Tue. Jul 14th, 2020

HeloBorneo.com

Kabar dari Tanah Borneo

Soal Sultan Hamid II, Ini Respons Tegas Sutarmidji

2 min read
Respons tegas Sutarmidji
HeloBorneo.com – Sutarmidji saat mengikuti virtual meeting yang membahas Sultan Hamid II, Ahad (21/6/2020). (HB)

PONTIANAK | Respons tegas Sutarmidji soal Sultan Hamid II menjawab polemik yang berkembang akhir-akhir ini akibat tudingan dari Hendropriyono kepada tokoh Kalbar itu.

Menurut Gubernur Kalimantan Barat Sutarmidji, terlepas apakah Sultan Hamid II itu diakui atau tidak sebagai pahlawan nasional, secara pribadi dirinya mengatakan bahwa Sultan Hamid II adalah tokoh dan pahlawan bagi masyarakat Pontianak dan Kalimantan Barat (Kalbar).

Saat mengikuti virtual meeting dengan tema “Sultan Hamid II Pengkhianat atau Pahlawan”, Ahad (21/6/2020) Sutarmidji menyatakan bahwa Sultan Hamid II adalah pahlawan.

“Diakui atau tidak diakuinya Sultan Hamid II sebagai Pahlawan Nasional, beliau adalah pahlawan bagi kita,” ujarnya.

Respons tegas Sutarmidji
HeloBorneo.com – virtual meeting

Lebih lanjut, Sutarmidji menyampaikan peranan yang dilakukan Sultan Hamid II pada masa awal-awal kemerdekaan Indonesia, termasuk juga upaya beliau agar pihak Belanda mengakui kedaulatan Indonesia secara utuh.

Perancang Lambang Negara

Respons tegas Sutarmidji
HeloBorneo.com – Sultan Hamid II (wiki)

Sutarmidji juga menjelaskan peranan Sultan Hamid II soal perancang lambang negara, Garuda Pancasila. Setelah melalui kajian yuridis formal, hasilnya memang terbukti bahwa seluruh dokumen menerangkan bahwa Sultan Hamid II sebagai perancang lambang negara.

Sebagai informasi, sosok Sultan Hamid II yang merupakan pria keturunan etnis Arab ini menjabat Menteri Negara Zonder Portofolio Republik Indonesia Serikat(RIS) pada 1949. Setahun kemudian, Presiden Sukarno menugaskan Sultan Hamid II untuk merencanakan, merancang, serta merumuskan lambang negara yang baru terbentuk itu.

Kemudian, Panitia Teknis dengan nama Panitia Lencana Negara dibentuk pada 10 Januari 1950 dibentuk. Setelah melalui proses, terpilih dua rancangan lambang negara terbaik, yaitu karya Sultan Hamid II dan karya M Yamin. Akhirnya, rancangan lambang negara karya Sultan Hamid II dipilih dan diterima pemerintah dan DPR. Rancangan tersebut lantas melalui beberapa proses penyempurnaan, hingga menjadi bentuk Garuda Pancasila yang dikenal publik hingga saat ini.

Penggagas Nama Jalan

Pengakuan Ketokohan Sultan Hamid II ini juga yang membuat Sutarmidji saat menempati posisi sebagai legislator DPRD Kota Pontianak menjadi sosok yang menggagas penggunaan nama Sultan Hamid II sebagai nama jalan di Kota Pontianak, menggantikan jalan Perintis Kemerdekaan.

“Saya orang pertama kali yang menggagas pada tahun 1999 hingga 2000, bersama almarhum Sy Ahmad untuk mengubah Jalan Perintis Kemerdekaan menjadi jalan Sultan Hamid II. Itu semua bisa dilihat di DPRD Kota Pontianak karena saat itu saya sebagai anggota DPRD,” jelas Sutarmidji.

Respons Tegas Sutarmidji Soal Penolakan

Sutarmidji juga menceritakan proses pengajuan nama Sultan Hamid II, bersama-sama dengan Pangeran NAtakusuma dan J.C Oevang Oeray menjadi Pahlawan Nasional yang lantas ditolak pemerintah. “Hal yang terakhir pengajuan Sultan Hamid II sebagai Pahlawan Nasional yang ditolak bersama dengan pengajuan Pangeran Nata Kusuma dan J.C Oevang Oeray,” jelas Gubernur Kalbar itu.

Menurutnya, penolakan Sultan Hamid II sebagai Pahlawan Nasional berbau tendensius. Dirinya pun menyarankan agar dilakukan kajian secara komprehensif tentang sosok Sultan Hamid II sebagai sosok pahlawan nasional. (*) [HeloBorneo.com]

 

Suka artikel ini? Silakan bagikan melalui media sosial anda: