29 September, 2020

HeloBorneo.com

Kabar dari Tanah Borneo

Kisruh Jiwasraya Dicurigai Jadi Puncak Gunung Es Krisis Keuangan

3 min read
Kisruh Jiwasraya
HeloBorneo.com – Ilustrasi: Jiwasraya. (Foto: Tempo/Tony Hartawan)

JAKARTA | Kisruh Jiwasraya ditengarai hanya sebuah puncak dari gunung es krisis keuangan  yang lebih besar. Menurut pendapat Presiden RI Ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), krisis gagal bayar asuransi Jiwasraya bisa saja hanya noktah kecil dari krisis keuangan yang lebih besar. SBY melihat bahwa kasus Jiwasraya merupakan puncak dari gunung es krisis keuangan di Indonesia.

SBY mengemukakan pendapat tersebut di halaman facebook miliknya. Sebagaimana dilansir dari halaman facebook tersebut, Senin (27/1/2020), beliau mengatakan bahwa kasus jiwasraya hanya kecil di permukaannya saja, tapi lebih besar lagi yang tidak kelihatan di bawah permukaan.

“Bisa saja kasus Jiwasraya ini ibarat sebuah “puncak dari gunung es”. Nampak kecil di atas permukaan, ternyata besar yang tidak kelihatan,” ujar Ketua Umum Partai Demokrat ini.

SBY melontarkan pendapat ini menyusul terjadinya krisis besar di Jiwasraya. Tak hanya itu, informasi yang dapat dipercaya menyebutkan bahwa sejumlah BUMN yang lain juga mengalami permasalahan yang relatif serius. Seperti contoh, Asabri dan Taspen.

Kisruh Jiwasraya dan Peluang Mencegah Krisis Lebih Besar

Namun, dibalik krisis, ternyata SBY pun melihat ada peluang positif yang dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya dibalik kisruh Jiwasraya ini. Menurut SBY, kasus Jiwasraya bisa menjadi peluang untuk mencegah krisis keuangan yang lebih besar. SBY menyebutkan, saat ini menjadi waktu terbaik bagi negara melakukan koreksi besar. “Melakukan perbaikan total. Atau bahkan bersih-bersih,” lanjutnya.

Dalam penilaiannya, SBY melihat bila secara kumulatif kerugian negara mencapai jumlah puluhan triliun, maka krisis itu sudah tergolong krisis besar. Bahkan, SBY menyebut krisis itu sangat bisa bersifat sistemik, terstruktur dan masif.

SBY juga setuju dengan yang diungkapkan BPK, bahwa krisis keuangan Jiwasraya ini bersifat sistemik dan gigantik. Terlebih, jika setelah dilakukan penyelidikan yang serius dan komprehensif. Apabila ternyata ditemukan kesamaan modus penggelapan uang rakyat, maka menurut SBY, negara tidak boleh menyepelekan kasus-kasus penyimpangan seperti ini.

Lebih lanjut, SBY menegaskan langkah negara menyelamatkan Jiwasraya dan menangani kasus-kasus penyimpangan lainnya menjadi sangat penting. “Apalagi, jika ternyata otak dan operatornya berasal dari kelompok yang sama. Bahkan, jika kecerobohan dan penyimpangan itu dilakukan dengan metodologi yang sama,” tegas SBY.

Dia juga mengungkit kemungkinan hal yang terjadi di Jiwasraya juga terjadi di lembaga lainnya. “Bagaimana jika modus investasi di “saham gorengan” ini juga terjadi di lembaga asuransi atau menyangkut dana pensiun di lembaga-lembaga yang lain,” ungkitnya.

Potensi Kerugian Luar Biasa Besar

Kehawatiran SBY tidak berhenti di Jiwasyara. SBY juga menyoroti jika ternyata modus serupa terjadi di Asabri yang potensi kerugiannya disebut mencapai 10 hingga 16 triliun rupiah. Demikian pula bila hal serupa terjadi di PT. Taspen.

Sebagai informasi, kabarnya Taspen memiliki pertumbuhan investasi saham minus 23% dalam dua tahun terakhir. “Mudah-mudahan informasi yang sangat mencemaskan ini tidak benar adanya. Artinya apa yang berkembang di masyarakat luas itu tidak benar,” demikian harap SBY di unggahan tersebut.

Benar atau tidaknya, kata SBY, hanya dapat diketahui jika pemeriksaan dan penyelidikan terhadap kasus-kasus ini dilakukan secara terbuka, transparan dan komprehensif. Menurut SBY, masalah menjadi lebih serius jika ternyata keserampangan dan juga penyimpangan pengelolaan keuangan korporat ini terjadi di BUMN-BUMN lain.

SBY khawatir, kasus ini bukan hanya terjadi lembaga asuransi dan dana pensiun semata. “Ingat aset BUMN secara nasional lebih dari 8.000 triliun rupiah. Jangan sampai negara dan rakyat “kecolongan” bahwa miliknya banyak yang telah “raib”. Raib karena ketidakberesan dan penyimpangan yang terjadi di perusahaan-perusahaan itu,” ujar SBY.

Saatnya Koreksi dan Perbaikan Total

Karena itu, SBY menilai saatnya telah tiba untuk melakukan koreksi dan perbaikan total. Membiarkan penyimpangan seperti kisruh Jiwasraya ini terjadi, menurut dia adalah sebuah kejahatan. Jika ternyata jumlah kerugian keuangan negara itu sedemikian besarnya maka SBY menilai tindakan yang tegas dan tuntas harus dilakukan.

SBY pun meyakini Presiden RI Joko Widodo ingin penyimpangan-penyimpangan serius ini bisa diungkap secara total, dan yang bersalah diberikan sanksi yang adil. Ia menyakini, Jokowi tidak ingin menyimpan banyak “bom waktu”.

“Bom waktu yang setiap saat bisa meledak dan mengakibatkan terjadinya krisis besar. Pasti pula presiden kita ingin mengakhiri masa jabatannya dengan baik dan tidak membiarkan terjadinya skandal-skandal berskala besar yang sangat melukai hati rakyat kita,” ujar Susilo Bambang Yudhoyono. (*) [HeloBorneo.com

Bagi artikel ini
  • 15
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    15
    Shares