17 May, 2022

HeloBorneo.com

Kabar dari Tanah Borneo

Gusar Lihat Nilai Impor Tinggi, Jokowi: Bodoh Sekali!

Nilai impor tinggi yang masih saja terjadi membuat Presiden Joko Widodo gusar. Bahkan Presiden ke-7 RI ini sampai menyebutkan kata bodoh hingga beberapa kali.

________________________________________

nilai impor tinggi
Nilai impor tinggi yang masih saja terjadi membuat Presiden Joko Widodo gusar. Bahkan Presiden ke-7 RI ini sampai menyebutkan kata bodoh hingga beberapa kali. | HeloBorneo.com — Presiden Joko Widodo saat memberikan arahan. (Foto: Tangkapan Layar)

 

NUSA DUA | Presiden Joko Widodo menyoroti nilai impor tinggi saat memberikan pengarahan kepada jajaran menteri Kabinet Indonesia Bersatu (KIB), kepala daerah, dan direktur utama Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tentang Aksi Afirmasi Bangga Buatan Indonesia di Nusa Dua, Bali, Jumat (25/3/2022).

Presiden Jokowi menyampaikan tentang pengadaan barang dan jasa. Kedua, tentang penggunaan produk produksi dalam negeri dalam pengadaan barang dan jasa. Ketiga, terkait pengadaan barang dan jasa menggunakan e-katalog.

Ia mengatakan, “Bodoh sekali apabila pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan BUMN tidak menggunakan produk dalam negeri.” Disebutkannya, belanja pemerintah pusat dalam APBN mencapai Rp526 triliun, pemerintah daerah Rp535 triliun, dan BUMN sebesar Rp420 triliun.

Nilai impor tinggi, besar sekali

Jokowi menunjukkan nilai impor yang telah dikeluarkan melibatkan uang yang nilainya sangat besar.

“Ini uang besar sekali. Ini kalau digunakan, kita tidak usah muluk-muluk, dibelokkan 40 persen bisa men-trigger pertumbuhan ekonomi kita yang pemerintah pusat dan pemerintah daerah bisa 1,5-1,7 persen dan BUMN 0,4 persen. Ini kan dua persen lebih. Tidak usah cari ke mana-mana. Tidak usah cari investor. Kita konsisten beli barang yang diproduksi pabrik-pabrik dan UMKM kita,” kata Presiden Jokowi.

“Bodoh sekali,” ujarnya lagi. Ia kembali mengingatkan,”bahwa bodoh sekali kalau pemerintah tidak membeli produk-produk produksi dalam negeri.”

“Kita beli barang impor, bayangkan Bapak Ibu semuanya, kita memberi pekerjaan kepada negara lain. Duit kita berarti outflow, keluar. Pekerjaan ada di sana bukan di sini. Coba kita belokkan semuanya ke sini, barang yang kita beli barang dalam negeri. Berarti akan ada investasi ini berarti membuka lapangan pekerjaan. Tadi udah dihitung bisa membuka Kalau ini tidak dilakukan, sekali lagi, bodoh banget kita ini,” ujarnya keras. (*) [HeloBorneo.com]

Bagi artikel ini