26 September, 2020

HeloBorneo.com

Kabar dari Tanah Borneo

TGB di Kancah Nasional: Meredupkah?

5 min read
TGB
HeloBorneo.com – Tuan Guru Bajang (TGB) Zainul Majdi. (Foto: Merdeka.com/Aksara Bebey)

Oleh: Suaeb Qury*

EKSKLUSIF | TGB, atau Tuan Guru Bajang Hadir sebagai tokoh muda dan punya karisma keulamaan dan cucu dari pahlawan Nasional dari NTB. Berkiprah di panggung Nasional dan bukan perkara gampang dan sebagai pemain baru di kancah nasional yang berasal dari luar Pulau Jawa, Tuan guru Bajang cukup dibilang hebat. Popularitasnya meningkat pesat seperti disulap, hingga menembus ke seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Di kancah nasional, TGB awalanya menjadi harapan sebagian besar masyarakat NTB, tapi ia belakangan tampak tenggelam di dalam kapal besar partai beringin.

Mengapa demikian? Mungkin banyak yang bertanya, setelah TGB purna sebagai Gubernur NTB, ia masuk Golkar dan tenggelam dalam aktivitasnya. Nyaris namanya kini tenggelam di kancah nsional. Padahal sebelumnya Tuan Guru Bajang sebagai salah satu tokoh muda yang cukup cemerlang. Sebuah parasit yang menyertainya kembali dengan pelbagai asumsi bahwa, TGB yang muncul dri NTB bisa bertarung di kancah politik nasional.

Tapi apa daya, seperti kapal yang hampir karam, kiprah TGB terganjal keputusannya memilih salah satu partai. Golkar sebagai partai para pengusaha menarik TGB mungkin dengan pertimbangan bahwa Tuan Guru Bajang sebagai ikon yang mewakili Islam di tubuh partai beringin tersebut.

Lompat ke Golkar

Mantan Gubernur NTB ini akhirnya menjatuhkan pilihannya ke Golkar setelah menolak godaan Nasdem. Sebagai imbasnya partai golkar yang dijajaki TGB tampak tak menempatkannya sebagai figur istimewa meski ia ditempatkan mengomanoai salah satu bidang di tubuh partai tersebut. Namun mekanisme dalam partai tak mengizinkan Tuan Guru Bajang cukup lenggang bermain di dalam partai.

Di NTB, kiprah Tuan Guru Bajang sebagai pemimpin daerah yang dianggap berprestasi. Namun di kancah nasional ia kehilangan panggung dan kehilangan momentum. Kini TGB tak berkutik setelah masuk dalam partai beringin tersebut. Setelah pilpres, namanya bak kapal karam. Mimpnya sebagai menteri akhirnya kandas di tengah jalan.

Pengaruh pilihan TGB, berlabuh di Partai Golkar bisa jadi menjadi faktor penting yang mempengaruhi meredupnya nama Tuan Guru Bajang di kancah politik nasional. Selain memang terdapat faktor-faktor penting seperti dugaan kasus-kasus yang menjerat TGB selama ini mengiringi kabar angin tentang figur ulama muda itu. Meski memang patut dilihat juga kegagalan Tuan Guru Bajang dalam memenangkan Partai Golkar dan Presiden Jokiwi pada pemilu serentak beberapa waktu lalu di NTB.

Tentu bukanlah sebuah kegagalan menjadi salah satu indikator kenapa TGB tak terlalu dipandang dan diberikan panggung utama di tubuh partai Golkar dan bahkan diusulkan menjadi menteri-pun oleh Golkar tidak. Wajar kemudian Tuan Guru Bajang hadir sebagai semacam figur yang mewakili Islam tapi tak begitu efektif mempengaruhi elektabilitas partai.

Masa Depan TGB di Kancah Nasional

Masih ingat di ingatan kita, nama TGB begitu kerap diberitakan setelah ia memberikan pernyataan sikap untuk mendukung Jokowi, namanya melambung tinggi. Hampir semua stasiun televisi mengundang secara spesial Tuan Guru Bajang untuk memberikan keterangan terkait pernyataannya itu.

Namun, TGB harus mendapat beragam komentar dan tanggapan hingga dalam bentuk hinaan dan cacian. Berbanding terbalik dengan persespsi awal publik yang menganggap dia adalah tokoh yang berpendidikan dan seorang ulama Hafidz Quran, sehingga dia dikatakan sebagai figur yang sangat ideal untuk memimpin Indonesia.

