1 October, 2020

HeloBorneo.com

Kabar dari Tanah Borneo

Potensi Kaltim Jadi Daerah Tujuan Wisata

3 min read
potensi kaltim
HeloBorneo.com – Ilustrasi: Tiga dara cantik dengan pakaian tradisional dayak. (Foto: ANTARA FOTO/Novi Abdi/Koz/Spt)

| SAMARINDA | Potensi Kaltim di sektor pariwisata cukup besar. Saat ini, sektor pariwisata potensial untuk ditawarkan kepada investor. Sektor pariwisata menjadi fokus karena menghasilkan devisa negara yang cukup besar selain ekspor.

Secara nasional, sektor pariwisata pun kian diandalkan untuk mendulang devisa. Bahkan, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir pun memiliki rencana mendirikan induk usaha (holding) pariwisata, meneruskan ide yang awalnya dicetuskan Menteri BUMN sebelumnya, Rini Soemarno. Hal itu disampaikan oleh Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama Garuda Fuad Rizal usai rapat di Kementerian BUMN, sebagaimana dicuplik dari katadata, Kamis (9/1).

Potensi Kaltim di Sektor Wisata

Kalimantan Timur merupakan salah satu provinsi yang memiliki ragam daerah tujuan wisata di Indonesia. Provinsi ini memiliki potensi budaya serta pariwisata menarik, tak kalah dengan tempat-tempat lain di Indonesia. Alam Kalimantan yang indah menjadi tumpuan wisata, dengan porsi sebesar 90%. Sementara, 10% sisa lainnya merupakan obyek wisata buatan. Obyek buatan tersebut memiliki fungsi sebagai tujuan wisata, ataupun sebagai obyek pendukung kepariwisataan di daerah sekitar sebuah tempat wisata.

Berbagai obyek wisata alam (baik yang berupa sungai, pantai, jeram, danau dan hutan) Kaltim ini sarat dengan ragam flora serta fauna eksotis. Ditambah dengan bumbu sejarah serta budaya lokal, seharusnya membuat Benua Etam tidak sulit untuk menjadi tempat tujuan wisata dambaan para wisatawan wisatawan yang datang dari dalam maupun luar negeri.

Berdasarkan data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim, kunjungan wisman (wisatawan mancanegara) menunjukkan tren meningkat tiap tahunnya. Angka kunjungan mencapai 5611 wisman, terhitung Januari-April 2018.  Jumlah kunjungan wisman ke Kaltim ini berdampakpositif pada peningkatan hunian (okupansi) kamar hotel per April 2018 lalu, yang menyentuh angka 54,14 persen. Angka persentase hunian hotel tersebut meningkat 1,65 poin dibandingkan Maret 2018. Rata-rata waktu menginap wisman adalah 2,61 hari. Sementara, wisatawan lokal menghabiskan waktu sebanyak 1,79 hari menginap.

Okupansi Meningkat, Tapi…

Sebagai informasi, bila angka okupansi kamar hotel sudah melewati angka 50 persen, itu menandakan pihak hotel sudah melewati perhitungan bisnis impas, atau break even point (BEP).

Namun, walau mengalami peningkatan kunjungan wisatawan, Kaltim masih jauh di belakang tempat-tempat wisata lain seperti Bali, ataupun Yogyakarta, dan Jakarta. Obyek-obyek wisata terkenal seperti pantai Kuta, Candi Borobudur, Candi Prambanan masih lebih terkenal dibanding obyek wisata di Kaltim.

Dukungan Legislator DPR RI 

Pengembangan sektor pariwisata di Kaltim juga mendapatkan dukungan penuh dari legislator DPR RI dari dapil Kaltim, Hetifah Sjaifudian. Menurutnya, pengembangan sektor pariwisata di suatu daerah perlu dukungan serta keseriusan pemerintah daerah dalam pengembangannya. Hetifah mendukung wisata di Kaltim sejajar dengan obyek wisata daerah lain.

“Kita punya banyak objek wisata baru. Itu yang jadi prioritas saat ini. Kita sedang berjuang bagaimana regional Kalimantan ini khususnya Kaltim tidak dipandang sebelah mata oleh pusat,” sebagaimana diungkapkan Hetifah di Diskominfo Kaltim, (20/3/2019).

Menurutnya, tiap-tiap daerah memiliki potensi pariwisata. Sayangnya, Pemerintah Daerah belum cukup serius menggarapnya. Perencanaan yang belum matang mengakibatkan tidak maksimalnya kunjungan wisatawan ke suatu tempat wisata di daerah.

“Banyak tantangan yang dihadapi Kaltim dalam pengembangan sektor wisata, tinggal keseriusan pemerintah daerahnya saja untuk mengembangkannya,” demikian ujar Hetifah, dikutip dari klikkaltim, (4/11/2019).

Politisi perempuan dari Partai Golkar ini mengatakan, setidaknya sebuah obyek wisata membutuhkan adanya perencanaan mendetail. Tiap-tiap aspek harus dipikirkan secara matang, mulai dari aspek pengembangan sumber daya alam (SDA), aspek pengembangan sumber daya manusia (SDM) agar siap menerima kunjungan wisatawan. Hingga aspek pemasaran pun perlu mendapatkan perhatian serius. Dengan demikian, obyek wisata yang menarik bagi wisatawan dapat terwujud, dan dengan sendirinya akan dapat mengundang mereka untuk berkunjung ke tempat itu.

Kembangkan Potensi Kaltim Perlu Dukungan Infrastruktur Daerah

Pengembangan potensi Kaltim juga membutuhkan dukungan pemerintah daerah. Dalam hal ini, penguatan pengadaan infrastruktur. Menurut Hetifah, Kendala utama yang dihadapi oleh Kaltim dalam pengembangan sektor pariwisata adalah terkait dengan kelengkapan infrastruktur penunjang utamanya menuju lokasi ke destinasi wisata. Salah satu kebutuhan yang cukup mendesak yaitu pengadaan akses transportasi.

Saat ini, beberapa tempat wisata di Kaltim masih sulit pencapaiannya. Obyek-obyek wisata itu belum dapat dicapai dengan akses transportasi yang mudah. Hal tersebut juga menjadi kendala dan mendapatkan perhatian, karena menimbulkan beban biaya tinggi menuju lokasi wisata. Harapannya, pembangunan infrastruktur penunjang pariwisata ini juga dapat menjadi pendorong pembangunan daerah Kaltim, sebagai sektor padat karya dengan sektor penyerap tenaga kerja.

Selain itu, keputusan Presiden Joko Widodo yang akan melakukan pemindahan Ibu Kota Indonesia ke Provinsi Kaltim turut memberi harapan bagi peningkatan pembangunan infrastruktur di provinsi tersebut. Sebagai informasi, pemindahan ibu kota tahap pertama akan mulai berlangsung pada tahun 2024. (*) [HeloBorneo.com]

Bagi artikel ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *