19 November, 2020

HeloBorneo.com

Kabar dari Tanah Borneo

Bayan Resources Terdampak Covid-19, Perpanjang Penutupan 3 Tambang di Kaltim

2 min read
Bayan Resources terdampak covid-19
HeloBorneo.com – Ilustrasi: Gedung Bayan Resources di Jakarta (net)

JAKARTA | Bayan Resources terdampak covid-19. Akibatnya pun tak main-main. Emiten pertambangan batu bara PT Bayan Resources Tbk (BYAN) terpaksa memperpanjang penghentian kegiatan operasional pertambangan tiga anak usahanya di Kalimantan Timur (Kaltim). Langkah ini diambil seiring masih tingginya risiko pandemi virus covid-19 di wilayah Indonesia.

Tiga anak usaha di bawah naungan emiten pertambangan batu bara PT Bayan Resources Tbk (BYAN) yaitu PT Bara Tabang (BT), PT Fajar Sakti Prima (FSP), da PT Indonesia Pratama (IP). Ketiganya menetapkan untuk memperpanjang penghentian kegiatan operasional pertambangan di Kecamatan Tabang, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kaltim.

Sudah Sejak Akhir Maret

Penghentian kegiatan operasional itu sebetulnya sudah dimulai sejak 25 Maret 2020 dan semestinya berakhir 30 April. Rencananya, penghentian akan dilakukan hingga 14 Mei.

“Perpanjangan penghentian kegiatan operasional tersebut akan dilakukan hingga 14 Mei 2020 di mana sebelumnya dihentikan hingga tanggal 30 April 2020,” kata dua direktur perusahaan, Alastair Mcleod dan Russel Neil, dalam keterangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (15/4/2020).

PT BT dan PT FSP adalah perusahaan yang memiliki izin usaha pertambangan operasi produksi dengan wilayah tambang di Kecamatan Tabang, sementara PT IP merupakan kontraktor dari PT BT dan PT FSP. PT IP telah memberitahukan perpanjangan atas penghentian kegiatan operasional tersebut kepada para sub-kontraktornya.

Menghindari Risiko Covid-19

Dalam keterangannya Bayan Resources mengamabil langkah penghentian operasional karena infeksi covid-19 yang terus meningkat dari waktu ke waktu.

“Perpanjangan penghentian kegiatan operasional tersebut dilakukan mengingat jumlah infeksi Covid-19 di Indonesia semakin meningkat. Terutama bertambahnya jumlah orang yang di bawah pengawasan di Kaltim. Dan, guna melaksanakan prakarsa social distancing dari pemerintah untuk menghambat rantai penularan,” demikian bunyi  pernyataan tertulis perusahaan.

Kinerja Perusahaan

Dibanding tahun 2018, Bayan melaporkan penurunan laba bersih hampir 50% pada periode pembukuan 2019. Berdasarkan laporan keuangan perseroan, laba bersih BYAN turun drastis sebesar 47,79% menjadi US$ 246,43 juta. Jumlah itu setara dengan Rp 4,03 triliun (kurs Rupiah 16.347/US$).

Padahal, kinerja perseroan pada 2018 cukup kinclong, yaitu mampu membukukan laba bersih US$ 471,97 juta atau Rp 7,72 triliun.

Perusahaan ini dimiliki oleh Dato’ Low Tuck Kwong. Belaiu adalah salah satu orang terkaya Indonesia. Namun tingkat kekayaannya juga mengalami penurunan pendapatan karena harga batu bara mengalami masa sulit pada tahun 2019 lalu.

Beban Keuangan Meningkat

Pendapatan BYAN sebesar US$ 1,39 miliar pada 2019. Perolehan tersebut turun 17,01% dibandingkan pendapatan 2018 sebesar US$ 1,68 miliar. Sementara itu, beban pokok pendapatan naik 8,73% menjadi US$ 902,23 juta. Item yang sama pada 2018 tercatat sebesar US$ 829,79 juta.

Peningkatan signifikan terjadi pada beban keuangan perseroan yang tercatat naik hingga 122,52% menjadi US$ 9,55 juta. Padahal beban keuangan perseroan pada 2018 tercatat hanya US$ 4,29 juta. (*) [HeloBorneo.com]

Bagi artikel ini
  • 14
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    14
    Shares