1 October, 2020

HeloBorneo.com

Kabar dari Tanah Borneo

Ngeri! Dalam 13 Hari, Peneliti Perkirakan 250 Ribu Penduduk Wuhan Bakal Terjangkit Virus Corona

2 min read
virus corona
virus corona

LONDON | Seorang ahli dan peneliti virus di Inggris tentang transmisi dan dinamika evolusi penyakit menular telah menerbitkan sebuah makalah. Bersama dengan empat rekannya, mereka yang memperkirakan parameter transmisi atau penyebaran untuk coronavirus Wuhan. Penemuan itu sungguh menakutkan.

Peneliti virus bernama Dr Jonathan Read ini memperkirakan bahwa saat ini hanya 5,1% infeksi di Wuhan yang berhasil diidentifikasi. Ia mengatakan bahwa ledakan dalam jumlah kasus akan terjadi dalam kurun waktu kurang dari dua minggu lagi.

Perkiraannya, pada 4 Februari 2020 nanti, ia menulis tentang perkiraan jumlah penduduk Wuhan yang bakal terinfeksi akan menyentuh angka ratusan ribu. “Model kami memperkirakan jumlah orang yang terinfeksi di Wuhan menjadi lebih dari 250.000 (interval prediksi, 164.602 hingga 351.396),” jelasnya, pada Jumat (24/1/2020).

Perkiraan yang berdasarkan pola perjalanan (travel pattern), timnya menyebutkan kota-kota dengan wabah terbesar di Cina. Kota-kota tersebut meliputi Shanghai, Beijing, Guangzhou, Chongqing, dan Chengdu. Negara-negara dengan risiko terinfeksi impor virus corona terbesar adalah Thailand, Jepang, Taiwan, Hong Kong, dan Korea Selatan.

Lebih Parah dibanding SARS

Mungkin yang paling menakutkan adalah perkiraan angka jumlah reproduksi dasar dari infeksi (basic reproductive number of the infection). Angka ini merupakan cara untuk mengatakan berapa banyak orang yang akan terinfeksi oleh setiap orang yang memilikinya. Berdasarkan kalkulasi yang diungkap dari penelitian tersebut, angka virus corona adalah 3,6-4,0. Itu berarti virus corona akan terus menyebar tanpa henti, kecuali 75% dari orang yang terjangkit virus tersebut dirawat dan dikarantina. Sebagai informasi, angka tersebut sangat besar, dibandingkan dengan perkiraan 1.1-4.2 untuk SARS.

Namun, ada peringatan penting dalam penelitian tersebut. Makalah penelitian itu mengungkapkan bahwa temuan-temuan yang diungkapkan sangat tergantung pada asumsi yang mendasari model penelitian mereka. Termasuk juga waktu serta pelaporan kasus yang dikonfirmasi. Juga masih adanya tingkat ketidakpastian yang terkait dengan wabah pada tahap awal ini.

“Kami masih dalam masa-masa awal wabah ini dan ada banyak ketidakpastian dalam skala wabah, serta informasi epidemiologis utama mengenai penularan. Namun, kecepatan pertumbuhan kasus sejak pengakuan wabah jauh lebih besar dari yang diamati dalam wabah SARS atau MERS-CoV, “kata laporan itu.

Menunggu Terlalu Lama

Makalah penelitian itu juga mengungkap temuan lain yang juga bersifat kritis. Hasil penelitian itu mengatakan bahwa kebijakan memutuskan semua lalu lintas udara dan transportasi hanya akan menunda berjangkitnya epidemi di tempat lain. Itu berarti para pejabat telah menunggu terlalu lama untuk bertindak tegas.

Para peneliti mengatakan bahwa hasil dalam makalah itu tidak dalam pengaruh intervensi apapun. “Kami menekankan bahwa proyeksi ini membuat asumsi kuat. Bahwa tidak ada intervensi kontrol yang dihasut,” tegas mereka. (*) [HeloBorneo.com


(artikel asli) | #coronarovirus #coronavirus #viruscorona #VirusChina |

 

Bagi artikel ini
  • 8
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    8
    Shares