Sat. Sep 19th, 2020

HeloBorneo.com

Kabar dari Tanah Borneo

Jepang Peringati 75 Tahun Bom Atom Hiroshima

3 min read
75 tahun bom atom Hiroshima
HeloBorneo.com – Wali Kota Hiroshima Kazumi Matsui (kanan) dan perwakilan keluarga keluarga korban bom atom di Monumen Peringatan Hiroshima, dalam upacara peringatan 75 Tahun pemboman Hiroshima, Kamis, 6 Agustus, 2020.

TOKYO | Jepang pada Kamis (6/8/2020) Peringati 75 tahun bom atom Hiroshima. Bom atom ini adalah serangan pertama di dunia dalam sebuah peperangan yang menggunakan kekuatan atom.

Peringatan kali ini dalam suasana pandemi virus corona yang memaksa dikuranginya skala upacara peringatan untuk para korban bom tersebut.

Para penyintas, kerabat dan segelintir pejabat asing bakal menghadiri acara utama tahun ini di Hiroshima untuk mendoakan para korban dan menyerukan perdamaian dunia.

Tetapi masyarakat umum bakal dijauhkan yang alih-alih upacara ini disiarkan secara online.

Acara-acara lain, termasuk pertemuan untuk mengapungkan lampion di sepanjang Sungai Motoyasu, sudah dibatalkan setelah kasus virus corona melonjak di beberapa bagian Jepang.

75 tahun bom atom Hiroshima: Berkarya demi perdamaian

75 tahun bom atom Hiroshima
HeloBorneo.com – Hiroshima Peace Park (Foto: japanvisitor.com)

Peringatan tahunan ini adalah “misi Hiroshima dalam menyerukan manusia di seluruh dunia agar berkarya demi perdamaian”, kata walikota Kazumi Matsui kepada wartawan.

Dalam memperingati 75 tahun bom atom Hiroshima, para peserta melakukan hening sejenak pada pukul 8:15 pagi (Kamis 06.15 WIB), waktu yang tepat ketika senjata nuklir pertama yang dikerahkan pada masa perang menghantam kota itu.

Sekitar 140.000 orang tewas, banyak dari mereka tewas seketika, sedangkan yang lainnya tewas beberapa pekan dan bulan kemudian, menderita sakit radiasi, luka bakar yang akut, dan cedera lainnya.

Tiga hari kemudian Amerika Serikat menjatuhkan bom atom kedua di Nagasaki di mana 74.000 orang tewas.

Evaluasi historis dari pemboman itu masih menimbulkan kontroversi. Amerika Serikat tidak pernah meminta maaf atas pemboman yang oleh banyak orang di AS dianggap telah mengakhiri perang itu.

Jepang baru menyatakan menyerah beberapa hari setelahnya pada 15 Agustus 1945, dan sejumlah sejarawan berpendapat bahwa pemboman itu pada akhirnya menyelamatkan nyawa dengan menghindari invasi darat yang mungkin jauh lebih mematikan.

Tetapi di Jepang, serangan itu luas dianggap sebagai kejahatan perang karena serangan itu menyasar warga sipil tanpa pandang bulu dan menyebabkan kehancuran yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Pada 2016, Barack Obama menjadi presiden AS pertama yang mengunjungi Hiroshima di mana dia tidak menyampaikan permintaan maaf selain memeluk para penyintas dan menyerukan dunia yang bebas dari senjata nuklir.

Hiroshima dan Nagasaki adalah persinggahan utama dalam perjalanan pertama Paus Fransiskus ke Jepang tahun lalu, di mana dia mengecam “kengerian yang tak terkatakan” dari serangan bom tersebut.

Pada upacara Kamis, walikota Hiroshima dan perwakilan keluarga yang berduka akan menyampaikan pidato di depan sebuah tugu peringatan bertuliskan nama-nama korban.

Para relawan kemudian akan menyiarkan langsung secara streaming acara keliling gedung-gedung yang terkena dampak pemboman itu, dan menyebarluaskan kesaksian dua penyintas dari bom atom itu sebagai bagian dari upaya memperingati ulang tahun itu meskipun dilanda virus.

Pandemi yang mengintai dunia membawa ketakutan yang sangat dikenal oleh beberapa orang yang selamat, termasuk Keiko Ogura yang berusia 83 tahun, yang hidup selama pemboman Hiroshima.

Dari wabah virus, “Saya mengingat rasa takut yang saya rasakan tepat setelah pemboman itu,” kata dia kepada wartawan bulan lalu.

“Tak ada yang bisa melarikan diri.”

Sifat global dari ancaman tersebut membutuhkan solusi global, kata dia.

“Baik itu virus korona maupun senjata nuklir, cara mengatasinya adalah melalui solidaritas antar umat manusia.”

Peringatan bersejarah tahun ini menggarisbawahi berkurangnya jumlah orang yang selamat dari bom yang dikenal di Jepang dengan “hibakusha”.

Mereka yang tersisa sebagian besar adalah bayi atau anak-anak pada saat itu, dan tugas mereka dalam menjaga kenangan tentang pengeboman agar tetap hidup dan menyerukan pelarangan senjata nuklir telah semakin mendesak seiring bertambahnya usia.

Para aktivis dan penyintas telah membuat arsip dari segala hal mulai dari rekaman kesaksian hibakusha sampai puisi-puisi dan foto-foto mereka.

Namun banyak orang yang mengkhawatirkan ketertarikan kepada pemboman itu bakal memudar ketika semua itu surut melampaui cakrawala pengalaman hidup dan masuk sejarah.

“Hanya menyimpan setumpuk catatan … tidak ada artinya,” kata Kazuhisa Ito, sekretaris jenderal Hibakusha Assembly of Memory Heritage, sebuah LSM yang mengumpulkan catatan dan dokumen dari para penyintas.

“Yang kami inginkan adalah melibatkan kaum muda dalam masalah ini dan bertukar pandangan dengan mereka, secara global,” pungkasnya. (AFP) (*) [HeloBorneo.com]

Bagi artikel ini
  • 6
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    6
    Shares