Sun. Sep 20th, 2020

HeloBorneo.com

Kabar dari Tanah Borneo

Pandemi Covid-19, Idul Fitri di Malaysia Tanpa Silaturahmi

2 min read
Idul fitri di Malaysia tanpa silaturahmi
HeloBorneo.com – Ilustrasi: Barikade kawat berduri dipasang saat penerapan pembatasan kegiatan (MCO) akibat pandemi covid-19 di Malaysia. (Foto: AP/Vincent Thian)

KUALA LUMPUR | Peringatan Idul fitri di Malaysia tanpa silaturahmi tahun ini. Pandemi covid-19 yang tengah melanda membuat Lebaran terasa berbeda bagi umat Muslim di Malaysia.

Idul fitri di Malaysia tanpa silaturahmi ini pun dirasakan oleh pekerja migran Indonesia (PMI) di Malaysia. Ali Fauzi, yang telah bekerja selama kurang lebih 25 tahun dan menetap di Malaysia mengungkapkan, baru tahun ini ia merasakan momentum lebaran yang sangat berbeda, yaitu merayakan Idul fitri di Malaysia tanpa silaturahmi.

Ali menceritakan pengalamannya selama Ramadan kali ini. Menurutnya, sangat sulit baginya menunaikan ibadah puasa di tengah situasi pandemi, terutama untuk memenuhi kebutuhan bahan pokok. Namun, ia bersyukur karena masih banyak organisasi masyarakat Indonesia di Malaysia yang menyalurkan sembako kepada para TKI di Malaysia, sebagaimana dilansir dari CNNIndonesia.com, Minggu (24/5/2020).

Tak hanya selama menjalankan ibadah puasa, ketika memasuki pengujung Ramadan, lelaki berusia 47 tahun itu juga mengatakan suasana malam takbiran yang berbeda. Takbiran di Malaysia kali ini hanya berlangsung di musala dan masjid.

Hal itu sangat berbeda dengan Indonesia, di mana masih sangat mudah ditemukan kegiatan takbir keliling.

Malaysia Larang Balik Kampung

Selain itu, Malaysia juga memiliki tradisi mudik lebaran yang lebih dikenal dengan istilah Balik Kampung. Namun tahun ini, pemerintah Malaysia tidak memperbolehkan masyarakatnya melakukan Balik Kampung.

Upaya itu termasuk dalam serangkaian kebijakan pembatasan untuk menekan penyebaran virus corona.

“Malaysia menerapkan peraturan rentas negeri atau kalau di Indonesia lebih dikenal dengan istilah PSBB. Tapi kelebihan orang Malaysia adalah rata-rata mereka mau mengikuti peraturan pemerintah,” kata pria asal Lamongan, Jawa Timur, itu.

Selain melarang mudik, aktivitas silaturahmi dari rumah ke rumah juga ditiadakan di Malaysia. Namun, khusus di hari pertama lebaran, pemerintah mengizinkan masyarakat bersilaturahmi dengan tetap mengikuti protokol kesehatan seperti menjaga jarak dan mengenakan masker.

“Untuk silaturahmi, sampai saat ini masih relatif sepi karena warga juga khawatir dengan wabah Covid-19. Seperti di tempat tinggal saya di kawasan Ampang, nyaris tidak ada orang yang datang ke rumah. Enggak seperti hari raya pada umumnya,” kata Ali.

Dia juga bercerita, di banyak tempat di Malaysia, pelaksanaan salat Idulfitri hanya boleh dilakukan berjamaah di rumah masing-masing. Itu karena jumlah jemaah yang diperbolehkan ke masjid jumlahnya sangat terbatas.

Jemaah yang menunaikan salat Idulfitri di masjid pun harus menaati protokol kesehatan dengan ketat.

Rasa Kangen itu Ada

Bagi perantau seperti Ali, rasa rindu akan pulang kampung ke Tanah Air pun sempat ia rasakan. Namun, ia memilih tunduk pada peraturan ketat pemerintah Malaysia.

“(Itu karena) semua warga asing yang masuk ke Malaysia mulai tanggal 1 Juni 2020, harus dikarantina dengan biaya sendiri (sebesar) RM150 atau lebih kurang Rp600.000 sehari selama 14 hari,” ujar Ali.

Hingga hari ini, kasus Covid-19 di Malaysia mencapai 7.185 orang dan belum ada penambahan kasus baru. Sebanyak 115 orang di antaranya meninggal, dan 5.912 orang dinyatakan sembuh dari virus corona. (*) [HeloBorneo.com]

Bagi artikel ini
  • 22
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    22
    Shares