27 September, 2020

HeloBorneo.com

Kabar dari Tanah Borneo

Kabar Baik! 3 Negara Eropa Segera Cabut Lockdown dan Longgarkan Pembatasan Sosial

3 min read
3 negara Eropa segera cabut lockdown
HeloBorneo.com – Austria mulai melonggarkan pembatasan sosial dengan membuka kembali pasar. (Foto: AFP)

JAKARTA | Kabar baik di tengah pandemi covid-19. Sebanyak 3 negara Eropa segera cabut lockdown. Kebijakan lainnya, yaitu mulai melonggarkan pembatasan sosial, atau social distancing.

Sebelumnya diketahui hampir seluruh  wilayah Eropa menerapkan kebijakan karantina wilayah atau lockdown disertai pembatasan sosial atau social distancing dan physical distaning yang ketat. Kebijakan-kebijakan tersebut telah diterapkan dalam upaya menghentikan penyebaran covid-19.

Diketahui, 3 negara Eropa segera cabut lockdown itu yaitu Austria, Denmark, dan Republik Cek.

Mulai Longgarkan Kebijakan

Rencananya, Austria segera melonggarkan lockdown mulai pekan depan. apabila pelonggaran kebijakan ini jadi diterapkan, negara ini akan mencatat rekor. Austria bakal menjadi negara pertama di benua Eropa yang mencabut lockdown dan mulai membuka kembali toko dan restoran.

Negara berikutnya yaitu Denmark. Negara Skandinavia ini segera membuka kembali sekolah-sekolah dan pusat penitipan anak pada 15 April. Kebijakan ini akan mengakhiri tiga pekan penerapan karantina wilayah atau lockdown. Namun, restoran dan perbatasan akan tetap ditutup. Pemerintah juga melarang perkumpulan publik sampai Agustus.

Negara berikutnya yaitu Republik Cek. Diawali pada 9 April lalu, Republik Ceko melonggarkan sejumlah kebijakan pembatasan sosial. Selanjutnya berencana mencabut larangan bepergian pada 14 April. Termasuk mengizinkan warganya bepergian dan mengizinkan orang asing masuk. Namun, tindakan pencegahan tetap dilakukan. Orang yang memasuki negara itu harus dikarantina selama dua pekan.

Kondisi Italia dan Spanyol

HeloBorneo.com – Pemeriksaan covid-19 melalui drive-thru di Spanyol. (Foto: AFP PHOTO/Cesar Manso)

Di Eropa, Italia dan Spanyol yang merupakan dua negara yang terdampak pandemi virus covid-19 paling parah. Namun hal itu tidak menghentikan pemerintah kedua negra untuk mulai mempertimbangkan melonggarkan kebijakan lockdown. Namun akhirnya, beberapa hari kemudian mereka memutuskan untuk memperpanjang lockdown selama beberapa pekan kedepan.

Tantangan Berat

Kebijakan ini merupakan tantangan berat. Hal itu disebutkan oleh pakar manajemen krisis dari Universitas Leiden, Belanda, Arjen Boin. Dirinya mengatakan bahwa hal tersebut menjadi tantangan terberat yang pernah dihadapi pemerintahan demokratis. Yaitu menjaga keseimbangan, bagaimana menemukan jalan tengah terbaik antara mengatasi pandemi dan tidak membunuh perekonomian.

“Tanpa pengecualian, Hal ini memerlukan tindakan kepemimpinan dan kebijaksanaan yang besar,” jelas Arjen, sebagaimana dilansir dari Vox, Senin (13/4).

Pengamat lainnya mengatakan bahwa tindakan itu adalah sebuah eksperimen yang memiliki risiko.

“Mereka terlibat dalam sebuah eksperimen. Itu bukan hal yang buruk, tapi seperti eksperimen lainnya ada risiko yang melekat padanya,” demikian ujar Martin McKee. Dirinya adalah pakar kesehatan masyarakat Eropa dari London School of Hygiene and Tropical Medicine.

Kebijakan Austria

HeloBorneo.com – Kanselir Austria, Sebastien Kurz (Foto: Dewan Uni Eropa)

Pada 6 April lalu, Kanselir Austria, Sebastian Kurz, menyampaikan pidato di parlemen negaranya. Kurz menyampaikan rencana administrasinya untuk memulihkan secara perlahan perekonomian negaranya.

Dalam paparannya, ia mengatakan bahwa toko-toko kecil, toko peralatan rumah tangga dan taman akan diizinkan buka kembali pada 14 April. Selanjutnya, disusul usaha lainnya pada akhir bulan April ini. Sementara restoran dan jasa yang melibatkan kontak dekat dengan manusia, tak diizinkan buka sampai pertengahan Mei atau Juni.

Selain itu, sekolah-sekolah di Austria juga dijadwalkan kembali normal pada pertengahan Mei. namun, sebagaimana dilaporkan The Washington Post, keputusan tersebut akan dievaluasi kembali pada akhir April. Pembukaan publik masih bersifat terbatas, karena acara-acara publik tetap dilarang sampai Juli.

Dianggap Terlalu Dini

Martin McKee mengatakan bahwa keputusan pemerintah melonggarkan pembatasan sosial masih terlalu dini. Menurutnya, ada beberapa kriteria yang harus diperhatikan jika suatu negara melonggarkan pembatasannya.

Pertama, kurva kematian turun. Kedua, angka penularan penyakit harus “R1” atau kurang, artinya, rata-rata satu orang sakit hanya menularkan virus itu pada satu orang lain. Ketiga, pemerintah memiliki data yang benar-benar akurat terkait pasien terinfeksi dan riwayat kontaknya. (*) [HeloBorneo.com]

Bagi artikel ini
  • 11
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    11
    Shares