Sat. Jul 11th, 2020

HeloBorneo.com

Kabar dari Tanah Borneo

Duh! Harga Vaksin Covid-19 Bakal Tinggi, Ini Penyebabnya

3 min read
harga vaksin covid-19
HeloBorneo.com – Ilustrasi vaksin covid-19 (Foto: HeloBorneo)

JAKARTA | Belum ada wujudnya, tapi harga vaksin covid-19 bakal diperkirakan “meroket” ke langit yang tinggi. Demikian hal tersebut diperkirakan oleh Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/ Kepala BRIN) Bambang Brodjonegoro.

Bambang memperkirakan harga vaksin covid-19 yang dikembangkan oleh perusahaan dari berbagai negara akan melesat tinggi disebabkan oleh faktor krusial.

Menristek mengatakan, perkiraan harga tinggi itu tak dapat dipisahkan dari tingginya faktor permintaan. Tingginya permintaan tidak seimbang dengan pasokan yang belum dapat mencukupi derasnya arus permintaan.

Menurut penuturan Bambang, dalam kondisi pandemi covid-19, hukum demand dan supply yang normal tidak bisa diterapkan. Pasalnya, terjadi permintaan luar biasa besar. Sementara, supply atau ketersediaan barang masih sangat terbatas untuk memenuhi semua permintaan itu.

Harga Vaksin Covid-19 Tinggi Jadi Tantangan Bagi Indonesia

harga vaksin covid-19
HeloBorneo.com – Bambang Brodjonegoro. (Foto: Humas Kementerian PPN/Bappenas)

Perkiraan tentang bakal tingginya harga vaksin covid-19 ini adalah tantangan serius bagi Indonesia. Menristek mengungkapkan, kebutuhan Indonesia soal vaksin covid-19 ini terbilang tinggi. Mengingat Indonesia perlu memberikan imunisasi bagi setidaknya 130 juta penduduk sampai dengan 170 juta penduduk . Jumlah tersebut adalah setengah dari total populasi, samoai dengan dua pertiga populasi.

Menurut Menristek, tingginya kebutuhan akan vaksin covid-19 menjadi tantangan yang perlu ditaklukkan oleh Indonesia.

______________________________

Baca juga:

Wah! Indonesia Butuh 340 Juta Vaksin Covid-19

______________________________

 

Lebih lanjut, Bambang Brodjonegoro mengatakan saat ini belum ada jaminan pemerintah dapat memperoleh secara langsung dengan harga normal, walau di dalam negeri sudah mampu memproduksi dengan kapasitas ratusan juta vaksin per tahunnya.

“Saya yakin meskipun nanti ada beberapa perusahaan yang menemukan vaksin, meskipun mereka mengklaim bisa memproduksi satu miliar ampul setahun. Kalau Biofarma itu ratusan juta kapasitas produksinya setahun. Kita tidak ada jaminan Indonesia akan langsung bisa mendapatkan atau kalaupun kita bisa membeli langsung, ada kemungkinan harga vaksin covid-19a tidak bisa harga yang normal,” demikian ujar Menristek.

Riset Pengembangan Vaksin Covid-19

Sebagai informasi, Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek) bersama pihak terkait telah membentuk Tim Pengembangan Vaksin covid-19.

Tujuan tim pengembangan itu yaitu agar Indonesia dapat memperoleh vaksin dalam waktu relatif cepat agar tidak tertinggal dibanding negara lain. Indonesia juga ingin mengembangkan vaksin secara mandiri. Harapannya, hasil tim pengembangan ini akan efektif terutama untuk virus yang beredar di Indonesia.

______________________________

Baca juga:

Kabar Baik! Kerjasama Biofarma-Sinovac Masuki Tahap Uji Klinis Vaksin Covid-19

______________________________

 

Dengan demikian, Indonesia dapat segera memenuhi kebutuhan dan bisa mengontrol harga vaksin covid-19. “Kita bisa bayangkan kalau kita hanya membeli maka harganya itu bisa melonjak apalagi kalau terlambat dalam membeli,” jelas Bambang.

Memang Diperlukan Untuk Strain Dalam Negeri

harga vaksin covid-19
HeloBorneo.com – Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman (Foto: eijkman.go.id)

Pengembangan vaksin untuk strain virus COVID-19 dalam negeri memang diperlukan. Berdasarkan pengurutan menyeluruh dari gen virus yang ada di Indonesia melalui proses whole genome sequencing, strain virus covid-19 yang menyebar masuk dalam tiga belas strain virus.

Saat ini, Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman telah dapat mengumpulkan tujuh whole genome sequencing dari covid-19 di wilayah Jabodetabek. Sementara, Universitas Airlangga (Unair) sudah mengumpulkan enam whole genome sequencing yang berasal dari pusat wabah (epicentrum) covid-19 di Surabaya dan sekitarnya.

“Indonesia baru menyampaikan kira-kira tiga belas whole genome sequencing. Itu karakter dari virus. Dari tiga belas yang sudah disubmit, tujuh oleh Eijkman dan enam dari Unair. Itu berarti tujuh dari Jabodetabek. Enam dari Surabaya yang sekarang menjadi salah satu episentrum dari jenis virus tersebut,” papar Menristek.

Dari total tiga belas whole genome sequencing yang telah didapatkan ini, baru dua strain yang diidentifikasi sebagai jenis (strain) covid-19 yang beredar di Eropa. Sementara, 11 strain sisanya masih diberi label others, yang berarti  masih belum masuk dalam kategori yang sudah ada, atau belum dikenali oleh GISAID.

“Dari tiga belas yang dimasukkan dari Indonesia. Tujuh dari Eijkman dan enam dari Airlangga, sebelas kategorinya masih others. Artinya masih di luar enam kategori yang didefinisikan oleh GISAID. Sebelas masih others, dua kategorinya strain Eropa. Dua Eropa ini datang dari Surabaya,” jelas Bambang.

Sebagai informasi, GISAID adalah bank data influenza dan coronavirus dunia. “Kita semuanya submit kepada GISAID. GISAID ini semacam bank data influenza di dunia. Analisis mereka adalah mereka sekarang sudah punya enam kategori untuk virus COVID-19 di seluruh dunia. Kemudian yang tidak masuk enam sementara diklasifikasikan sebagai others,” ungkapnya.

Bambang mengatakan, perbedaan jenis virus yang berkembang di Surabaya dan di Jabotabek tentu akan memerlukan jenis vaksin covid-19 yang berbeda. Hal itu juga akan mempengaruhi harga vaksin covid-19. “Ada sedikit perbedaan antara virus yang berkembang yang di Surabaya dan yang di Jabodetabek. Tentunya ini akan berpengaruh terhadap vaksin yang akan dibuat,” tukasnya. (*) [HeloBorneo.com]

 

Suka artikel ini? Silakan bagikan melalui media sosial anda: