Sat. Jul 11th, 2020

HeloBorneo.com

Kabar dari Tanah Borneo

Deteksi Dini, Kabareskrim Instruksikan Pendataan Alamat Napi Asimilasi Covid-19

2 min read
Kabareskrim instruksikan pendataan alamat napi asimilasi
HeloBorneo.com – Kepala Badan Reserse Kriminal Polri Komjen Pol. Listyo Sigit Prabowo. (Foto: ANTARA/HO-Polri)

JAKARTA | Kabareskrim instruksikan pendataan alamat napi asimilasi. Sebagaimana diketahui, para napi banyak yang dilepaskan dari penjara melalui program asimilasi untuk memutus rantai penyebaran virus covid-19.

Kepala Badan Reserse Kriminal (Kabareskrim) Polri Komjen Polisi Listyo Sigit Prabowo menginstruksikan jajarannya untuk berkoordinasi dengan pihak lapas dan rutan. Koordinasi tersebut untuk mendata alamat tempat tinggal para napi yang dibebaskan melalui program asimilasi Kemkumham.

“Saya minta anggota untuk berkoordinasi dengan masing-masing lapas dan rutan agar memberikan data dan alamat tempat tinggal untuk bisa kami awasi selama asimilasi,” demikian ujar  Komjen Pol. Sigit, sebagaimana dilansir dari Antara, Selasa (21/4/2020).

Deteksi Dini

Sigit mengatakan pihaknya melakukan upaya deteksi dini guna mencegah para napi asimilasi itu kembali berulah. Menurut penuturannya, Polri melakukan beberapa langkah pencegahan. Diantaranya mengerahkan Unit Kring Serse untuk mendata kelompok pelaku kejahatan jalanan. Langkah lainnya yaitu berpatroli di sentra-sentra ekonomi, kawasan permukiman, dan daerah rawan kejahatan.

“Patroli di jalur yang sering terjadi kejahatan untuk mengawasi pergerakan dan antisipasi agar pelaku kejahatan tidak melakukan aksinya,” katanya.

Aplikasi Tombol Panik

Kabareskrim instruksikan pendataan alamat napi asimilasi, dan selain itu juga meminta agar aplikasi panic button, atau tombol panik di polres-polres diaktifkan kembali. Dengan demikian, masyarakat dapat menghubungi polisi jika dalam keadaan darurat.

“Aplikasi panic button yang sudah pernah dibuat di masing-masing wilayah kepolisian. Kami minta untuk diaktifkan kembali dan masing-masing daerah, termasuk di pusat. Kami minta untuk disosialisasikan kembali nomor-nomor panic button yang bisa dihubungi,” katanya.

Kembali Berulah

Menurut catatan, dari 38.822 napi yang dibebaskan sejak 2 April 2020 melalui mekanisme asimilasi maupun integrasi, ada 27 napi yang kembali melakukan kejahatan. Mereka kini sudah kembali diringkus aparat keamanan.

Sosok yang pernah menjabat Kapolda Banten ini mengatakan, 27 orang yang berulah tersebut persentasenya hanya 0,07 persen dari total napi yang dibebaskan.

“Napi yang kembali melakukan kejahatan (persentasenya) 0,07 persen. Kejahatan yang mereka lakukan meliputi curat (pencurian dengan pemberatan), curanmor (pencurian kendaraan bermotor), curas (pencurian dengan kekerasan), dan satu (orang) pelecehan seksual,” pungkasnya. (*) [HeloBorneo.com]

Suka artikel ini? Silakan bagikan melalui media sosial anda: