HeloBorneo.com, Jakarta – Direktur Transmisi PT PLN (Persero) Edwin Nugraha Putra membeberkan kronologi listrik padam total atau blackout di Sumatera. Menurut Edwin, fenomena power swing atau osilasi tegangan tinggi menjadi pemicu utama ambruknya sistem interkoneksi di Jambi, Riau, Sumatera Barat, Sumatera Utara, hingga Aceh, yang terjadi pada Jumat lalu. Penjelasan ini disampaikan Edwin pada Senin (25/5/2026) dalam jumpa pers di Bareskrim Polri, Jakarta Selatan.
Edwin Nugraha Putra mengawali jumpa pers dengan permohonan maaf kepada masyarakat. "Kami dari PT PLN Persero menyampaikan permohonan maaf sebesar-besarnya, terutama kepada masyarakat di wilayah daerah Riau, Jambi, Sumatera Barat, Sumatera Utara hingga ke Aceh atas terjadinya gangguan listrik yang terjadi pada hari Jumat yang lalu," kata Edwin.
Ia menjelaskan, sistem kelistrikan Sumatera ditopang dua jalur utama: Jalur Timur (500 kV) dan Jalur Barat (275 kV). Gangguan bermula saat cuaca ekstrem melanda wilayah Jambi.
"Terjadi gangguan pada transmisi 275 kV New Aur Duri ke arah Sumsel 5. Ini merupakan input-an menuju jalur 500 kV di bagian timur," terang Edwin. Akibat hujan lebat dan angin kencang, kedua sirkuitnya trip sehingga jalur 500 kV keluar dari sistem.
Putusnya jalur timur ini menyebabkan aliran listrik dari selatan (Palembang-Lampung) berbalik arah. Arus berpindah mendadak ke jalur barat (275 kV) dalam jumlah masif.
Perpindahan arus ini memicu fenomena teknis power swing, atau osilasi tegangan dan frekuensi yang sangat tinggi. "Ketika osilasi tersebut sampai pada satu tahap teknikal tertentu, maka di jalur barat tadi, di jalur 275 kV tadi, itu juga perlu mengisolasikan diri agar jangan sampai power swing tadi itu menyebabkan gangguan yang lebih luas," lanjutnya. Akibatnya, dua sirkuit di titik Muara Bungo ke Sungai Rumbai juga trip.
Terpisahnya jalur tersebut membuat sistem Sumatera terbelah dua. Wilayah selatan (Lampung dan Palembang) tetap normal karena pasokan pembangkit yang cukup.
Sebaliknya, wilayah utara (Jambi hingga Aceh) mengalami defisit pembangkit yang parah. "Apa yang terjadi di daerah utara adalah di sana kekurangan dari pembangkit, frekuensinya rendah," jelas Edwin. Karena frekuensi rendah, pembangkit-pembangkit tidak tahan dan trip, memicu efek domino.
Pembangkit-pembangkit lain frekuensinya semakin turun hingga akhirnya semua pembangkit di bagian utara trip. Kondisi ini menyebabkan pelanggan di Jambi, Riau, Sumbar, Sumut, dan Aceh mengalami pemadaman.
Edwin memaparkan, proses pemulihan berbeda-beda tergantung jenis pembangkit. Pembangkit diesel dan gas (black start) dapat menyala dalam 3-5 jam.
Namun, Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) membutuhkan waktu lebih lama, yakni 20 hingga 30 jam, untuk bisa sinkron kembali dengan sistem. "Insyaallah pada hari ini, pembangkit-pembangkit besar sudah masuk, seperti di Pangkalan Susu dan beberapa tempat lainnya sudah masuk," tutur Edwin. Ia berharap pada hari ini dan sore ini tidak terjadi lagi pemadaman di sistem Sumatera.
Sebagai langkah antisipasi, PLN akan memperketat pengawasan infrastruktur transmisi agar kejadian serupa tidak terulang. Pihaknya akan melakukan inspeksi ganda pada titik-titik sambungan kabel yang rawan.
"Tentunya kami melakukan inspeksi double. Kami menggunakan infrared untuk melihat apakah sambungan kabel mulai panas berlebih atau tidak," imbuhnya. Jika ditemukan kenaikan suhu 10 hingga 15 derajat di atas normal, PLN akan langsung melakukan pemeliharaan khusus.