1 October, 2020

HeloBorneo.com

Kabar dari Tanah Borneo

Menteri Edhy Prabowo Kunjungi Maratua, Pulau Terluar di Kaltim

2 min read
Maratua, Pulau Terluar di Kaltim
HeloBorneo.com – Menteri Edhy Prabowo. (Foto: dok KKP)

MARATUA | Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo kunjungi Pulau Maratua, yang merupakan salah satu pulau terluar di Kaltim. Kegiatan ini dilakukan sebagai bentuk komitmen pemerintah dalam peningkatan ekonomi warga pulau-pulau tersebut.

“Agar pengalaman pahit lepasnya Pulau Sipadan dan Ligitan tidak terulang kembali,” ungkap Menteri Edhy melalui rilis, Rabu, (2/9/2020).

Menurut jadwal, Menteri Edhy akan berada di Maratua selama tiga hari, terhitung sejak 1 September 2020. Selama di Maratua, Edhy Prabowo akan melakukan  beberapa kegiatan. Diketahui, rangkaian kegiatan kementerian antara lain menghadiri acara gerakan memasyarakatkan makan ikan (Gemar ikan), pelepasan tukik bersama Yayasan Penyu Indonesia, serta melakukan penanaman mangrove dan transplantasi terumbu karang di Pantai Green Nirvana Resort.

Ia juga akan melakukan pertemuan dengan pemerintah daerah, berdialog dengan pelaku usaha, serta memberikan bantuan permodalan untuk masyarakat Kecamatan Maratua.

Maratua, Pulau Terluar di Kaltim
HeloBorneo.com – Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo (tengah). (Foto: ANTARA/HO-KKP)

Selepas itu, Menteri Edhy dan rombongan akan menyeberang ke Pulau Bakungan untuk berdialog dengan pelaku usaha atau pengelola pulau.

Potensi pariwisata Bahari Pulau Kakaban yang masih berada dalam wilayah Kecamatan Maratua juga menjadi perhatian Menteri Edhy.

Edhy juga akan mengunjungi pulau eksotis yang terkenal dengan ubur-ubur endemik tak bersengat itu untuk ikut mengampanyekan kembali pariwisata bahari yang sempat mati suri akibat pandemi.

Sebelumnya, Menteri Edhy yang juga politisi Partai Gerindra ini juga telah mengajak berbagai pemangku kepentingan untuk bersama-sama merumuskan strategi yang tepat bagi percepatan pemulihan sektor pariwisata, terutama wisata bahari.

Menteri Edhy mengatakan untuk mengurangi dampak pandemi covid-19, KKP merumuskan dua strategi kebijakan yaitu pengelolaan destinasi wisata bahari berbasis masyarakat melalui program Desa Wisata Bahari (Dewi Bahari), dan program padat karya untuk menyerap tenaga kerja yang terdampak covid-19.

“Program pengembangan Dewi Bahari merupakan amanat pemerintah untuk mengembangkan dan mendukung program prioritas nasional di bidang pariwisata dalam meningkatkan devisa negara serta pendapatan masyarakat,” ujarnya.

Terlebih, pembangunan daerah terluar dan perbatasan ini juga sangat diperlukan untuk memperkuat masyarakat di wilayah-wilayah tersebut.

Dijelaskannya, program ini merupakan sebuah program berbasis pembangunan desa yang komprehensif mulai dari perencanaan, pembangunan sarana prasarana, peningkatan kapasitas masyarakat, hingga fasilitasi kemitraan, serta merupakan salah satu cara agar masyarakat dapat melestarikan lingkungan pesisir dan laut sekaligus mengembangkan potensi lokal melalui sektor pariwisata.

“Dalam pelaksanaan pengembangan Program Dewi Bahari tersebut, KKP tidak dapat berdiri sendiri dan mengajak berbagai pemangku kepentingan untuk turut serta dalam pelaksanaan program tersebut, termasuk menggandeng Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif,” ucapnya. (sumber: Antara) (*) [HeloBorneo.com]

Bagi artikel ini
  • 5
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    5
    Shares