17 May, 2022

HeloBorneo.com

Kabar dari Tanah Borneo

BKIPM Tarakan Lakukan Pemusnahan Hasil Penangkapan Ikan Ilegal Dari Malaysia

Baru-baru ini, BKIPM Tarakan, Kalimantan Utara (Kaltara) melakukan kegiatan pemusnahan hasil penangkapan ikan ilegal yang berasal dari negara Malaysia. 

_____________________________________________

BKIPM Tarakan
HeloBorneo.com — Pemusnahan hasil penangkapan ikan ilegal, Jumat (19/2/2021). (Foto: Humas BKIPM)

 

TARAKAN |  Balai Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (Balai KIPM) Tarakan memusnahkan 700 kg ikan segar ilegal yang dikirim dari Malaysia. Pemusnahan ini bertujuan untuk memberikan peringatan agar kejadian serupa tidak terulang.

Komoditas perikanan ini sendiri disita petugas wilayah kerja (Wilker) KIPM Nunukan setelah berkoordinas dengan tim Lanal Nunukan pada Jumat 5 Februari 2021 silam.

Sebagaimana rilis yang diterima HeloBorneo.com, Sabtu (20/2/2021), pemusnahan ikan ilegal ini dilakukan pada Jumat (19/2/2021).

Kepala Balai KIPM Tarakan Umar memaparkan kronologi kasus ini bermula saat tim Lanal Nunukan yang sedang patroli menghentikan sebuah perahu. Penghentian tersebut terjadi di perairan Gosong Makassar Nunukan pada posisi 4° 0.820´N 117° sekira pukul 01.51 WITA.

“Setelah diperiksa di lokasi penghentian didapatkan 20 box berisi ikan segar yang tidak dilengkapi dokumen Karantina dan dokumen lain yang di persyaratkan,” ujar Umar saat berada di lokasi pemusnahan, Jumat (19/2/2021).


BKIPM Tarakan
HeloBorneo.com — Kegiatan pemusnahan hasil penangkapan ikan ilegal dari Malaysia, Jumat (19/2/2021). (Foto: Humas BKIPM)

 

Gerak cepat BKIPM Tarakan 

Selanjutnya, sekira pukul 14.42 Wita, Lanal Nunukan menghubungi dan berkoordinasi dengan BKIPM Wilayah Kerja Nunukan, Kalimantan Utara. Umar menambahkan, jajarannya lalu menindaklanjuti adanya kasus tersebut dan mewajibkan para terlapor untuk membuat Surat Pernyataan.

Tak hanya itu, terhadap barang berupa ikan layang dan ruma-ruma sebanyak 20 box dengan volume 700 kg, dilakukan tindakan karantina yaitu penolakan, dimana ikan tersebut ditolak atau dikirim kembali ke negara asalnya yaitu Malaysia.

“Namun pemilik ikan mengkonfirmasi bahwa tidak akan mengirim ikan kembali ke Malaysia dan menyerahkan kepada pejabat karantina ikan untuk melakukan tindakan karantina selanjutnya yaitu Pemusnahan, sesuai pasal 16 ayat 1 dan pasl 48 UU No. 21 Tahun 2019,” tandas Umar. (*) [HeloBorneo.com]

Bagi artikel ini