak dimiliki negara lain. Banyak yang kaget kenapa Indonesia bisa tahu-tahu turun dari 56 ribu ke hanya angka-angka seratusan, ya kuncinya di situ. Semuanya bergerak, pemerintah pusat, pemerintah daerah, TNI, Polri, organisasi-organisasi rakyat, perangkat kita yang sampai ke bawah semuanya,” ujar Presiden.

Presiden bersyukur bahwa angka kasus harian 56 ribu yang sempat terjadi di pertengahan bulan Juli 2021 di tanah air kini telah menurun drastis di rentang ratusan kasus saja.

Berdasarkan catatan, per hari Minggu (16/1/2022) kemarin, penambahan angka kasus harian pandemi COVID-19 nasional tercatat sebanyak 855 kasus.

Gotong royong kunci utama implementasi Pancasila

“Kenapa kita bisa menurunkan drastis dari 56 ribu ke angka seratusan? Itu karena kita memiliki yang namanya gotong royong, Pancasila kita ada di situ. Negara besar tidak memiliki. Mereka tidak mempunyai bahwa rakyat di desa, rakyat di RT, rakyat kita di RW mau memberikan rumahnya untuk isolasi, untuk karantina, yang berpunya mau memberikan sembako kepada yang baru kesusahan karena pandemi,” jelasnya.

Terkait dengan vaksinasi, Kepala Negara menuturkan bahwa saat ini 30 provinsi telah mencapai target vaksinasi di atas 70 persen, dengan total dosis vaksinasi COVID-19 secara nasional telah mencapai 297,5 juta dosis. Menurutnya, capaian tersebut bukanlah sesuatu yang mudah terutama jika mengingat tantangan geografis yang dimiliki oleh Indonesia.

“Menyuntikkan 297 juta kali ke 17 ribu pulau, 514 kabupaten dan kota, 34 provinsi bukan barang yang mudah. Ada yang harus naik perahu, ada yang harus naik sepeda motor untuk naik ke gunung, bukan barang yang mudah. Saya sangat mengapresiasi TNI dan Polri yang memberikan dukungan penuh dalam rangka vaksinasi ini. Kita ini vaksinasinya nomor empat di dunia setelah China, India, Amerika, kemudian Indonesia,” ungkapnya.

Pandemi COVID-19 sebabkan ketidakpastian global

Di samping tantangan berupa pandemi COVID-19, disrupsi teknologi dan revolusi industri 4.0 juga telah menyebabkan ketidakpastian global makin meningkat. Kompleksitas masalah global tersebut ditambah juga dengan kelangkaan energi, pangan, hingga kontainer yang menyebabkan distribusi logistik terganggu.

Selain itu, kenaikan inflasi yang terjadi di hampir semua negara telah menyebabkan kenaikan harga produsen yang berimbas pada kenaikan harga konsumen juga. Untuk itu, Presiden menegaskan pentingnya kepemimpinan global.

“Diperlukan sebuah kepemimpinan global yang bisa membuat semuanya kembali menjadi pasti. Inilah yang sangat tidak mudah dan saat ini kita menjadi keketuaan di negara-negara G20, negara dengan GDP terbesar di dunia. Inilah yang tadi saya sampaikan sebuah keadaan yang tidak mudah,” tandasnya.

Turut mendampingi Presiden Jokowi dalam acara tersebut yaitu, Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nadiem Makarim, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, Plt. Wali Kota Bandung Yana Mulyana, dan Rektor Universitas Katolik Parahyangan Mangadar Situmorang. (*) [HeloBorneo.com]

Bagi artikel ini