Sat. Jul 11th, 2020

HeloBorneo.com

Kabar dari Tanah Borneo

Tak Hanya Pedagang, Pramuwisata Juga Butuh Bantuan Covid-19

4 min read
pramuwisata, covid-19, berau , kaltim
HeloBorneo.com – Ilustrasi: Salah satu obyek pariwisata andalan Berau, Pulau Maratua. Saat ini pulau tersebut dalam kondisi sepi pengunjung akibat terdampak covid-19. (Foto: Arumanto/antara)

TANJUNG REDEB | Pramuwisata juga amat membutuhkan bantuan terdampak covid-19, tak hanya pedagang. Demikian hal tersebut disampaikan oleh HPI Berau, Kaltim.

Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Kabupaten Berau, Kalimantan Timur (Kaltim) berupaya memecah kebuntuan. Pasalnya, saat ini para anggotanya sedang tertekan akibat sepi pekerjaan.

Pramuwisata Terhimpit Ekonomi Akibat Obyek Wisata Sepi

Dampak pandemi covid-19 yang melanda hampir seluruh wilayah di tanah air, membuat obyek-obyek wisata sepi pengunjung. Demi mengatasi himpitan ekonomi saat ini,  HMI berharap perhatian atau bantuan dari pemerintah terhadap para anggotanya di seluruh wilayah Indonesia.

pramuwisata, pedagang, covid-19, kaltim
HeloBorneo.com – Ilustrasi: Pemberian dana bantuan. (net)

Ketika dihubungi, Sekretaris HPI Kabupaten Berau Suhartanto mengungkapkan, banyak rekannya yang kini menganggur. Mereka kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari, sehingga sangat perlu dibantu.

“Jadi yang mengalami dampak covid-19 ini bukan hanya pelaku usaha seperti pedagang kuliner karena mereka masih bisa berdagang langsung atau online. Sementara para guide atau pemandu wisata betul-betul tidak ada aktivitas karena tidak ada wisatawan yang datang (objek wisata ditutup),” ungkap Suhartanto, dilansir dari Antara, Sabtu (25/4/2020).

Banting Setir

Pria yang akrab disapa Tanto ini mengatakan, beberapa rekannya sesama pramuwisata kini ada yang banting setir menjadi pengemudi ojek online. Celakanya, pengemudi ojek online pun turut merosot omzetnya, akibat sepi order.

“Teman kami yang tinggal di daerah laut seperti Pulau Derawan dan Pulau Maratua hiburannya malah hanya memancing ikan, kalau ada hasil dijual,” ungkapnya.

Tanto sendiri adalah seorang fotografer pernikahan (wedding photographer). Namun, larangan membuat acara dengan mengundang keramaian membuatnya sepi permintaan foto perkawinan atau yang sejenisnya.

Harapannya, pemerintah dapat memberikan perhatian kepada para pramuwisata di Kabupaten Berau, Kaltim ini. Menurut Tanto, selama ini, para pramuwisata juga telah turut membantu mempromosikan pariwisata, baik daerah maupun dalam lingkup nasional.

“Kami menyadari pekerjaan kami berinteraksi langsung dengan wisatawan asing dan lokal. Berisiko menyebarkan covid-19. Kami taat peraturan pemerintah untuk diam di rumah. Tapi kami juga punya tanggungan yang harus dipenuhi setiap bulan,” ujarnya.

HPI Berau Bersuara

Ketua HPI Kabupaten Berau Yudhi Rizal membenarkan, selama wabah virus corona ini berlangsung tidak banyak yang dilakukan oleh anggotanya.

“Sementara ini tidak banyak yang bisa dilakukan, kalau teman-teman guide yang berdomisili di pulau, sama sekali tidak ada yang dilakukan karena memang tidak ada wisatawan kalau berdomisili di Tanjung Redeb bisa bekerja serabutan,” ungkap Yudhi Rizal.

Tetapi menurut Yudi, kini sudah ada langkah yang diambil pemerintah pusat melalui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif untuk membantu anggota HPI yang kehilangan pekerjaan.

