Wed. Jul 8th, 2020

HeloBorneo.com

Kabar dari Tanah Borneo

Hindari Ekonomi Jatuh, Gerindra Ajak Pemerintah-Pengusaha-Buruh Bersatu

2 min read
gerindra, buruh, arief poyuono
HeloBorneo.com – Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Arief Poyuono. (Foto: Ist/pinterpolitik)

JAKARTA| Waketum (Wakil Ketua Umum) DPP Partai Gerindra, Arief Poyuono, mengajak pemerintah, pengusaha dan buruh bersatu demi mencegah jatuhnya kondisi ekonomi bangsa.

Menurut Arief Poyuono saat ini diduga ada pihak-pihak yang menginginkan keadaan perekonomian chaos atau kacau balau, yang berujung kejatuhan ekonomi negara.

Arief Poyuono mengatakan sudah saatnya pengusaha dan kaum buruh bergandengan tangan untuk menyelamatkan perekonomian nasional. Ia menanggapi situasi terkini di tengah pandemik virus corona atau Covid-19. Momen ini harus dijadikan pijakan bagi semua pihak untuk bersatu demi kepentingan bangsa dan negara.

Gerindra: Harus Satu Visi Misi

Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa semua pihak harus satu visi misi untuk menyelamatkan ekonomi. Jangan ada yang merasa paling benar dan paling yang diutamakan. Pasalnya, belum ada satu pihak mana pun yang dapat memastikan kapan berakhirnya pandemi ini.

“Sebab ini kerusakan mesin perekonomian Indonesia barulah sekitar 25 persenan. Dan mungkin bisa sampai taraf 100 persen akibat dampak Covid-19. Karena pemerintah dan negara lain pun belum bisa memastikan kapan akhir dari penyebaran pandemik ini,” ujarnya, Sabtu (25/3/2020), di hadapan wartawan.

Arief menegaskan para pengusaha, pimpinan buruh bersama-sama dengan pemerintah harus bisa benar-benar bekerja sama untuk menyelamatkan Indonesia. Ia meminta pihak-pihak menghentikan semua politisasi dan mengadu domba. Pihak-pihak dengan agenda politik tertentu mengadu buruh, pengusaha dan pemerintah agar saling ribut dan berbeda pemikiran.

Politisi kawakan ini lantas mencontohkan program Kartu Prakerja. Isu Kartu Prakerja selalu digoreng-goreng oleh elit-elit politik nasional yang menginginkan situasi chaos atau kacau balau, akibat pandemik covid-19. Padahal, menurut Arief program ini sangat memberikan dampak positif sebagai “penopang sementara” ekonomi bagi buruh dan pengusaha serta perekonomian nusantara.

Buruh Harus Telan Pil Pahit

Sementara itu, Arief mengatakan saat ini banyak perusahaan dan para pengusaha juga harus jungkir balik mempertahankan cash flow. Mereka berusaha untuk tidak melakukan PHK dan merumahkan karyawan.

Namun, kenyataannya tidak bisa dihindarkan yang namanya PHK dan merumahkan karyawan. Lanjutnya, ia mengatakan kaum buruh harus menelan pil pahit akan adanya PHK dan dirumahkan oleh perusahaan.

Menurut Arief, pengusaha hanya memiliki dua pilihan. Pertama, apakah melakukan PHK atau kedua, hanya merumahkan karyawan saat ter pandemi covid-19..

Pengusaha Tidak Miliki Dana

Dari kedua pilihan itu, Arief mengatakan pengusaha lebih memilih merumahkan pekerja dengan memangkas gaji mereka daripada melakukan PHK.

Alasan pengusaha memilih merumahkan pekerja, karena cash flow perusahaan tidak memungkinkan untuk membayar pesangon buruh yang di-PHK. Data terbaru Kemenaker per 20 April 2020, jumlah pekerja yang terdampak Covid-19 totalnya sebanyak 2.084.593 pekerja dari sektor formal dan informal yang berasal dari 116.370 perusahaan.

Rinciannya jumlah perusahaan dan pekerja formal yang dirumahkan adalah 1.304.777 dari 43.690 perusahaan. Sedangkan pekerja formal yang di-PHK sebanyak 241.431 orang pekerja dari 41.236 perusahaan.

Oleh sebab itu, Arief Poyuono menegaskan, pemerintah terus bekerja keras untuk bisa menghindarkan ambruknya perekonomian Indonesia akibat Covid-19. Walau sebenarnya, masih menurut politisi Gerindra ini, antisipasi dampak Covid-19 terhadap perekonomian disebutnya sudah terlambat. (*) [HeloBorneo.com]

 

Suka artikel ini? Silakan bagikan melalui media sosial anda: