Sat. Jul 11th, 2020

HeloBorneo.com

Kabar dari Tanah Borneo

Gawat! Terdampak Covid-19, Pengusaha Hanya Kuat Sampai Juni

2 min read
Terdampak Covid-19
HeloBorneo.com – Ilustrasi: Pabrik tutup terdampak Covid-19 (net)

JAKARTA | Dunia ekonomi terdampak covid-19 secara hebat. Para pengusaha pun telah mengatakan bahwa hanya sanggup bertahan hingga Juni 2020. Itu dengan asumsi cashflow yang ada tanpa produksi karena pabrik-pabrik terpaksa tutup untuk memutus rantai penyebaran virus covid-19.

Asumsi daya tahan arus kas (cash flow) mereka ini hanya bertahan hingga Juni. Yaitu dengan tetap mengeluarkan uang tanpa ada pemasukan. Secara terbuka, pengusaha mengatakan daya tahan bisnis memburuk sebagai dampak pandemi covid-19.

Bahkan, saat ini pun sudah terasa. Sebagian pabrik per Maret sudah mulai ada yang melakukan PHK. Sementara, ada juga sebagian pengusaha yang hanya sanggup bertahan sampai April dengan menghentikan produksi total selama pandemi ini.

Apindo

Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) melalui Ketua Umumnya, Hariyadi Sukamdani, menyebutkan hampir seluruh sektor terdampak COVID-19. Tercatat, sektor pariwisata sudah ada 698 hotel tutup. Transportasi daerah yang masih beroperasi tersisa 10%. Sektor industri manufaktur mengalami kesulitan cash flow atau bahkan minus karena produksi tak maksimal bahkan berhenti. “Situasi semakin hari semakin buruk karena COVID-19,” ujar Hariyadi.

Hari mengatakan beberapa hanya sanggup sampai April, sementara sisanya maksimal sampai  dengan Juni. “Hasil melakukan koordinasi, mereka mengatakan daya tahan maksimal sampai Juni. Beberapa bahkan April sudah tak kuat lagi,” jelasnya.

Daya Tahan Bergantung Sektor

Hariyadi tak  seorang diri mengungkap kenyataan pahit ini. Ketua Kebijakan Publik Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sutrisno Iwantono, juga sependapat. Sutrisno mengatakan daya tahan pengusaha di Indonesia memang berbeda tergantung sektornya.

“Namun, secara umum mereka hanya akan kuat dalam artian sanggup membiayai pengeluaran tanpa pemasukan, sampai akhirnya tutup. Ini hanya kuat sampai tiga bulan ke depan apabila corona belum berakhir,” beber Sutrisno.

Sutrisno mengungkapkan hasil rapat virtual yang diselenggarakan APINDO dengan para pengusaha di daerah dan pelaku sektoral. Dia mengatakan, kesimpulan sementara yang terjadi saat ini daya tahan cash flow pengusaha hanya sampai bulan Juni tahun ini.

“Lewat dari itu cash flow kering. Kita tidak akan sanggup membiayai pengeluaran, tanpa pemasukan alias tutup,” ujar Iwantono.

INACA

Bayu Sutanto juga pernah menyampaikan pendapat serupa. Sekjen Indonesia National Air Carriers Association (INACA) ini pernah menyampaikan prediksi bila kondisi saat ini belum ada perubahan.

“Bila kondisi saat ini belum ada perubahan, maka paling cepat akhir Juni sektor penerbangan sudah bisa bernapas. Sektor ini termasuk yang tumbang paling cepat bersama sektor pariwisata,” jelas Bayu.

Bahkan, bila mereda pun tidak serta merta dapat segera bangkit. “Ya sampai akhir Juni itu kemungkinan baru bisa mulai recovery. Recovery kan juga permintaannya tidak secepat kembali normal. Untuk kembali normal permintaan jumlah penumpang kan tidak secepat itu, ada masa recovery ya. Orang masih menyesuaikan dan sebagainya,” pungkas Bayu. (*) [HeloBorneo.com

Suka artikel ini? Silakan bagikan melalui media sosial anda: