27 January, 2023

HeloBorneo.com

Kabar dari Tanah Borneo

Pemilu Malaysia: Anwar Ibrahim Didukung Minoritas China-India, Ditentang Etnis Melayu

Anwar Ibrahim sekali lagi mengajukan diri maju di Pemilu Malaysia pada November  ini. Upayanya itu dalam rangka menjadi Perdana Menteri di Negeri Jiran itu.

_______________________________________

anwar ibrahim
Anwar Ibrahim sekali lagi mengajukan diri maju di Pemilu Malaysia pada November  ini. Upayanya itu dalam rangka menjadi Perdana Menteri di Negeri Jiran itu. | HeloBorneo.com — Anwar Ibrahim (tengah). (Foto: net)

 

KUALA LUMPUR | Setelah dua dekade sebagai pemimpin oposisi di Malaysia, Anwar Ibrahim siap untuk akhirnya menjadi Perdana Menteri pada 2020 lalu. Namun sayangnya, aliansi yang  mendukungnya runtuh karena pertikaian. Alhasil perselisihan itu membuatnya gagal dari jabatan puncak di pemerintahan Malaysia.

Sekarang, pada November tahun 2022 ini, Anwar Ibrahim yang telah berumur 75 tahun, kembali maju di kampanye nasional Pemilu Malaysia.

Dia mencoba meyakinkan warga Malaysia untuk memilihnya dalam pemilihan 19 November 2022 nanti, untuk memenuhi ambisinya sejak lama untuk menjadi Perdana Menteri Malaysia.

Anwar Ibrahim Optimis

Sebagaimana dikutip dari Reuters, Senin (7/11/2022), Anwar Ibrahim tampak yakin akan peluangnya kali ini  di Pemilu Malaysia. “Saya optimis,” katanya, saat diwawancara pada Jumat (4/11/2022) pekan lalu.  Saat itu, dia baru saja berkampanye di daerah pemilihannya Tambun di Malaysia barat, merujuk pada peluang kemenangan koalisinya dan mengubah lanskap politik di Malaysia yang multi-etnis dan mayoritas Muslim.

Dia pun mengungkapkan bahwa pemerintahannya akan menekankan tata kelola yang baik, jauh dari korupsi dan rasisme, serta fanatisme buta agama. “Kami di sini untuk menekankan tata kelola dan anti korupsi, dan membersihkan negara ini dari rasisme dan fanatisme agama,” tegasnya.

Aliansi pendukung Anwar Ibrahim menghadapi dua koalisi lain dalam Pemilihan Umum Malaysia kali ini. Satu koalisi dipimpin oleh Perdana Menteri petahana Ismail Sabri Yaakob. Sementara, koalisi lawan lainnya dipimpin mantan Perdana Menteri Muhyiddin Yassin.

Selain ketiga pihak itu, ada juga beberapa partai lain yang mencalonkan diri. Termasuk satu yang didirikan oleh mantan Perdana Menteri Mahathir Mohamad. Keberadaan tokoh berkarisma ini diperkirakan menjadi sebuah faktor yang akan membagi suara lebih banyak dari sebelumnya.

Anwar Ibrahim Didukung Minoritas Cina dan India

Janji Anwar Ibrahim untuk menekan rasisme dan fanatisme agama bila dirinya terpilih membuatnya mendapat dukungan dari minoritas etnis Cina dan India. Kedua minoritas itu merupakan sepertiga dari pemilih, dan banyak dari pemilih di daerah perkotaan.

Di kota Tambun, ia menarik ratusan orang di sebuah pemberhentian kampanye, dengan kerumunan membanjiri jalan dan pengemudi ambulans yang lewat mengacungkan jempol kepada Anwar.


anwar ibrahim
HeloBorneo.com — Anwar Ibrahim pada acara Partai Pakatan Harapan di Ipoh, Perak. (Foto: Malaysia Gazette)

 

Tidak Populer di Kalangan Pemilih Melayu

Tapi dia tidak memiliki daya tarik yang luas di kalangan mayoritas Melayu karena penentangannya terhadap tindakan afirmatif yang menguntungkan etnis Melayu. Selain itu, tuduhan sodomi di masa lalu tetap melekat pada dirinya.

Sebagai informasi, sodomi  adalah sebuah kejahatan di Malaysia. Anwar telah menghabiskan sekitar satu dekade di penjara atas tuduhan sodomi dan korupsi.

Jajak Pendapat: Tak Ada Mayoritas

Jajak pendapat memprediksi persaingan ketat tanpa satu partai atau koalisi yang mampu memenangkan mayoritas sederhana yang dibutuhkan untuk membentuk pemerintahan.

Sebuah survei independen yang digelar Merdeka Center menunjukkan bahwa Anwar tertinggal di belakang dua saingannya dalam popularitas sebesar 8 hingga 12 poin persentase. Walau tertinggal, popularitasnya baru-baru ini terus meningkat.

Namun, menurut pemaparan Merdeka Center, koalisi multi-etnisnya adalah yang paling disukai oleh pemilih sebesar 26%. Meskipun hampir 31% belum memutuskan siapa yang akan dipilih. Untuk saat ini, Koalisi Barisan Nasional Ismail berada di urutan kedua dengan 24%.

Anwar mengatakan dia tidak akan bekerja dengan koalisi Ismail atau Muhyiddin karena “perbedaan mendasar”. Padahal, menurut jajak pendapat, terungkap bahwa bahwa aliansi akan diperlukan untuk membentuk pemerintahan berikutnya.

“Bentuk koalisi apa pun akan menjadi kemunduran besar karena Anda memiliki koalisi yang pada dasarnya rasis atau fanatik Muslim,” tegasnya. Dia juga mengesampingkan bekerja dengan teman yang berubah menjadi musuh Mahathir.

Selain persaingan eksternal, Anwar juga menghadapi tekanan dari koalisinya sendiri. Dia ditekan untuk mundur dan membuka jalan bagi kepemimpinan baru setelah lebih dari dua dekade memimpin.

Ditanya apakah pemilu ini akan menjadi yang terakhir, Anwar mengatakan dia tahu batasnya. “Apakah saya dianggap relevan atau tidak dalam beberapa tahun ke depan, itu terserah masyarakat untuk memutuskan,” pungkasnya. (*[HeloBorneo.com]


 

 


Bagi artikel ini