29 September, 2020

HeloBorneo.com

Kabar dari Tanah Borneo

Hetifah Serap Aspirasi Industri Perhotelan Terdampak Covid-19

2 min read
Hetifah Serap Aspirasi Industri Perhotelan
HeloBorneo.com – Wakil Ketua Komisi X DPR RI dan politisi Partai Golkar, Hetifah Sjaifudian (net)

JAKARTA | Hetifah Serap Aspirasi Industri Perhotelan dalam rapat dengar pendapat umum (RDPU) yang berlangsung hari ini. Pasalnya industri perhotelan merupakan satu diantara industri yang sangat terpukul akibat pandemi covid-19 dan masih berlangsung hingga saat ini.

Pandemi virus Corona (Covid-19) yang menyerang Indonesia memaksa pemerintah mengeluarkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Kebijakan PSBB yang diterapkan di beberapa wilayah praktis memukul jatuh sektor pariwisata.

Efek Berantai

Sebagai efek berantai, sektor pariwisata yang sudah jatuh tersungkur turut membawa jatuh industri perhotelan. Sepinya tingkat kunjungan wisata beriringan dengan anjloknya tingkat huniannya.

Demikian Asosiasi Perusahaan Perjalanan Indonesia (ASITA) mengungkap realita tersebut dalam rapat dengar pendapat umum (RDPU) secara virtual yang diadakan Komisi X DPR RI. Peserta RDPU ini juga mengikutsertakan para pelaku pariwisata. RDPU  ini berlangsung Rabu (15/4/2020).

Menurut estimasi, sektor pariwisata Indonesia berpotensi kehilangan 4 miliar dollar AS pada tahun 2020. Hal ini imbas dari turunnya pengunjung wisatawan asing.

Hetifah Tampung Aspirasi

Dalam RDPU kali ini, Hetifah Sjaifudian berkesempatan memimpin jalannya rapat. Wakil Ketua Komisi X DPR RI ini sangat memahami kondisi memprihatinkan tersebut.

Politisi perempuan Partai Golkar ini mengatakan masukan dalam RDPU ini menjadi masukan berharga. “Rekomendasi-rekomendasi para pelaku industri pariwisata jadi bahan advokasi sangat berharga bagi Pemerintah. Mudah-mudahan RDPU kita akan memberi kesempatan lebih besar untuk kita bisa merealisasikannya,” ujar Hetifah.

Dihadiri Pelaku Industri

Rapat virtual ini dihadiri Ketua ASITA, PHRI, Kadin, GIPI, dan PERARINDO. Para pelaku industri pariwisata dan perhotelan ini memaparkan berbagai masalah yang dihadapi. Selain itu, mereka juga mengungkapkan harapannya kepada Pemerintah.

Berdasarkan pemaparan data dari Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), terdapat ratusan hotel yang terpaksa tutup di setiap daerah. Jawa Barat mencatatkan angka terbanyak dengan 501 hotel. Bali mencatatkan angka sebanyak 281 hotel. Sementara di Banten ada 19 hotel. DKI Jakarta 100, lalu Jawa Timur 144, dan Bengkulu 7 hotel.

Sayangnya, PHRI hanya menghimpun data dari anggotanya yang melapor. Sementara, ditengarai lebih banyak lagi pelaku industri perhotelan yang tidak melapor terkait penutupan usaha mereka. (*) [HeloBorneo.com]

Bagi artikel ini
  • 13
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    13
    Shares