29 January, 2022

HeloBorneo.com

Kabar dari Tanah Borneo

Banjir Bandang Malaysia Telan 8 Korban Jiwa, Upaya Penyelamatan Jadi Sorotan

Korban jiwa akibat banjir bandang Malaysia saat ini telah mencapai delapan korban jiwa. Hal tersebut memancing banyak kritikan terkait upaya penyelamatan dan juga upaya penanganan bencana yang dinilai lamban.

_____________________________________________

banjir bandang malaysia
Korban jiwa akibat banjir bandang Malaysia saat ini telah mencapai delapan korban jiwa. Hal tersebut memancing banyak kritikan terkait upaya penyelamatan dan juga upaya penanganan bencana yang dinilai lamban. | HeloBorneo.com — Ilustrasi: Upaya penyelamatan para korban banjir bandang Malaysia. Foto: Rozanna Latiff/Reuters

 

SELANGOR | Delapan korban jiwa yang tewas akibat banjir bandang Malaysia menjadi sorotan di tengah kritik terhadap upaya penyelamatan para korban. Terlebih, dengan terputusnya jalur komunikasi di banyak bagian Selangor, yang membuat tidak jelas berapa banyak orang yang masih harus diselamatkan.

Pihak berwenang Negara Bagian Selangor, mengatakan setidaknya terdapat delapan orang tewas dalam banjir yang melanda Malaysia.

Banjir biasa terjadi di pantai timur Malaysia selama musim hujan tahunan antara Oktober hingga Maret. Hanya saja, curah hujan yang luar biasa deras mulai hari Jumat (17/12/2021) telah membebani layanan darurat di seluruh negeri.

Mobilisasi tentara untuk penanganan banjir bandang Malaysia

Malaysia telah memobilisasi tentara dan badan keamanan lainnya di tujuh negara bagian, dengan banjir besar di Selangor, wilayah terkaya dan terpadat di negara itu.

Menurut kantor berita negara Bernama, sebagaimana dikutip HeloBorneo.com pada Selasa (21/12/2021), pihak kepolisian Selangor melaporkan Senin (20/12/2021), bahwa delapan orang ditemukan tewas dalam banjir yang melanda wilayah negara bagian itu.

Para korban tewas termasuk empat orang di Taman Sri Muda, sebuah lingkungan di distrik Shah Alam. Pihak berwenang meyakini masih banyak orang terjebak di rumah dan gedung apartemen di distrik tersebut. Kenyataan ini diperparah dengan terhambatnya upaya penyelamatan akibat kurangnya perahu dan tenaga relawan.

Warga Taman Sri Muda Sazuatu Remly, 43, dan keluarganya diselamatkan oleh teman-temannya pada Senin (20/12/2021), setelah terjebak di rumah mereka selama lebih dari dua hari.

“Bantuan dari pemerintah tidak pernah datang kepada kami, kami hanya mendapat bantuan dari orang tua dari anak-anak yang saya asuh,” kata Sazuatu Remly, sebagaimana dikutip dari kantor berita Reuters.

“Saya sangat berharap pihak berwenang dapat bertindak lebih cepat, dan mereka memberi lebih banyak perhatian kepada orang-orang di sini,” lanjut Remly.


banjir bandang malaysia
HeloBorneo.com — Seorang warga yang terjebak banjir menunggu pertolongan di Hulu Langat, luar Kuala Lumpur, Malaysia, Minggu (19/12/2021). (Foto: AP PHOTO/Vincent Thian)

 

Jumlah pengungsi terus naik

Jumlah pengungsi di seluruh negeri naik menjadi sekitar 51.000 pada hari Senin (20/12/2021). Menurut data resmi, daerah yang paling parah terkena dampak adalah negara bagian timur Pahang, di mana sekitar 32.000 orang terpaksa meninggalkan rumah mereka.

Tetapi tidak jelas berapa banyak lagi yang harus diselamatkan dengan terputusnya jalur komunikasi di banyak bagian negara bagian itu.

Negara bagian Selangor yang merupakan wilayah terkaya dan terpadat di Malaysia, terutama di sekitar ibu kota Kuala Lumpur, juga telah terkena dampak parah, tidak dapat menghindari musibah banjir monsun terburuk.

Kecaman pihak oposisi

Anggota parlemen oposisi pada hari Senin (20/12/2021) mengecam pihak berwenang atas keterlambatan penanganan tanggap bencana.

“Malam ini akan menjadi malam ketiga, orang-orang masih berteriak minta perahu,” ujar anggota parlemen Hannah Yeoh dari Partai Aksi Demokratik kepada wartawan di parlemen.

“Kami ingin (pemerintah) segera mengaktifkan bantuan sehingga kami tidak lagi menemukan mayat,” lanjutnya.

Dorongan Perdana Menteri

Perdana Menteri Malaysia, Ismail Sabri Yaakob, dalam sebuah pernyataan pada Senin (20/12/2021) mengatakan bahwa dia telah memerintahkan semua lembaga untuk melakukan operasi yang sifatnya “lebih agresif” untuk membantu para korban yang terkena dampak di Taman Sri Muda.

Sebagai informasi, negara Asia Tenggara ini dilanda banjir setiap tahun selama musim hujan, tetapi yang terjadi pada akhir pekan adalah yang terburuk dalam beberapa tahun.

Pemanasan global telah dikaitkan dengan banjir yang semakin parah. Karena atmosfer yang lebih hangat menampung lebih banyak air, perubahan iklim meningkatkan risiko dan intensitas banjir dari curah hujan yang ekstrem.

(*) [HeloBorneo.com]

Bagi artikel ini
  • 54
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    54
    Shares