25 September, 2021

HeloBorneo.com

Kabar dari Tanah Borneo

Penyebab Banjir Besar di Kalsel Masih Jadi Misteri

banjir besar di kalsel
HeloBorneo.com – Sebuah mobil rusak akibat banjir bandang di Desa Alat, Kecamatan Hantakan, Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan, Rabu (20/1/2021). (Foto: ANTARA FOTO/BAYU PRATAMA S)

JAKARTA | Banjir besar di Kalsel yang menerjang wilayah itu pada 12-13 Januari 2021 memantik perdebatan panjang. Selain karena curah hujan ekstrem, tak sedikit pihak menuding penyebab banjir karena masifnya pembukaan lahan.

Faktor inilah yang kemudian dianggap turut andil terciptanya banjir besar di Kalsel. Manajer Kampanye Walhi Kalimantan Selatan M Jefri Raharja menyebutkan, banjir besar di Kalsel sebagai bencana ekologi. Sebab, terlepas dari tingginya curah hujan tinggi, banjir juga terjadi karena adanya kontribusi dari dampak pembukaan lahan.

Banjir besar di Kalsel terparah dibanding sebelumnya

Tak ayal, banjir kali ini pun lebih parah dibandingkan periode-periode sebelumnya. Berdasarkan data yang dimiliknya, salah satu peruntukan pembukaan lahan di Kalimantan adalah terciptanya perkebunan sawit.

Namun, pembukaan perkebunan sawit ini berlangsung secara terus-menerus. Dari tahun ke tahun, luas perkebunan mengalami peningkatan dan mengubah kondisi sekitar.

Pada rentang 2009 sampai 2011, terjadi peningkatan luas perkebunan sebesar 14 persen dan terus meningkat di tahun berikutnya sebesar 72 persen dalam 5 tahun. “Sedangkan untuk tambang, bukaan lahan meningkat sebesar 13 persen hanya 2 tahun. Luas bukaan tambang pada 2013 ialan 54.238 hektar,” ujar Jefri, Jumat (15/1/2021) lalu.

Pihaknya pun menyesalkan kondisi hutan di Kalimantan yang kini beralih menjadi lahan perkebunan.

Pembukaan lahan atau perubahan tutupan lahan juga mendorong laju perubahan iklim global. “Kalimantan yang dulu bangga dengan hutannya, kini hutan itu telah berubah menjadi perkebunan monokultur sawit dan tambang batu bara,” terang dia.

Pembukaan lahan masif

Perluasan lahan secara masif dan terus-menerus, menurut Jefri, memperparah bencana terutama di kondisi cuaca ekstrem. “Akhirnya juga memengaruhi dan memperparah kondisi ekstrem cuaca, baik itu di musim kemarau dan musim penghujan,” kata dia.

Hingga Rabu (20/1/2021), banjir di Kalimantan Selatan menyebabkan 21 orang meninggal dunia. Sebanyak 342.987 orang terdampak, di mana 63.608 di antaranya mengungsi.

Adapun infratsruktur yang terdampak akibat bencana ini meliputi 66.768 rumah terendam, 18.294 meter jalan terendam, dan 21 jembatan rusak. Tak hanya itu, banjir ini juga menyebabkan 18.356 hektar lahan pertanian di 11 kabupaten/kota di Kalimantan gagal panen.

Curah hujan dan turunnya luas hutan primer

Sementara itu, analisis Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional ( Lapan) menunjukkan, banjir besar di Kalsel disebabkan tingginya curah hujan dan turunnya lahan hutan primer.

Dua faktor penyebab ini berdasarkan data satelit penginderaan jauh resolusi menengah, di mana hasil pengamatan ini masih bersifat estimasi dan belum dilakukan verifikasi. “Curah hujan ini menjadikan banjir melanda Provinsi Kalimantan Selatan pada tanggal 13 Januari 2021,” kata Kepala Pusat Pemanfaatan Penginderaan Jauh Lapan, M Rokhis, dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Minggu (17/1/2021).