Setelah itu, bagaimana karir politik TGB ke depan? Panggung politik ditentukan dari selihai apa TGB bermain di kancah naisonal bersama rival-rival kuat bersama tokoh-tokoh muda lainnya. Haruskah TGB hijrah kembali dari partai beringin ke partai yang lain? Kalkulasi politik ke depan memang harus dipertimbangkan secara matang, terutama bagaimana peluangnya turut mengendalikan arah partai secara nasional.

Kalau tak demikian TGB sebagai tokoh muda Islam akan hantu bersama gelombang modal yang memegang puncak kendali partai beringin terssebut. Namun kalau tak mampu membaca kontselasi politik ke depan maka apa yang telah dibangun TGB semenjak lama hanya akan berakhir percuma.

Masa depan TGB akan benderang bergantung pada kendaraan yang ditumpanginya ke depan. Apa yang dihadapi saat ini sebagai tantangan ke depan tak sepenuhnya mampu moncer di kancah nasional tanpa ada kalkulasi politik yang tepat. Membaca gerak politik hari ini tentu saja membutuhkan kalkulasi yang matang.

Sepertinya setelah pilpres usai, TGB kehilangan panggung untuk promosi diri, walaupun ia intens promosi lewat media sosial. Rasanya belum sempurna jika Media Mainstream belakangan tak menyorotinya. Sebelumnya ia pernah ditayang karena prestasinya memimpin NTB.

Ruang Politik yang Terbuka dan Tantangannya

Entah dia sengaja dibuat tenggelam oleh lawannya ataukah memang dirinya sengaja menyepi dari kerumun media? Satu hal yang pasti, ia tengah menghadapi dilema dan tantangan besar dalam kancah politik nasional.

Ruang politik yang terbuka saat ini bisa jadi menjadi semacam peluang sekaligus tantangan dalam menghadapi dan arus politik saat ini.

Latar belakangnya sebagai ulama sebetulnya menjadi modal kuat untuk bergerak di tingkat akar rumput, masuk dari pesantren ke pesantren, masjid ke masjid seperti yang telah dilakukan Tuan Guru Bajang pada saat menjelang pilpres lalu.

Sebagai politisi sekaligus ulama yang berumur masih muda, tugas ke-ulama-an yang pastinya masih banyak rintangan yang akan ditemuinya. Dan, Islam yang diperlihatkan di bumi Indonesia sebagai Islam yang begitu ramah serta rasional. Sehingga tidak terjebak dalam kontestasi politik kotor. Inilah mungkin yang wajib diperjuangkan.

Bukan sekadar menyiapkan dirinya dalam kancah politik praktis. Jika apa yang dilakukan TGB adalah upaya perbaikan mindset umat. Atau usaha mengeluarkan umat dari kotornya cara-cara dari praktik politik yang terjadi selama ini, maka inilah jalan yang tepat.

TGB tetap TGB

Apa yang sudah dilakukan oleh Tuan Guru Bajang sebagai seorang ulama selama ini? Tiada lain adalah melurus cara berfikir umat. Bukan untuk diarahkan pada kepentingan sesaat. Namun umat perlu diberdayakan agar kualitas berpikirnya semakin baik. Serta pengaruh dalam kehidupan beragama memperlihatkan terapan Islam yang sesungguhnya yakni Islam yang rahmatan lil alamin dan washotiyah.

Ia berperan sebagai ulama atau politisi dalam mencerdaskan umat. Karena dunia ini hanya sementara, manusia disebut mulia jika bisa memberikan pemahaman kepada umat. Sehingga, umat berlomba-lomba berbuat kebaikan saling bahu membahu. Bukan untuk kepentingan segelintir orang atau partai ataupun yang ingin berkuasa.

Apa yang sudah dilakukan oleh Tuan Guru Bajang sebagai ulama dan menyebarkan pesan Islam yang damai. Pesan itu disampaikan ke seluruh penjuru nusantara. Bahkan sampai keluar negeri. Tentu tidak banyak orang dan ulama bisa melakukan itu. Begitu juga kesederhanaan yang selalu ditampilkan oleh TGB sebagai Ulama yang tidak menjaga jarak dengan umatnya. Semoga pengabdian terbaik yang dipersembahkan oleh Tuan Guru Bajang tetap tersirami bagi bangsa dan negara. Dan panggung yang sudah disiapkan oleh umat Islam buat TGB. Adalah kewajiban untuk tetap mengajarkan dan menyebarkan pesan-pesan agama yang washotiyah dan Rahmamatan lil alamin. (*)

—————

*Penulis adalah Ketua LTN NU NTB (sumber)

Bagi artikel ini
  • 5
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    5
    Shares