1 October, 2020

HeloBorneo.com

Kabar dari Tanah Borneo

Wali Kota Singkawang Minta Masyarakat Tak Terpecah Akibat Polemik Pos Satpam

3 min read
Wali Kota Singkawang, Tjhai Chui Mie. (Foto: Antara/Rudi)

HeloBorneo.com – SINGKAWANG | Masyarakat Singkawang diharapkan tidak terpecah belah hanya karena polemik pos satpam yang diributkan di media sosial (medsos).

Wali Kota Singkawang, Tjhai Chui Mie mengharapkan hal tersebut mengingat polemik yang berkembang saat ini terkait langgam desain yang dipakai pada pembangunan pos satpam di Dinas Pendidikan dan Budaya (Disdikbud) setempat yang dibangun dengan bercirikan rumah adat Tionghoa.

“Pos Satpam ini menjadi viral di medsos beberapa hari terakhir dan menyebabkan pro dan kontra. Pembangunan pos satpam tersebut pun menjadi kontroversial (perdebatan) bagi warga Net, karena dinilai terlalu menonjolkan etnis tertentu,” jelas Tjhai Chui Mie di Singawang, Minggu (1/12/2019) sebagaimana dilansir dari Antara.

Wali Kota Singkawang ini mengungkapkan bahwa pembangunan pos satpam yang bercirikan rumah adat Tionghoa itu adalah kreatif dari Kepala Disdikbud Singkawang. Hal tersebut sesuai dengan imbauan sang Wali Kota, dimana setiap pertemuan, Tjhai Chui Mie selalu mengimbau kepada Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) untuk bisa berinovasi dan kreatif dibidangnya masing-masing.

Alasan Pemilihan Ciri Arsitektur Tionghoa

Tjhai Chui Mie menyebutkan alasan pemilihan ciri arsitektur Tionghoa pada pembangunan pos satpam, sebagaimana keterangan dari Kepala Disdikbud Singkawang terkait pembangunan pos satpam tersebut.

Pertama, sejalan dengan perayaan warga keturunan Tionghoa yang tidak lama lagi akan menghadapi Festival Imlek dan Cap Go Meh.

Kedua, letak kantor yang cukup strategis. Sebagaimana diketahui, kantor Disdikbud Singkawang terletak di pinggir Jalan Alian. Jalan tersebut merupakan jalan utama menuju Kabupaten Sambas. Harapannya, pembangunan ini merupakan salah satu ide dari beliau untuk memancing masyarakat luar datang ke Kota Singkawang untuk menghadiri dan menyaksikan Festival Imlek dan Cap Go Meh yang sudah Go International.

Ketiga, memperlihatkan keberagaman budaya. Menurut Tjhai Chui Mie, ketika dirinya melakukan peninjauan ke tempat tersebut, tidak jauh dari kantor Disdikbud Singkawang itu juga ada bangunan kantin berciri arsitektur Dayak. Jadi, pemilihan arsitektur berciri Tionghoa untuk memperlihatkan keberagaman yang terdapat di Singkawang.

“Saya tinjau ke belakang Kantor Disdikbud ternyata ada bangunan kantin yang berciri khas Dayak,” jelas Wali Kota Singkawang Tjhai Chui Mie.

Berharap Masyarakat Makin Kreatif

Wali Kota Singkawang Tjhai Chui Mie mengharapkan masyarakat Singkawang menggunakan kreativitas untuk menciptakan dan membangun kota tersebut. Hal tersebut sesuai dengan visi misinya membuat Kota Singkawang menjadi kota yang disenangi, meriah dan menarik bagi pengunjung.

Terlebih, karena tidak lama lagi umat Kristiani akan menghadapi hari raya Natal dan Tahun baru. Ia menyebutkan Disdikbud Singkawang juga akan membuat pernak pernik Natal di depan kantor.

“Seperti Dinas Perkimta dia sudah bangun kurang lebih 100 gang paving warna warni dan di atasnya terserah mau dihias dengan caping atau payung. Tergantung dari kreativitas dinas masing-masing,” ungkap Tjhai Chui Mie.

Masyarakat Singkawang Harus Punya Jiwa Merah Putih 

Tjhai Chui Mie juga sangat berharap masyarakat Singkawang memiliki jiwa merah putih untuk membangun Singkawang. Terlebih, karena Indonesia adalah negara besar yang terdiri dari berbagai etnis dan budaya.

“Untuk itu, mari kita hargai budaya dan etnis yang ada khususnya di Kota Singkawang. Karena Singkawang merupakan multi etnis, tertoleran dan kita merupakan miniaturnya Indonesia dan NKRI yang ada di Singkawang” demikian ungkap Tjhai Chui Mie.

Penjelasan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Singkawang 

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Singkawang, HM Nadjib mengatakan, pembangunan pos satpam dan kantin yang bercirikan khas etnis tertentu, tidak ada maksud lain selain ingin punya bangunan yang unik dan menarik serta memberikan nuansa estetika keberagaman budaya di beberapa bangunan di Kantor Disdikbud.

Apalagi dinas yang dipimpinnya, selain mengelola pendidikan juga mengelola kebudayaan yang selalu mengedepankan nilai-nilai toleransi, persatuan dan kebersamaan. “Jadi semua itu yang selalu kita tumbuhkan didalam dunia pendidikan,” ujarnya.

Pihaknya pun berupaya untuk membuktikan dengan perbuatan yang nyata tanpa harus menjelek-jelekkan. Semua akan diakomodir mengingat ada 17 etnis nusantara yang pihaknya bina.

HM Nadjib meminta masyarakat dewasa dalam bersikap dan bertingkah laku. Ia meminta masyarakat menyadari bahwa Indonesia adalah negara multi etnis, dan tidak perlu mempermasalahkan perbedaan.

“Bahwa kita benar-benar multi etnis. Tidak perlu mempermasalahkan hal yang berbeda. Justru hal yang berbeda itu akan indah kalau kita bisa mengelolanya dengan baik,” pungkasnya.

(HB)

Bagi artikel ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *