26 September, 2020

HeloBorneo.com

Kabar dari Tanah Borneo

#Germas Kaltim: Gerakan Pakai Masker Awali Pembukaan Kembali Pariwisata Berau

3 min read
Gerakan Pakai Masker
HeloBorneo.com – Gerakan Pakai Masker mengawali pembukaan kembali aktivitas pariwisata Berau Kaltim (Biro Komunikasi Kemenparekraf)

BERAU | Gerakan Pakai Masker mulai didorong oleh pemerintah, baik di pusat maupun di daerah. Ini adalah upaya mencegah penyebaran dan memutuskan mata rantai pandemi covid-19.

Gerakan Pakai Masker (GPM) sebagai bagian dari protokol kesehatan dalam mencegah penyebaran covid-19 menjadi langkah awal bagi dibukanya kembali aktivitas pariwisata di Berau, Kalimantan Timur.

Wakil Bupati Berau Agus Tantomo di Berau, Rabu, mengatakan, GPM disinergikan dengan gerakan BISA (Bersih, Indah, Sehat, dan Aman), menandai aktivasi kembali destinasi wisata di wilayahnya usai vakum akibat pandemi covid-19.

“Kami optimistis, pariwisata Berau secara menyeluruh akan bangkit. COVID-19 juga akan terus terkendali, apalagi protokol kesehatan dijalankan sangat ketat di sini,” ungkap Agus, sebagaimana dilansir dari Antara, Rabu (26/8/2020).

Dua gerakan tersebut diluncurkan secara resmi mulai 25 Agustus 2020 di Labuan Cermin, Biduk-Biduk, Berau, Kalimantan Timur.

Gerakan Pakai Masker untuk mewujudkan kesadaran masyarakat

GPM diharapkan dapat membantu mewujudkan masyarakat Indonesia yang memiliki kesadaran tinggi dalam memakai masker secara benar sebagai kebiasaan dan perilaku sehari-hari.

“Gerakan kampanye publik ini mengubah perilaku masyarakat untuk memakai masker. Salah satu tolok ukur keberhasilannya adalah adanya perubahan perilaku masyarakat yang merasa malu jika keluar rumah tanpa pakai masker,” katanya.

Pihaknya berharap dapat mengedukasi masyarakat untuk memakai masker dengan cara yang benar. Sebab terbukti dengan pemakaian masker yang benar, maka akan menurunkan risiko tertular dan menularkan COVID-19 hingga 75 persen.

“Karena itulah GPM berkomitmen mengedukasi masyarakat untuk memakai masker dengan cara yang benar,” katanya.

GPM diinisiasi sejumlah tokoh masyarakat, tokoh agama, jurnalis senior, tokoh perempuan dan para profesional di antaranya Sigit Pramono, K.H. Mustofa Bisri, Goenawan Mohamad, Adi Harsono, Agus Martowardojo, Peter Gontha, Ustaz Yusuf Mansur, Romo Mudji Sutrisno, dan lainnya.

Gerakan Pakai Masker dipilih menjadi salah satu program karena memakai masker adalah sebuah upaya minimal yang harus dilakukan masyarakat untuk mencegah penularan virus COVID-19. Agus menambahkan GPM juga diinisiasi oleh masyarakat yang peduli terhadap destinasi wisatanya.

“GPM adalah murni sebuah gerakan dari masyarakat, oleh masyarakat, dan untuk masyarakat yang terkena dampak krisis akibat pandemi COVID-19. Gerakan ini terbuka untuk siapapun dengan latar belakang apapun, independen, dan tidak berafiliasi dengan pihak manapun,” lanjut Agus.

GPM sendiri adalah bagian dari Gerakan Masyarakat Hidup Sehat, atau Germas.

Peluncuran GPM diikuti oleh 100 orang peserta yang datang dari berbagai latar belakang, mulai pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif hingga masyarakat umum.

Hadir pada kesempatan itu Sekretaris Deputi Bidang Kebijakan Bidang Strategis Haryanto dan Wakil Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian.

“Gerakan Pakai Masker ini adalah yang pertama dilakukan di sini. Kami berharap dengan adanya gerakan ini semakin menguatkan kesadaran bersama akan ancaman COVID-19. Diiringi program BISA, kini destinasi Berau dijamin semakin aman dikunjungi,” kata Sekretaris Disbudpar Berau Abdul Majid.

Digulirkan dengan masif, program ini mengajak publik untuk selalu mengajak masyarakat untuk mencuci tangan dengan sabun, jaga jarak, dan menggunakan masker. Dipantik dari program ini, masyarakat di sekitar kawasan destinasi di Berau juga akan menyediakan fasilitas cuci tangan.

Sekretaris Deputi Bidang Kebijakan Bidang Strategis Kemenparekraf Haryanto menerangkan, publik di Berau menyambut antusias digulirkannya program BISA.

“Kebersihan, keindahan, kesehatan, dan keamanan harus diutamakan pada seluruh destinasi wisata di Berau. Mata rantai COVID-19 harus putus di sini. Dengan begitu, aktivitas pariwisata bisa normal kembali. Kepercayaan wisatawan tentu akan naik. Hal ini tentu akan memberikan dampak yang positif,” katanya.

Salah satu destinasi yang diaktivasi kembali adalah Pulau Sangalaki pada 10 Agustus 2020 yang ketika masa normal baru, destinasi ini sudah dibersihkan dan dilakukan pelepasan 1.500 tukik.

“Masa transisi nomal baru menjadi momentum yang positif. Harapan mendapatkan kembali akses ekonomi sangat terbuka. Kami merekomendasikan Berau sebagai destinasi yang wajib dikunjungi untuk melepas penat di masa transisi normal baru. Destinasi di sana tetap eksotis untuk dieksplorasi,” katanya.

Setelah Berau, program BISA melalui Gerakan Pakai Masker akan menyasar beberapa destinasi lainnya.

Pada 5-6 September 2020, progam tersebut akan digulirkan pada 3 destinasi di Jawa Timur meliputi Banyuwangi, Malang, dan Probolinggo. Selang sepekan berikutnya, program tersebut dilaunching di destinasi wisata Bali pada Sabtu (12/9).

“Kami berupaya terus memperkuat posisi tawar destinasi wisata. Trauma akibat COVID-19 harus segera dipulihkan, meski kita tetap menjalankan protokol kesehatan secara ketat,” pungkasnya. (sumber: Antara) (*) [HeloBorneo.com]

Bagi artikel ini
  • 3
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    3
    Shares