Sementara itu, hasil analisis terhadap Daerah Aliran Sungai (DAS) Barito menunjukkan adanya penurunan luas hutan. Lihat Foto Sebuah mobil rusak akibat banjir bandang di Desa Alat, Kecamatan Hantakan, Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan, Rabu (20/1/2021).

Berdasarkan data bencana alam banjir Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Hulu Sungai Tengah pada Selasa (18/1/2021) sebanyak 57.624 jiwa terdampak banjir serta sembilan warga dinyatakan meninggal dunia dan enam lainnya hilang.

Penurunan luas DAS Barito

Penurunan luas DAS Barito ini sejalan dengan kian meluasnya area perkebunan secara signifikan.

Dalam kurun waktu 10 tahun, tercatat ada perluasan area perkebunan yang cukup signifikan, yakni sebesar 219.000 hektar. Kendati demikian, Rokhis menyebut bahwa belum bisa dipastikan apakah perluasan area perkebunan yang signifikan itu terjadi karena perkebunan kelapa sawit.

“Karena datanya dari data satelit resolusi menengah, belum dapat ditentukan sawit atau perkebunan lainnya,” katanya lagi.

Dia menyebutkan, perubahan penutup lahan dalam 10 tahun ini dapat memberikan gambaran kemungkinan terjadinya banjir di DAS Barito.

Pemerintah membantah

Kian menggelindingnya polemik penyebab banjir di Kalimantan Selatan memaksa Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya Bakar angkat bicara.

Siti secara tegas membantah penyebab penyebab banjir di Kalimantan Selatan karena menyusutnya DAS Barito wilayah Kalimantan Selatan.

Ia menegaskan asal-muasal banjir di Kalimantan Selatan karena terjadinya anomali cuaca. “Penyebab banjir Kalimantan Selatan (karena) anomali cuaca dan bukan soal luas hutan di DAS Barito wilayah Kalimantan Selatan,” ujar Siti dikutip dari akun Twitter-nya, @SitiNurbayaLHK, Rabu (20/1/2021).

Siti menerangkan, Kalimantan secara keseluruhan mempunyai area DAS seluas 6,2 juta hektar, di mana 1,8 juta hektar di antaranya berada di DAS Barito wilayah Kalimantan Selatan.

Dari keseluruhan DAS Kalimantan, 94,5 persen dari total wilayah hulu DAS Barito berada di dalam kawasan hutan. Merujuk data 2019, sebanyak 83,3 persen hulu DAS Barito masih bertutupan hutan alam, sedangkan 1,3 persen sisanya merupakan hutan tanaman.

Dengan demikian, klaim Siti, hulu DAS barito masih bagus.

“Dalam hal ini hulu DAS Barito masih terjaga baik,” kata Siti. Siti juga mengatakan, bagian DAS Barito yang berada di wilayah Kalimantan Selatan secara kewilayahan hanya mencakup 40 persen kawasan hutan.

Sementara itu, 60 persen lainnya mencakup Areal Penggunaan Lain (APL) atau bukan kawasan hutan. Ia menegaskan, kondisi DAS Barito di wilayah Kalimantan Selatan tidak sama dengan DAS Barito Kalimantan secara keseluruhan.

DAS Barito di wilayah Kalimantan Selatan berada di lahan untuk masyarakat yang didominasi pertanian lahan kering campur semak, sawah, serta kebun.

Ia menyebutkan, kejadian banjir pada DAS Barito di wilayah Kalimantan Selatan berada di Daerah Tampung Air (DTA) Riam Kiwa, DTA Kurau, dan DTA Barabai. “Karena curah hujan ekstrem dan sangat mungkin terjadi dengan recurrent (keberulangan) periode 50 hingga 100 tahun,” tegas Siti. (sumber: Kompas) (*) [HeloBorneo.com]

Bagi artikel ini
  • 16
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    16
    Shares