22 September, 2021

HeloBorneo.com

Kabar dari Tanah Borneo

Soal Penyebab Banjir di Kalimantan Selatan, LIPI Bilang Begini

penyebab banjir di kalimantan selatan
HeloBorneo.com – Ilustrasi: Suasana saat Tim medis Dompet Dhuafa menggunakan perahu untuk menjangkau warga yang terdampak banjir di titik pengungsian di di Desa Paku Alam, Sungai Tabuk, Banjar, Kalimantan Selatan, Kamis (21/01/2021). (Foto: Dok.Sindonews)

BANJARMASIN | Penyebab banjir di Kalimantan Selatan hingga saat ini masih menjadi perdebatan. Bahkan, sejumlah pegiat lingkungan mengungkapkan bahwa banjir di Kalsel terjadi karena faktor penyerta seperti deforestasi hutan untuk lahan sawit dan pertambangan.

“Memang ini kejadiannya baru saja terjadi ya dan ini kejadiannya baru beberapa waktu yang lalu terjadi. Dan tentunya banyak sekali kepentingan yang memperlihatkan siapa sebenarnya yang bertanggung jawab atas bencana banjir di Kalimantan itu,” kata Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Iwan Ridwansyah dalam diskusi Sapa Media: Masyarakat Siaga Bencana 2021 secara virtual, Jumat (29/1/2021).

Beberapa pihak telah menganalisa soal penyebab banjir di Kalimantan Selatan

Iwan mengatakan, setiap lembaga telah mengeluarkan analisis terkait penyebab banjir di Kalimantan Selatan. Misalnya, kata Iwan, analisis dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) bahwa Kalimantan telah kehilangan hutan sampai 300.000 hektare.

“Kemudian juga BMKG juga sudah mengeluarkan kalau memang hujannya itu sangat ekstrem sekali dan digunakan parameter yang menjadi penyebab. Kemudian tidak lama kemudian sampai Bareskrim Polri juga mengeluarkan penyebabnya karena ada pasang di laut,” papar Iwan.


penyebab banjir di kalimantan selatan
HeloBorneo.com – Ilustrasi: Gedung LIPI. (Foto: SETKAB)

Jadi, kata Iwan, untuk menganalisis penyebab banjir di Kalimantan Selatan harus melihat data dari berbagai parameter. “Memang kita harus melakukan estimasi masing-masing parameter yang menyumbang berapa persen kejadian, kejadian banjir di Kalimantan Selatan itu. Dan tentunya estimasi analisis penyebab itu bisa dilakukan atau tidak dengan cepat mendapatkan jawabannya dengan tepat,” katanya.

Apalagi, kata Iwan, data spasial di luar Pulau Jawa tidak lengkap. “Karena memang di luar Jawa data spasial kita tidak begitu lengkap. Jadi misalnya kita perlu dapat pemahaman kita tidak hanya perlu data dari tabel-tabel untuk menganalisis penyebabnya. Kita perlu data spasialnya,” katanya.

“Dan kemudian data hujan, data hujan yang lebih teliti dengan skala yang zaman tentunya akan menganalisis lebih detail lagi apakah hujan itu yang jadi penyebab. Termasuk juga dari data pasang surut, seberapa besar si air pasang ini menahan air dan mengalir langsung ke laut,” kata Iwan.

Tentunya, analisis dari berbagai instansi harus diperhitungkan. “Itu harus kita simulasi, harus kita perhitungkan yang matematis ya, yang tentunya sebenarnya sekarang ada aplikasi-aplikasi yang bisa menampilkan ya, tapi data-datanya belum begitu detail,” katanya.

“Saya sebenarnya sedang mengumpulkan data-data, yang datanya tersebar di beberapa instansi lagi baik untuk tanahnya di LAPAN, dan hujannya dari BMKG. Nah itu kalau memang seluruhnya bersinergi tentunya tim analisisnya lebih cepat,” kata Iwan.

Lalu siapa yang berwenang melakukan analisis terkait penyebab banjir di Kalimantan Selatan ini?

“Terkait siapa yang berwenang melakukan analisis tentunya seluruhnya menurut undang-undang ada di Badan Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk menganalisis sebenarnya apa sih yang menjadi faktor penyebab. Tetapi harus didukung oleh peneliti-peneliti terkait kebencanaan itu tadi,” kata Iwan.

(sumber: Sindo) (*) [HeloBorneo.com]

Bagi artikel ini
  • 20
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    20
    Shares