17 August, 2022

HeloBorneo.com

Kabar dari Tanah Borneo

Tak Hanya di Indonesia, Harga Minyak Goreng di Korea Selatan Juga Naik

Harga minyak goreng di Korea Selatan naik. Fenomena kenaikan migor ini ternyata tak hanya terjadi di Indonesia saja, tapi juga di banyak negara di belahan dunia lainnya.

_______________________________________

Harga minyak goreng di Korea Selatan
Harga minyak goreng di Korea Selatan naik. Fenomena kenaikan migor ini ternyata tak hanya terjadi di Indonesia saja, tapi juga di banyak negara di belahan dunia lainnya. | HeloBorneo.com — Minyak goreng, seperti minyak canola dan minyak zaitun dipajang di sebuah mart besar di Seoul, Selasa (28/6/2022) (Foto: YONHAP)

 

SEOUL | Harga minyak goreng di Korea Selatan tengah mengalami kenaikan akibat kenaikan harga biji-bijian atau serealia di pasar internasional dan melemahnya nilai tukar mata uang won terhadap dolar Amerika Serikat.

Menurut para pihak yang berkecimpung di industri makanan, harga sejumlah minyak goreng dari perusahaan Sajo yang dijual di minimarket akan naik mulai tanggal 1 Juli mendatang, semisal minyak kanola seharga 2.900 won dari 2.400 won, dan minyak zaitun seharga 5.300 won dari sebelumnya 4.500 won.

Sebagaimana dikutip dari KBS, Selasa (28/6/2022), pejabat dari Sajo menjelaskan bahwa pihaknya terpaksa menaikkan harga jual minyak goreng akibat kenaikan harga bahan baku minyak tersebut.

Selain itu, perusahaan Ottogi juga akan menaikkan harga minyak goreng untuk konsumen restoran sebesar 20 persen, karena harga minyak goreng tersebut sensitif terhadap pengaruh naik-turunnya harga biji-bijian di pasar internasional.

Selain minyak goreng, sejumlah produk makanan lainnya dari Ottogi juga diperkirakan akan mulai naik pada tanggal 1 Juli mendatang.


Harga minyak goreng di Korea Selatan
HeloBorneo.com — Ilustrasi: biji-bijian atau serealia yang menjadi bahan pembuatan minyak goreng di Korsel. (Foto: YONHAP)

 

Harga Minyak Goreng di Korea Selatan Naik Imbas Inflasi

Sementara itu, dikutip dari Bloomberg, Rabu (29/6/2022), konsumen Korea Selatan menjadi pesimis untuk pertama kalinya dalam lebih dari setahun, sebagai tanda bagaimana kenaikan inflasi dan beban utang berdampak pada mata pencaharian mereka.

Indeks sentimen konsumen komposit turun menjadi 96,4 bulan ini dari 102,6 pada Mei 2022 lalu. Sebagai informasi, angka di bawah 100 menunjukkan responden yang mengungkapkan pesimisme melebihi jumlah mereka yang berpandangan optimis.

Korea Selatan termasuk negara yang paling rentan terhadap tekanan inflasi global, karena sangat bergantung pada sumber energi dan komoditas lain dari luar. Pada bulan Mei 2022, harga konsumen naik 5,4% dari tahun sebelumnya.

Terkait hal ini, Menteri Keuangan Choo Kyung-ho telah memperingatkan angka inflasi bisa melampaui 6% musim panas ini. Karena kenaikan harga terus memukul anggaran rumah tangga, pesimisme yang berkembang dapat menyebar lebih jauh. Tentu saja kenaikan inflasi tinggi ini akan memperumit tugas BOK untuk mengarahkan kenaikan suku bunga demi mengendalikan inflasi. (*) [HeloBorneo.com]

Bagi artikel ini