25 September, 2021

HeloBorneo.com

Kabar dari Tanah Borneo

Tim Pakar ULM Sebut Dampak Banjir Penyebab Naiknya Kasus COVID-19 di Kalsel

Dampak banjir di Kalsel tidak hanya merusak rumah dan lahan pertanian warga, tapi juga dituding sebagai penyebab naiknya kasus positif COVID-19 di Kalsel sejak musibah banjir Kalsel di awal 2021 lalu.

_____________________________________________

COVID-19 di Kalsel, dampak banjir, musibah banjir kalsel
Dampak banjir di Kalsel tidak hanya merusak rumah dan lahan pertanian warga, tapi juga dituding sebagai penyebab naiknya kasus positif COVID-19 di Kalsel. | HeloBorneo.com — Ilustrasi COVID-19. (Foto: diambil dari covid19goid)

 

BANJARMASIN | Anggota Tim Pakar Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin untuk Percepatan Penanganan COVID-19 Prof Dr dr Syamsul Arifin MPd menyebut peningkatan kasus COVID-19 di Kalimantan Selatan dua bulan terakhir sebagai dampak banjir dan mobilitas tak terkendali.

“Hampir semua provinsi di Indonesia rerata kasus harian mulai menurun tetapi tidak dengan Kalimantan Selatan, justru meningkat signifikan. Ini harus dievaluasi faktor pemicunya,” kata dia di Banjarmasin, Selasa (16/3/2021).

Syamsul mengungkapkan, kasus aktif dalam dua bulan terakhir di Kalsel meningkat dua kali lipat jika dibandingkan per 14 maret 2021 mencapai 2.241 dari tanggal 14 Januari 2021 dengan jumlah kasus aktif 1.128.


COVID-19 di Kalsel, dampak banjir, musibah banjir kalsel
HeloBorneo.com — Banjir melanda kawasan Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan, Kamis (14/1/2021). (FOTO ANTARA/HO-BPBD Tapin/ist)

Banjir jadi salah satu faktor penyebab naiknya kasus COVID-19 di KalselĀ 

Beberapa faktor yang dapat menyebabkan peningkatan kasus positif COVID-19 di Kalsel itu, antara lain sebagai dampak musibah banjir pada awal tahun tadi. Hal ini berdampak pada menurunnya penerapan protokol kesehatan oleh masyarakat.

“Di samping kondisi banjir menyebabkan daya tahan tubuh warga menurun akibat hieginitas dan sanitasi yang kurang baik,” cetus Guru Besar Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran ULM itu.

Kemudian Syamsul juga menganalisa mobilitas masyarakat pada minggu pertama bulan Maret menunjukkan pembatasan yang mulai berkurang. Berdasarkan data peningkatan mobilitas terutama untuk kegiatan transportasi dan kegiatan kerja sekitar 15 persen.

Mobilitas berdampak pada kecenderungan transmisi COVID-19 menjadi kurang terkontrol, terutama yang tertular dari orang-orang yang tanpa gejala. Di sisi lain, munculnya kasus Corona B.117 sebagai varian baru di Kalimantan selatan juga dingatkan Syamsul perlu diwaspadai. Dimana kasus pertama ditemukan pada seorang perempuan yang berumur 46 tahun awal Jawa Barat yang mengunjungi suaminya di Kabupaten Tapin.

“Tingkat penularan varian baru ini lebih tinggi dibandingkan dengan varian lama. Jadi, masyarakat harus lebih waspada lagi menjaga kesehatan diri. Pastikan protokol kesehatan mutlak disiplin diterapkan,” tandasnya. (Sumber: Antara) (*) [HeloBorneo.com]

Bagi artikel ini
  • 4
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    4
    Shares