Masih Lakukan Pendataan 

“Nantinya akan ada bantuan dari pemerintah untuk para pramuwisata. Saat ini kami sedang melakukan pendataan dan kelengkapan anggota HPI di Kabupaten Berau. Ada sebanyak 58 pramuwisata yang datanya akan diserahkan ke Dinas Pariwisata Provinsi Kalimantan Timur. Sementara untuk seluruh Kaltim ada sekitar 251 pramuwisata yang akan diusulkan ke pusat,” ujarnya.

HeloBorneo.com – Ilustrasi: Kantor Bupati Berau (Foto: beraukab.go.id)

Dengan adanya kebijakan ini, ada titik terang bagi para pemandu wisata untuk membantu perekonomian mereka. Namun Yudi Rizal berharap, agar kebijakan ini dapat berkesinambungan. Artinya, bantuan hingga wabah ini berakhir dan pariwisata kembali menggeliat.

Salah satu sektor andalan Kabupaten Berau selain pertambangan dan perkebunan adalah pariwisata. Selama ini Kabupaten Berau terus berupaya memperkuat sektor yang satu ini. Dengan demikian, nantinya di masa yang akan datang tidak lagi bergantung pada sektor pertambangan sebagai devisa andalan Kabupaten Berau.

Terkenal Keindahannya

Kabupaten Berau sudah lama terkenal dengan objek wisata seperti Pulau Derawan, Pulau Maratua dan banyak lagi objek wisata andalan lainnya.

Pulau Derawan, contohnya. Di masa-masa ramai, para wisatawan akan berkunjung ke pulau indah itu untuk melakukan diving, atau penyelaman. Taman-taman bawah laut di sekitar gugus pulau Derawan memang terkenal karena keindahannya. Namun, saat ini, keindahan tersebut terpaksa tidak dapat dinikmati sementara waktu, menunggu para wisatawan kembali datang berkunjung.

Pulau Maratua juga tak kalah indahnya. Pulau ini bagai surga tersembunyi, menyajikan hamparan laut biru. Hamparan itu manis bersanding dengan pasir pantai berwarna putih bersih. Tak hanya itu, keelokan alam bawah laut yang luar biasa, membuat para wisatawan tak pernah bosan.

Dapat dikatakan, Pulau Maratua adalah destinasi anggun di beranda tanah Borneo. Pulau Maratua adalah salah satu destinasi wisata eksotis yang ada di wilayah Kabupaten Berau. Pesona pantai ini hadir dari pasir putih yang sangat bersih dan masih sangat asri. Sangat ideal untuk menjadi destinasi liburan.

Aura eksotisme Maratua terpancar dari kolaborasi sempurna pasir putih dan birunya air laut. Hal ini semakin dikuatkan dengan kualitas air yang sangat jernih dan terumbu karang yang terjaga sangat baik. Pulau Maratua memiliki terumbu karang indah bertipe fringing reef.

pramuwisata, pedagang, covid-19, kaltim
HeloBorneo.com – Pulau Derawan (Foto: pesona.travel)

Nyaris Lumpuh Total

Namun, pandemi membuat obyek-obyek wisata itu nyaris lumpuh total. Bukan hanya karena kebijakan physical distancing yang mengharuskan setiap orang berdiam diri di rumah. Para wisatawan juga enggan melakukan perjalanan wisata di tengah wabah virus corona ini. Akibatnya, tak hanya pedagang, pramuwisata juga butuh bantuan terdampak covid-19.

Dampaknya, kelesuan aktivitas pariwisata tersebut membuat banyak orang yang telah bergantung pada sektor ini kehilangan pekerjaan. Otomatis, mereka pun kehilangan penghasilan. Para pramuwisata yang biasanya banyak membawa tamu baik lokal maupun mancanegara, terkena dampak secara langsung dari sisi ekonomi dan kelangsungan hidup mereka. (*) [HeloBorneo.com]

Suka artikel ini? Silakan bagikan melalui media sosial anda: