29 September, 2020

HeloBorneo.com

Kabar dari Tanah Borneo

Gawat! Impor Mulai Banjiri Indonesia di Januari 2018

2 min read
HeloBorneo.com – Ilustrasi kapal pengangkut barang. (net)

 JAKARTA | Rilis nilai ekspor dan impor serta neraca perdagangan selama Januari 2018 yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan pertumbuhan nilai ekspor yang menctatkan besaran US$ 14,46 miliar, atau tumbuh 7,86% secara year on year (YoY). Sementara dibandingkan Desember 2017, nilai ekspor turun 2,81%.

Di sisi impor, selama Januari 2018 nilainya mencapai US$ 15,13 miliar atau tumbuh 26,44% YoY. Apabila dibandingkan bulan Desember 2017, impor tumbuh 0,26%. Berdasarkan catatan tersebut, defisit neraca perdagangan pada Januari 2018 melebar menjadi sebesar US$ 670 juta.

HeloBorneo.com – Indonesia Mulai Kebanjiran Impor di Januari 2018 (Foto: Riset CNBC Indonesia)

Konsensus pasar sebagaimana dilansir dari CNBC Indonesia memperlihatkan pertumbuhan ekspor Januari 2018 capai 7,5% YoY. Pertumbuhan impor sebesar 18,5% YoY. Kemudian, neraca perdagangan diramalkan surplus US$ 325 juta.

Pada kenyataannya, nilai impor per Januari 2018 tumbuh lebih cepat diatas konsensus pasar. Penyebabnya? Karena dorongan pertumbuhan ekonomi yang lebih baik pada tahun ini.

Impor pun terus menanjak naik mengingat kemampuan produksi dalam negeri belum dapat memenuhi permintaan domestik terutama untuk bahan baku dan barang modal.

Penyebab peningkatan impor lainnya akibat naiknya kebutuhan pembangunan infrastruktur yang menjadi program andalan Presiden Joko Widodo

Terjadi tanjakan impor bahan mentah periode Januari 2018 sebesar 24,81% YoY. Walaupun impor barang modal bulan sebelumnya turun ke angka 7,83% dibanding bulan Desember 2017, tetapi bila dibandingkan dengan angka pertumbuhan per Januari 2017 masih memperlihatkan kenaikan sebesar 29,94% YoY.

HeloBorneo.com – Impor non migas berdasarkan kebutuhan. (Foto: Riset CNBC Indonesia)

Bila peningkatan impor yang cukup pesat ini dibiarkan, dapat berpotensi mengulang apa yang terjadi empat tahun lalu. Pada tahun 2014, hal ini juga terjadi, dimana harga komoditas naik dan ekonomi sedang tumbuh pesat, dan menjadi pemicu kenaikan impor. Di tahun tersebut, defisit neraca perdagangan terjadi hampir sepanjang tahun, dengan catatan angka impor tertinggi terjadi di bulan April 2014 sebesar US$ 1,96 miliar.

Dampaknya, terjadi defisit neraca berjalan hingga 4% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Defisit neraca berjalan ini memicu anjloknya nilai tukar rupiah. Kondisi tersebut memaksa pemerintah dan Bank Indonesia menaikkan suku bunga. Hal tersebut dimaksudkan memperlambat laju pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam rangka normalisasi neraca berjalan negara yang sedang teertekan pada saat itu. (*) [HeloBorneo.com]

Bagi artikel ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *